Krisis air baku akibat meningkatnya intrusi air laut mulai berdampak langsung terhadap pelayanan air perpipaan di Kota Banjarmasin. PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda) menyiapkan distribusi air yang diperuntukkan khusus bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) mulai Selasa, 22 September 2026.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Kebijakan tersebut menyasar pelanggan di sejumlah wilayah Kecamatan Banjarmasin Barat, Banjarmasin Tengah, dan Banjarmasin Utara yang terdampak kondisi sumber air baku di Sungai Bilu.
Informasi dalam pengumuman pelayanan PAM Bandarmasih, Senin (21/9/2026) menyebutkan, keputusan tersebut merupakan tindak lanjut hasil audiensi yang dilakukan di tiga kecamatan.
Sebanyak 70 persen peserta audiensi menyatakan setuju terhadap distribusi air untuk keperluan MCK sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah kondisi air baku yang terdampak intrusi air laut.
Namun, ada satu catatan penting yang tidak boleh luput dari perhatian masyarakat. Air yang didistribusikan tersebut tidak dapat digunakan untuk minum maupun memasak. Air hanya diperuntukkan bagi kebutuhan MCK.
Tiga Kecamatan yang terdampak diantaranya Kecamatan Banjarmasin Barat, seluruh wilayah kecamatan disebut terdampak pengaliran air khusus untuk kebutuhan MCK.
Sementara di Kecamatan Banjarmasin Tengah, wilayah yang masuk dalam daftar terdampak meliputi, Lelurahan Teluk Dalam, Kelurahan Mawar, Kelurahan Kertak Baru Ilir, Kelurahan Kertak Baru Ulu, Kelurahan Pasar Lama,dan Kelurahan Antasan Besar.
Sedangkan di Kecamatan Banjarmasin Utara, wilayah terdampak meliputi, Kelurahan Pangeran, Kelurahan Kuin, Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan, Alalak Tengah, dan Kelurahan Alalak Utara.
PAM Bandarmasih menjelaskan, sumber air baku berasal dari Sungai Bilu. Kondisi sumber air tersebut terdampak intrusi air laut sehingga terjadi peningkatan kadar garam.
Air baku kemudian diolah di Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 di Jalan Ahmad Yani sebelum didistribusikan kepada pelanggan di wilayah terdampak.
PAM Bandarmasih sebelumnya telah menyampaikan bahwa intrusi air laut menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan air baku Banjarmasin.
PAM Bandarmasih menyebut pembahasan pemanfaatan air payau masih melalui proses audiensi dan pengumpulan masukan masyarakat.
Pihak perusahaan menegaskan bahwa keputusan yang berdampak langsung terhadap pelanggan harus mempertimbangkan aspek teknis, kualitas air, serta masukan masyarakat.
Pada audiensi di Kecamatan Banjarmasin Tengah, pihak kecamatan juga menyebut terdapat enam kelurahan yang terdampak persoalan krisis air dan peningkatan salinitas.
Dalam audiensi tersebut, opsi pengaliran air untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus menjadi salah satu alternatif yang dibahas PAM Bandarmasih sebelumnya.
PAM Bandarmasih juga telah melakukan langkah pelayanan darurat dengan menggandeng PMI untuk mendistribusikan air menggunakan mobil tangki kepada warga yang mengalami keterbatasan pasokan.
Dengan diberlakukannya distribusi air khusus MCK mulai 22 September, masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan peruntukan air tersebut.
Air untuk MCK bukan air layak konsumsi.
Karena itu, informasi kepada pelanggan harus disampaikan secara terbuka dan tidak menimbulkan tafsir bahwa air yang dialirkan dapat langsung digunakan untuk kebutuhan minum atau memasak.
Di sisi lain, PAM Bandarmasih menyatakan terus memantau kondisi sumber air baku serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengupayakan kualitas pelayanan kepada masyarakat kembali normal.
Persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa ketahanan sumber air baku Banjarmasin tidak hanya menyangkut pelayanan perusahaan air minum, tetapi menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat setiap hari.
Ketika air perpipaan harus dibedakan antara air untuk MCK dan air untuk konsumsi, persoalannya bukan lagi sekadar soal keran mengalir atau tidak. Yang sedang diuji adalah seberapa kuat sistem penyediaan air bersih kota menghadapi tekanan intrusi air laut. (yon/bay)













