Runtuhnya Jembatan Saka Harang di Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, ternyata bukan hanya memukul aktivitas warga setempat. Akses vital tersebut juga digunakan masyarakat dari lima desa di Kabupaten Banjar, sehingga dampaknya kini meluas hingga lintas wilayah dengan ribuan warga harus mencari jalur alternatif untuk beraktivitas.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Dewan Kelurahan Mantuil, Hamdani, mengatakan jembatan yang ambruk sekitar pukul 13.30 WITA itu menjadi jalur penghubung utama bagi masyarakat di kawasan Mantuil maupun warga dari sejumlah desa di wilayah Kabupaten Banjar.
Menurutnya, sedikitnya 13 RT di Kelurahan Mantuil merasakan dampak langsung akibat putusnya akses tersebut. Jumlah masyarakat yang terdampak diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 jiwa.
“Yang terdampak pertama ada 13 RT. Kalau masyarakatnya sekitar 3.000 sampai 4.000 orang. Belum lagi lima desa di Kabupaten Banjar yang juga menggunakan akses jalan ini,” ujar Hamdani kepada wartawan koranbanjar.com, Senin (31/8/2026) di Banjarmasin.
Ia menjelaskan, selama ini jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur lingkungan, melainkan jalur mobilitas masyarakat menuju Kota Banjarmasin maupun ke wilayah sekitarnya.
Akibat keruntuhan jembatan, aktivitas warga ikut terganggu, mulai dari perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, hingga kegiatan ekonomi masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.
Di tengah terputusnya jalur utama, masyarakat mulai beradaptasi dengan kondisi darurat. Sejumlah kendaraan kini harus diparkir di sisi kiri dan kanan akses jembatan karena tidak dapat melintas seperti biasanya.
Hamdani mengatakan warga setempat secara swadaya membantu menjaga kendaraan masyarakat yang ditinggalkan di lokasi parkir sementara tersebut.
“Mereka warga di sini, jadi secara swadaya menjaga kendaraan. Tidak ada pungutan biaya, kalau ada yang memberi itu sifatnya sukarela,” katanya.
Menurut Hamdani, inisiatif warga tersebut muncul sebagai bentuk kepedulian agar aktivitas masyarakat tetap dapat berjalan meski harus menghadapi keterbatasan akses.
Namun demikian, solusi swadaya itu hanya bersifat sementara dan belum mampu menggantikan fungsi jembatan sebagai jalur utama mobilitas ribuan warga.
Hamdani menegaskan, dampak keruntuhan jembatan tidak dapat dipandang sebagai persoalan satu kelurahan semata.
Pasalnya, terdapat sekitar lima desa di Kabupaten Banjar yang selama ini turut memanfaatkan jalur tersebut sebagai akses menuju Banjarmasin.
Kondisi itu membuat persoalan jembatan Mantuil memiliki dampak regional karena menyangkut konektivitas antarwilayah.
“Betul, ada lima desa yang juga menggunakan akses jalan ini,” ungkap Hamdani.
Dengan terputusnya jembatan, masyarakat dari desa-desa tersebut kini harus menyesuaikan perjalanan mereka dan menggunakan akses alternatif yang tentu membutuhkan waktu lebih lama.
Sementara itu, proses perbaikan jembatan masih terus dilakukan. Berdasarkan informasi yang diterima Hamdani, progres pembangunan saat ini diperkirakan baru mencapai sekitar 40 persen dan masih terdapat sejumlah pekerjaan yang belum diselesaikan, termasuk fasilitas pendukung lainnya.
Ia berharap proses pembangunan dapat segera dituntaskan tanpa mengabaikan kualitas konstruksi dan keselamatan masyarakat yang nantinya kembali menggunakan jembatan tersebut.
Bagi Hamdani, yang paling penting bukan sekadar jembatan kembali berdiri, melainkan memastikan akses vital tersebut benar-benar aman dan mampu melayani kebutuhan mobilitas ribuan warga Mantuil maupun masyarakat dari lima desa di Kabupaten Banjar.
Runtuhnya jembatan ini menjadi pengingat bahwa satu infrastruktur penghubung dapat menentukan denyut aktivitas banyak wilayah. Karena itu, percepatan penanganan sekaligus kepastian keamanan konstruksi menjadi harapan utama masyarakat yang hingga kini masih menunggu pulihnya akses mereka. (yon/bay)













