Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, berlangsung di tengah tekanan yang dihadapi petani akibat kekeringan dan serangan hama penyakit tanaman. Selain menekan risiko kebakaran melalui pengolahan lahan tanpa bakar, dukungan pemerintah juga dibutuhkan untuk membantu petani mempersiapkan musim tanam berikutnya.
BANJAR, koranbanjar.com – Persoalan tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, memantau pengolahan lahan pertanian di Desa Malintang, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Minggu (11/10/2026).
Dalam kegiatan itu, pemerintah memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk membalik jerami di lahan seluas 20 hektare. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi kebutuhan pembakaran sisa tanaman yang berpotensi memicu kebakaran lahan.
Hanif didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel Rahmat Prapto Udoyo, serta Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso.
Rombongan juga berdialog dengan Mantri Tani Kecamatan Gambut, Enny Risanthi, penyuluh pertanian, dan kelompok tani setempat untuk melihat pelaksanaan pengolahan lahan sekaligus mendengarkan kondisi pertanian di wilayah tersebut.
Enny mengungkapkan, produksi padi di wilayahnya mengalami penurunan akibat kekeringan dan serangan hama penyakit tanaman. Kondisi tersebut bahkan menyebabkan sejumlah petani mengalami gagal panen karena kekurangan air.
Situasi ini membuat dukungan pengolahan lahan menjadi penting, terutama bagi petani yang harus mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya di tengah keterbatasan hasil produksi.
“Dengan bantuan dari Kemenko Pangan ini, setidaknya pengolahan lahan untuk tanam musim pertama mereka tidak mengeluarkan biaya sendiri lagi,” ujar Enny.
Menurutnya, pembalikan jerami dilakukan menggunakan traktor roda empat yang dilengkapi alat rotary. Alsintan tersebut berasal dari Brigade Pangan dan digunakan untuk mengolah lahan pertanian yang belum terbakar.
“Dalam beberapa hari ini, lahan yang belum terbakar bisa kita balik jeraminya untuk mencegah meluasnya kebakaran lahan,” katanya.
Enny menjelaskan, metode pengolahan tanpa bakar memberikan manfaat ganda. Selain menjadi salah satu langkah mengurangi risiko karhutla, penggunaan alsintan juga membantu meringankan biaya yang harus dikeluarkan petani dalam mempersiapkan lahan.
Kendati demikian, persoalan kekeringan dan gagal panen menunjukkan bahwa tantangan pertanian tidak hanya berkaitan dengan kesiapan lahan. Ketersediaan air dan gangguan organisme pengganggu tanaman juga menjadi faktor yang memengaruhi hasil produksi petani.
Ketua Umum APHI Soewarso menilai pengolahan lahan tanpa bakar berpotensi menjadi salah satu model pencegahan karhutla yang dapat dikembangkan di wilayah lain.
Menurutnya, keberhasilan pendekatan tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat serta koordinasi berbagai pemangku kepentingan agar petani memiliki dukungan yang memadai untuk menerapkan metode pengolahan lahan tanpa pembakaran.
“Ini konsep model pencegahan kebakaran yang saya kira efektif. Masyarakat sudah memahami bahwa pembakaran juga berdampak terhadap organisme dan lingkungan. Tinggal bagaimana mengorganisasi semua pemangku kepentingan untuk membantu model seperti ini,” ungkap Soewarso.
Ia menjelaskan, pembalikan jerami menggunakan traktor dapat menjadi alternatif untuk mengolah sisa tanaman tanpa harus membakarnya. Pembakaran berisiko memicu kebakaran yang meluas sekaligus mengganggu organisme tanah yang berperan dalam penguraian bahan organik dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Karena itu, dukungan alsintan dan pendampingan kepada petani dinilai penting agar pengolahan lahan tanpa bakar dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Di Kabupaten Banjar, upaya pencegahan karhutla tersebut berjalan beriringan dengan kebutuhan petani untuk mempertahankan produktivitas pertanian. Bantuan pengolahan lahan dapat meringankan sebagian beban biaya, tetapi persoalan kekeringan, penurunan produksi, dan gagal panen tetap membutuhkan perhatian.
Ke depan, keberlanjutan program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya alsintan, tetapi juga oleh dukungan terhadap kebutuhan dasar pertanian, termasuk pengelolaan air dan penanganan hama penyakit tanaman.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, pencegahan karhutla diharapkan tidak berhenti pada pengolahan lahan tanpa bakar, tetapi juga mendukung keberlangsungan usaha pertanian dan penghidupan masyarakat. (mc/kbc)













