Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang di Kalimantan Selatan diperkuat melalui rencana pengerahan 45 unit mobil tangki untuk mendukung pembasahan kawasan rawan kebakaran. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan sekitar 1.650 hektare lahan gambut yang menjadi prioritas pemerintah.
BANJAR, koranbanjar.com – Sebanyak 15 unit mobil tangki disiapkan Korem 101/Antasari, sedangkan sekitar 30 unit lainnya direncanakan berasal dari dukungan pihak swasta. Seluruh sarana tersebut akan diarahkan untuk mendukung penanganan di lokasi prioritas sesuai kondisi lapangan.
Selain pengerahan mobil tangki, pemerintah menyiapkan langkah pembasahan gambut melalui peningkatan muka air Sungai Martapura. Upaya ini direncanakan dengan dukungan Balai Wilayah Sungai (BWS), sehingga air dapat dimanfaatkan untuk membasahi kembali kawasan yang berpotensi terbakar.
Pembasahan gambut menjadi salah satu langkah yang dipersiapkan untuk menekan risiko kebakaran. Namun, pelaksanaannya memerlukan koordinasi teknis agar ketersediaan air dapat menjangkau kawasan sasaran secara efektif.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, penanganan kawasan prioritas akan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan personel TNI, Polri, serta unsur dunia usaha.
Menurutnya, seluruh sumber daya yang disiapkan harus diarahkan secara terfokus agar pelaksanaan penanganan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Evaluasi juga akan dilakukan dengan mengikuti perkembangan kondisi kawasan yang menjadi sasaran.
Selain mobil tangki, hampir 50 unit peralatan pembalik tanah direncanakan untuk mendukung penanganan lahan pertanian.
Dukungan peralatan tersebut diharapkan membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan, khususnya pada kawasan yang membutuhkan penanganan sesuai karakteristik lahan dan kondisi setempat.
Hanif menyebut, upaya pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan perusahaan dan masyarakat, terutama dalam memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan kawasan rawan kebakaran.
Karena itu, sekitar 350 pelaku usaha di Kalimantan Selatan diajak berkontribusi melalui penyediaan personel maupun peralatan pendukung.
Dengan dukungan lintas sektor tersebut, pemerintah berharap penanganan pada sekitar 1.650 hektare kawasan gambut prioritas dapat berjalan sesuai target dan mampu menekan potensi kebakaran berulang di Kalimantan Selatan.
Meski demikian, efektivitas langkah tersebut akan bergantung pada realisasi pengerahan peralatan, kecukupan pasokan air, serta konsistensi penanganan di lokasi rawan. (kan/bay)













