DPRD Kabupaten Banjar bersama pemerintah daerah dan instansi terkait menyepakati langkah jangka pendek untuk mengatasi dampak kekeringan yang memicu kematian ikan di sejumlah wilayah budidaya.
BANJAR,koranbanjar.com – Salah satu solusi yang disepakati adalah membuka aliran irigasi secara bergantian guna meningkatkan pasokan air ke sungai.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Banjar, Rahmat Saleh, usai rapat gabungan empat komisi DPRD bersama dinas terkait, camat, kepala desa terdampak, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, Kamis (16/7/2026).
Rahmat mengatakan, hasil rapat menghasilkan komitmen dari BWS untuk membuka aliran sungai dan irigasi dalam waktu dekat.
“Alhamdulillah, hasil pembahasan hari ini, BWS siap membuka aliran sungai dan irigasi. Saat ini tinggal dirumuskan surat rekomendasi dari DPRD melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan kepada BWS. Insyaallah dalam dua hingga tiga hari ke depan teknis pelaksanaannya sudah selesai,” ujarnya.
Menurut Rahmat, pembukaan aliran air akan dilakukan secara bergantian agar kebutuhan sektor pertanian dan perikanan tetap dapat terpenuhi tanpa saling merugikan.
Ia menjelaskan, DPRD menjalankan fungsi pengawasan melalui mitra kerja, yakni Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan. Sejak April 2026, dinas tersebut telah mengimbau para pembudidaya ikan agar mengantisipasi potensi kekeringan dengan tidak menebar benih dalam jumlah besar.
“Ranah kami adalah melakukan pengawasan melalui dinas sebagai mitra kerja. Dinas juga sudah jauh-jauh hari mengingatkan pembudidaya tentang potensi surutnya air,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar, Hasan Hamdan, mengatakan pembukaan aliran air dari Sungai Riam Kanan menjadi kebutuhan mendesak karena kadar oksigen terlarut (DO) di perairan menurun akibat debit air yang rendah.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu kematian ikan dalam jumlah besar dan berdampak hingga ke sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Pengaron, Astambul, Martapura Barat, dan sekitarnya.
“Permintaan masyarakat adalah membuka aliran air dari Sungai Riam Kanan. Debit air yang rendah menyebabkan kadar oksigen berkurang sehingga ikan banyak yang mati. Dampaknya meluas ke beberapa wilayah,” jelas Hasan.
Ia menambahkan, DPRD meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan segera berkoordinasi dengan BWS agar pembukaan aliran air dapat direalisasikan secepatnya sehingga kerugian para pembudidaya tidak semakin besar.
Terkait munculnya bau tidak sedap di sekitar lokasi, Hasan menjelaskan kondisi tersebut disebabkan oleh banyaknya bangkai ikan yang membusuk, bukan karena pencemaran air.
Baunya berasal dari ikan-ikan yang mati dan membusuk.
“Dinas dan pihak kecamatan sebenarnya sudah menyampaikan surat dan berkoordinasi sejak jauh hari ke BWS, namun koordinasi yang ada dinilai belum berjalan optimal,” pungkasnya. (kan/dya)













