Aktivasi implan koklea merupakan tahapan penanganan gangguan pendengaran. Momen tersebut menjadi awal harapan baru bagi Muhammad Zain Ramadani untuk mengenal suara dan mengejar ketertinggalan dalam kemampuan berkomunikasi.
BANJAR, koranbanjar.com – Zain, anak berusia delapan tahun, mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Ia lahir prematur saat usia kandungan ibunya sekitar tujuh bulan. Kondisi pendengarannya baru diketahui keluarga ketika usianya sekitar tiga setengah tahun.
Sebelum menjalani pemasangan implan koklea, Zain telah menggunakan alat bantu dengar (ABD). Namun, hasilnya belum optimal, sehingga keluarga berupaya mendapatkan penanganan lebih lanjut, hingga akhirnya Zain menjalani pemasangan implan koklea di RSUD Ratu Zalecha Martapura, Kabupaten Banjar.
Kini, setelah perangkat tersebut diaktifkan, perjalanan Zain memasuki tahap penting. Ia harus belajar mengenali suara secara bertahap melalui penggunaan perangkat secara rutin dan terapi yang berkelanjutan.
Ayah Zain, Tanji, mengatakan, perangkat implan koklea harus digunakan setiap hari agar anaknya dapat beradaptasi dengan suara yang sebelumnya tidak dapat didengar secara normal.
“Dalam satu hari minimal 10 jam katanya,” ujar Tanji, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, penggunaan perangkat secara konsisten diharapkan membantu Zain mengejar ketertinggalan kemampuan mendengar, mengingat pemasangan implan baru dilakukan ketika usianya enam tahun.
“Dia agak telat masangnya, enam tahun. Jadi supaya ngejar, supaya lebih banyak pemakaiannya,” katanya.
Pada tahap awal aktivasi, pengaturan suara tidak langsung diberikan dengan volume tinggi. Tingkat suara disesuaikan secara bertahap agar pasien dapat beradaptasi dengan rangsangan suara yang diterima.
Tanji menjelaskan, program suara dimulai dari tingkat paling rendah. Selanjutnya, pengaturan akan ditingkatkan setelah beberapa hari melalui proses mapping atau pemetaan suara untuk menyesuaikan perangkat dengan kebutuhan pendengaran pasien.
“Dari suara paling kecil dulu, terus dinaikkan nanti. Nunggu beberapa hari, dua sampai tiga hari sampai lima hari, baru dinaikkan programnya. Nanti ada mapping juga buat penyesuaian,” jelasnya.
Dokter spesialis THT RSUD Ratu Zalecha, dr. Sri Sofia Wahyuni, Sp.T.H.T.B.K.L., menjelaskan, gangguan pendengaran berat pada anak dapat berdampak besar terhadap perkembangan kemampuan bicara dan bahasa.
Sebab, kemampuan mendengar menjadi salah satu dasar bagi anak untuk mengenali suara, memahami bahasa, kemudian belajar berbicara.
“Anak-anak ini memang ada gangguan pendengaran sejak lahir, dan pendengarannya sangat berat. Gangguan pendengaran yang sangat berat ini sangat mempengaruhi perkembangan bicaranya, karena anak bisa belajar berbicara kan harus bisa mendengar dulu,” jelas Sri Sofia.
Ia menerangkan, gangguan pendengaran pada anak terkadang baru diketahui ketika orang tua menyadari adanya keterlambatan perkembangan bicara.
Jika ditemukan indikasi tersebut, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kondisi pendengaran anak dan menentukan penanganan yang sesuai.
Pada pasien dengan gangguan pendengaran sangat berat, alat bantu dengar terkadang belum memberikan manfaat yang optimal.
Dalam kondisi tertentu, implan koklea dapat menjadi salah satu pilihan penanganan berdasarkan hasil evaluasi medis.
Sri Sofia menegaskan, semakin dini gangguan pendengaran diketahui dan mendapatkan intervensi, semakin baik peluang anak untuk mengembangkan kemampuan bahasa.
“Semakin dini semakin baik, karena ini berkaitan dengan proses perkembangan bicara,” ujarnya saat menjelaskan mengenai batas usia pemasangan implan koklea.
Menurutnya, usia hingga tiga tahun merupakan periode penting dalam perkembangan bahasa anak. Karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat diperlukan agar anak tidak kehilangan kesempatan penting dalam proses perkembangan komunikasinya.
Sri Sofia menekankan, pemasangan dan aktivasi implan koklea bukanlah akhir dari proses penanganan.
Sebaliknya, setelah perangkat diaktifkan anak memasuki tahapan penting untuk belajar mengenali suara, memahami bunyi, hingga mengembangkan kemampuan berbahasa.
Proses tersebut membutuhkan terapi bicara secara rutin serta keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak berlatih setiap hari.
“Ini bukan akhir dari suatu proses. Proses yang lebih penting adalah pascaoperasi. Perkembangan anak untuk mendengar, kemudian memahami suara dan perkembangan bahasa dari sinilah dimulai,” katanya.
Ia menjelaskan, waktu anak menjalani terapi di klinik relatif terbatas. Oleh sebab itu, latihan di rumah menjadi bagian penting untuk mendukung perkembangan kemampuan mendengar dan berbicara.
Orang tua diharapkan terus berinteraksi dengan anak, memberikan respons terhadap suara, melakukan latihan secara rutin, serta mencatat setiap perkembangan yang terlihat.
“Orang tua adalah mitra utama tim implan. Semua proses perkembangan bicara harus dicatat orang tua dan dikomunikasikan dengan pihak yang menangani alat,” ujar Sri Sofia.
Bagi Tanji dan keluarganya, perjalanan Zain untuk belajar mendengar masih panjang. Tanji juga mengungkapkan, perangkat yang digunakan anaknya tersebut dibeli secara pribadi.
Kini, keluarga berharap proses adaptasi dan terapi Zain berjalan baik. Mereka ingin anaknya perlahan mampu mengenali suara di sekitarnya, memahami bahasa, dan mengembangkan kemampuan komunikasi. (kan/bay)













