Religi  

Menelusuri Manakib Habib Basirih, Wali Allah dari Tanah Banua; Doa Sang Ayah dan Perjalanan Spiritual yang Penuh Hikmah

Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih). (Foto: Dok. Koranbanjar.com)

Di tengah kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan, nama Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau yang lebih dikenal dengan Habib Basirih memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Sosok yang dikenal sebagai salah seorang aulia Allah dari Tanah Banua ini menyimpan perjalanan hidup dan kisah spiritual yang sarat dengan pelajaran tentang keimanan, kecintaan kepada Allah SWT, serta kehidupan yang tidak semata-mata mengejar urusan duniawi.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Riwayat dan manakib beliau kembali dituturkan oleh salah seorang buyutnya, Habib Fatturrahman Bahasyim saat memperingati Haul Akbar Habib Basirih ke-80 di Jalan Kampung Wisata Religi Keramat Basirih Banjarmasin, Sabtu (31/10/2026) .

Melalui penuturan tersebut, masyarakat diajak menelusuri perjalanan kehidupan Habib Basirih, mulai dari silsilah keluarga, masa kehidupan bersama keluarga, hingga perjalanan spiritual yang menjadi bagian penting dalam riwayat beliau.

Dalam penuturannya, Habib Fatturrahman mengisahkan bahwa garis keluarga Habib Basirih berasal dari Hadramaut, Yaman. Ayah beliau, Habib Abbas Bahasyim, disebut memiliki hubungan dengan lingkungan pemerintahan Kesultanan Banjar dan menjalankan peran keagamaan pada masa itu.

Dari keluarga inilah kemudian lahir Habib Hamid, sosok yang kelak dikenal masyarakat dengan sebutan Habib Basirih.

Menariknya, kelahiran Habib Hamid tidak memiliki catatan tanggal yang pasti. Pada masa itu, pencatatan kelahiran belum dilakukan secara tertib sebagaimana sekarang. Karena itu, berdasarkan perkiraan riwayat keluarga, beliau diperkirakan lahir pada awal tahun 1800-an.

Namun, ada satu kisah yang menjadi bagian menarik dari awal kehidupan beliau, yakni doa sang ayah.

Habib Abbas Bahasyim disebut senantiasa memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak. Dalam doa dan harapannya, sang ayah juga memohon agar keturunannya kelak menjadi hamba Allah yang memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.

Dalam penuturan manakib tersebut, Habib Abbas memiliki firasat bahwa putranya kelak akan menjadi seorang wali Allah yang dikenal sebagai wali majdzub billah.

Kisah ini memberikan satu pelajaran mendalam: betapa pentingnya doa orang tua bagi kehidupan seorang anak. Sebab, manusia boleh merencanakan masa depan keturunannya, tetapi hanya Allah SWT yang mengetahui bagaimana perjalanan hidup dan kedudukan seorang hamba di sisi-Nya.

Berumah Tangga dengan Keturunan Bangsawan Banjar

Dalam perjalanan kehidupannya, Habib Hamid kemudian menikah dengan seorang perempuan dari keturunan bangsawan Banjar, yakni Busti Hamidah binti Busti Nuh bin Penghulu Muda Muhammad Saleh dari kawasan Tambak Anyar.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, terdiri atas seorang putra bernama Sayyid Hasan dan tiga orang putri, yakni Syarifah Asmah, Syarifah Hayati, serta Syarifah Maryam.

Sebagai seorang suami sekaligus ayah, Habib Hamid juga menjalani kehidupan keluarga. Namun, perjalanan hidup beliau kemudian memperlihatkan sisi lain yang berkaitan dengan kecenderungan spiritual dan kedalaman perenungan tentang ketuhanan.

Perjalanan Mencari Kedekatan dengan Allah SWT

Dalam penuturan Habib Fatturrahman, Habib Hamid memiliki seorang sahabat bernama Abdul Muhammad. Sahabatnya itu pernah diminta untuk membantu mengantarkan beliau menuju tempat yang menjadi bagian dari perjalanan kehidupannya.

Diceritakan pula bahwa Habib Hamid memiliki kebiasaan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan seorang guru mengenai pengetahuan ketuhanan.

Pembahasan yang menjadi perhatiannya berkaitan dengan bagaimana mengenal Allah SWT, baik dari sisi zat, sifat, asma, maupun af’al-Nya.

Kecintaan terhadap pengetahuan ketuhanan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual Habib Hamid.

Dalam kisah yang dituturkan, beliau kemudian memilih menjauh dari kehidupan keluarga untuk sementara waktu dan menyendiri di suatu tempat. Keputusan tersebut menjadi bagian dari perjalanan beliau dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Riwayat mengenai perjalanan menyendiri ini sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkutat pada urusan dunia, harta, kedudukan, dan kesenangan. Ada perjalanan batin yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan untuk mengenal kebesaran Sang Pencipta.

Ketika Sebuah Riwayat Menjadi Pelajaran Kehidupan

Manakib Habib Basirih bukan sekadar kisah tentang seorang tokoh agama dari masa lampau. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang doa orang tua, kehidupan keluarga, persahabatan, pencarian ilmu, dan kerinduan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kisah beliau mengajak kita untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kehidupan yang kita jalani telah mendekatkan kita kepada Allah?

Sering kali manusia begitu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa kehidupan ini hanya sementara. Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, dan tubuh yang hari ini masih kuat suatu saat akan kembali menjadi tanah.

Sementara itu, amal kebaikan, ketulusan hati, serta ketakwaan kepada Allah SWT menjadi bekal yang sesungguhnya.

Kisah Habib Basirih dari Tanah Banua mengingatkan bahwa kemuliaan seorang manusia bukan semata-mata diukur dari kekayaan, keturunan, ataupun kedudukan di tengah masyarakat, melainkan dari ketakwaannya kepada Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13, sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Melalui penuturan manakib oleh Habib Fatturrahman Bahasyim, generasi sekarang diharapkan tidak hanya mengenal nama besar Habib Basirih, tetapi juga mengambil hikmah dari perjalanan hidup beliau.

Sebab, mengenang orang-orang saleh semestinya tidak berhenti pada kekaguman terhadap kisah kehidupannya. Lebih dari itu, keteladanan mereka harus menjadi jalan untuk memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, bukan sekadar seberapa panjang usia seseorang yang akan dikenang, melainkan seberapa besar kebaikan dan keteladanan yang ditinggalkannya bagi kehidupan sesama. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *