Krisis air bersih dikeluhkan warga di kawasan Basirih Dalam, Handil Bujur, Kota Banjarmasin. Sekitar 30 rumah disebut terdampak kesulitan mendapatkan air tawar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Persoalan semakin menyulitkan karena warga menyebut air sungai di sekitar permukiman terasa asin. Bahkan, sumur yang selama ini menjadi salah satu sumber air warga juga disebut ikut terasa asin sehingga tidak dapat diandalkan untuk kebutuhan mandi, memasak, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kondisi tersebut membuat warga yang mayoritas bekerja sebagai petani harus mencari sumber air bersih lain setelah pulang dari sawah.
Aini, salah seorang warga, mengatakan air yang tersedia di lingkungannya sudah terasa sangat asin. Kondisi tersebut membuat aktivitas mandi menjadi tidak nyaman, terutama setelah warga bekerja seharian di sawah.
“Sehabis dari sawah badan penuh tanah dan jerami. Kalau mandi menggunakan air asin, sabun tidak berbuih dan tidak mampu membersihkan kotoran. Akhirnya badan menjadi gatal-gatal,” ujar Aini saat ditemui koranbanjar.com, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, persoalan bukan hanya pada air sungai. Sumur yang dibuat warga di sekitar rumah juga disebut ikut terasa asin.
“Bukan hanya di sungai. Sumur kami di depan rumah juga ikut asin. Jadi tidak ada lagi air tawar yang bisa kami gunakan,” katanya.
Kesulitan mendapatkan air juga terlihat ketika Aini mencoba membuka keran air di rumahnya. Ia berupaya mengeluarkan air dengan menggunakan mesin dan memeriksa selang. Namun, air tidak kunjung mengalir.
“Coba lihat, disedot tidak keluar. Diturunkan pun mesinnya juga tidak keluar. Ini selangnya dicabut, kering, tidak ada air,” ujar Aini.
Kondisi tersebut membuat warga tidak hanya menghadapi persoalan kualitas air, tetapi juga keterbatasan ketersediaan air yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi warga yang bekerja sebagai petani, persoalan tersebut terasa semakin berat. Setelah seharian bekerja di sawah, mereka membutuhkan air untuk membersihkan tubuh dari tanah dan sisa jerami.
Halida, warga lainnya, mengatakan keterbatasan air bersih membuat warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, air bersih dibeli dengan harga sekitar Rp3.500 per jeriken. Halida berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dan PTAM Bandarmasih dapat memberikan solusi agar distribusi air bersih bisa menjangkau kawasan tempat tinggal mereka.
“Sudah capek satu hari di sawah, ini harus sibuk lagi mencari air. Kadang bangun jam tiga, jam empat untuk menjaga air, tetapi airnya juga tidak keluar,” ujar Halida
Ia berharap air dapat mengalir ke kawasan tersebut meskipun tekanannya tidak terlalu besar.
“Kalau memang kecil jalannya tidak masalah, yang penting air bisa keluar daripada tidak keluar sama sekali,” harapnya.
Pengeluaran Warga Bertambah
Rosli, warga lainnya, mengatakan kebutuhan air bersih di rumahnya mencapai sekitar lima jeriken per hari untuk mandi, minum, dan memasak.
Jika satu jeriken dibeli seharga Rp3.500, pengeluaran air sekitar Rp17.500 per hari. Dalam 30 hari, biaya tersebut dapat mencapai sekitar Rp525.000.
Bagi warga yang mayoritas menggantungkan penghasilan dari bertani, pengeluaran tambahan tersebut dinilai cukup membebani kebutuhan rumah tangga.
“Pengeluaran bertambah, sementara pekerjaan kami sebagai petani. Kami harus mengeluarkan biaya untuk membeli air agar bisa mandi, minum, memasak dan membilas badan,” ujar Rosli.
Warga meminta persoalan air bersih tersebut segera mendapat perhatian dari pemerintah dan pihak penyedia layanan air bersih.
Mereka berharap ada solusi agar air tawar dapat tersedia secara berkelanjutan, baik melalui distribusi jaringan maupun langkah penanganan lain yang memungkinkan.
Terlebih, warga menyebut sekitar 30 rumah di kawasan tersebut mengalami kesulitan serupa. Persoalan air yang disebut terasa asin pada sungai dan sumur warga juga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi kualitas air serta penyebabnya.
Dirut PTAM Bandarmasih, Zulbadi ketika dikonfirmasi mengatakan Tim Lapangan PTAM Bandarmasih sudah menindaklanjuti keluhan Warga Basirih Dalam mengenai kesulitan mendapatkan air bersih atau air PAM.
“Kita akan segera tindaklanjuti dan mengupayakan caranya seperti apa. Kecuali secara teknis sudah tidak bisa juga, maka kita pakai cara manual biar warga Basirih Dalam bisa mendapatkan air ledeng,” responnya. (yon/bay)













