Podcast OBLIGASI Bank Kalsel, Wali Kota Banjarmasin Ajak Warga Kolaborasi Pilah Sampah

Podcast OBLIGASI (Obrolan Lintas Generasi) yang ditayangkan di kanal YouTube resmi Bank Kalsel, Rabu (30/9/2026). (Foto: Bank Kalsel/Koranbanjar.com)

Persoalan pengelolaan sampah di Kota Banjarmasin terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dalam rangka mencari solusi dan meningkatkan kesadaran masyarakat, Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR, hadir memaparkan strategi pemerintah kota melalui podcast OBLIGASI (Obrolan Lintas Generasi) yang ditayangkan di kanal YouTube resmi Bank Kalsel, Rabu (30/9/2026).

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Dalam bincang santai tersebut, H Muhammad Yamin menyoroti besarnya volume sampah dan tingginya biaya operasional pengangkutan. Saat ini, sebagian besar pembuangan akhir dialihkan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Banjarbakula karena TPA Basirih sedang dalam tahap rehabilitasi.

“Selama ini kita diberikan kuota oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi untuk ke Banjarbakula. Awalnya sekitar 100 ton, lalu naik jadi 200 hingga 300 ton. Biayanya cukup besar karena kita belum terlalu maksimal melakukan pemilahan sampah,” ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin saat ini fokus mengoptimalkan fasilitas TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dan Pusat Daur Ulang (PDU).

Melalui fasilitas ini, sampah dari warga didaur ulang terlebih dahulu sehingga hanya menyisakan sekitar 20-25 persen residu yang kemudian diangkut ke TPA Banjarbakula.

Wali Kota Banjarmasin juga menekankan bahwa mengubah kebiasaan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memilah sampah dari rumah bukanlah hal yang instan.

“Merubah habit kebiasaan masyarakat itu tidak mudah, berbeda dengan negara seperti Jepang atau Singapura yang kesadarannya sudah sangat tinggi. Namun, kami sangat mengapresiasi masyarakat Banjarmasin yang kini perlahan sudah mulai terbiasa memilah dan mengurangi sampah,” tuturnya.

Di samping itu, ia menanggapi keluhan warga yang sudah memilah sampah organik dan non-organik di rumah, namun tercampur kembali saat diangkut oleh petugas kebersihan (paman gerobak) di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Menurutnya, hal ini membutuhkan evaluasi dan pengawasan ketat, karena perubahan kebiasaan tidak hanya dituntut pada masyarakat umum, tetapi juga para petugas pengangkut sampah.

Ke depan, Pemko Banjarmasin telah merencanakan sejumlah inovasi pengelolaan sampah berkelanjutan. Beberapa opsi yang tengah dikaji antara lain pengolahan sampah menjadi biji plastik, budidaya maggot, hingga menjadikannya Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar industri semen. Pemko juga secara tegas akan menutup TPS-TPS liar yang ada di sudut-sudut kota.

Dukungan terhadap program kebersihan kota ini juga datang dari berbagai pemangku kepentingan, salah satunya Bank Kalsel. Bank daerah tersebut telah menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membangun fasilitas bank sampah permanen.

Tidak hanya bantuan fisik, Bank Kalsel juga menerapkan gaya hidup ramah lingkungan (eco-friendly) secara internal. Penggunaan plastik sekali pakai mulai dikurangi drastis, diganti dengan amplop berbahan kertas, serta kampanye mewajibkan penggunaan tumbler minuman bagi karyawannya.

Di akhir perbincangan, H Muhammad Yamin menyampaikan pesan dan ajakan khusus kepada warga Banjarmasin.

“Sampah ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah, tapi butuh kolaborasi dengan pengusaha, perhotelan, restoran, dan seluruh elemen masyarakat. Ayolah kita bahu-membahu melakukan pemilahan sampah dari sumbernya, agar Banjarmasin yang kita cintai ini bisa bersih, enak dipandang, serta mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera,” tutupnya. (bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *