Operasionalisasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru masih dalam tahap persiapan. Sejumlah lokasi mulai dipenuhi sarana dan prasarana penunjang.
BANJAR,koranbanjar.com – Hal tersebut disampaikan Dandim 1006 Banjar, Letkol Bambang Prasetyo Prabujaya, saat silaturahmi dan diskusi bersama puluhan awak media, Kamis (13/8/2026).
Prabujaya menjelaskan, saat ini proses di lapangan masih berfokus pada pengadaan dan pemasangan berbagai perlengkapan.
Mulai dari rak besi, pendingin ruangan (AC), kendaraan operasional berupa mobil dan motor roda tiga, hingga perangkat kasir digital.
“Sekarang masih proses pengisian, instalasi, dan perlengkapan. Kemungkinan satu sampai dua bulan sudah ada operasionalisasi,” ujar Dandim Prabujaya
Menurutnya, sebanyak 11 titik saat ini telah mulai menerima pemenuhan sarana dan prasarana pendukung.
Sementara secara keseluruhan terdapat 59 titik gerai KDMP, dengan 51 titik berada di Kabupaten Banjar dan delapan titik di Kota Banjarbaru.
Bambang Prasetyo Prabujaya menegaskan, KDMP belum sepenuhnya beroperasi karena masih menunggu kelengkapan fasilitas.
Setelah seluruh perlengkapan tersedia, manajemen yang ditunjuk akan mulai menjalankan sistem dan melakukan inventarisasi barang.
“Setelah lengkap perlengkapannya, mereka yang mengatur barang dan menginventarisir. Mengatur sebuah koperasi tidak segampang yang orang kira. Semua harus belajar, karena ini proses,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pengelolaan KDMP tidak serta-merta langsung diserahkan kepada pemerintah desa maupun masyarakat.
Terlebih, sistem manajemen digital dan kasir elektronik yang diterapkan membutuhkan penyesuaian dan pelatihan.
“Sama halnya dengan memegang kendaraan baru, tentu butuh penyesuaian dan pelatihan. Manajer yang ditunjuk bertugas memutar sistem terlebih dahulu. Setelah running dan berjalan bagus sesuai standar, barulah diserahkan penuh ke desa,” jelasnya.
Ia berharap keberadaan KDMP nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang wajar.
Ia menepis anggapan bahwa kehadiran KDMP ditujukan untuk mematikan usaha toko atau pelaku ekonomi yang sudah ada di desa.
Menurutnya, keberadaan koperasi justru dapat membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau karena koperasi dapat memperoleh barang dengan harga lebih rendah.
“Kalau kita melihat masyarakat secara keseluruhan, yang punya toko mungkin satu orang, tetapi yang punya kebutuhan satu kampung. Kita mau menguntungkan satu orang atau satu kampung? Itu pertanyaannya,” tuturnya.
Ia mengakui potensi persaingan dalam perdagangan tetap ada. Namun, tujuan pemerintah bukan menghancurkan bisnis masyarakat, melainkan menciptakan akses kebutuhan pokok yang lebih murah dan wajar.
Prabujaya juga menyoroti pentingnya pemerataan layanan dasar di wilayah pedesaan dan terpencil.
Menurutnya, lini usaha KDMP tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pokok, tetapi juga dapat menyentuh sektor kesehatan, seperti apotek dan klinik.
Ia mencontohkan masyarakat di wilayah seperti Sungai Pinang yang harus menempuh jarak cukup jauh jika membutuhkan layanan kesehatan tertentu.
“Kalau di Sungai Pinang ada orang yang membutuhkan layanan kesehatan, masa harus sampai ke Banjar? Kalau tidak ada dokter, tenaga kesehatan atau apotek yang menyediakan obat, ini yang perlu kita pikirkan bersama,” ujarnya.
Terkait adanya anggapan bahwa program KDMP berpotensi menimbulkan persaingan dengan koperasi lain, Prabujaya menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara KDMP dengan koperasi yang telah berdiri sebelumnya.
Ia juga mengingatkan agar informasi mengenai koperasi tidak dicampuradukkan. Sebab, seluruh koperasi yang terdaftar dalam sistem Sikopdes tercatat dalam satu basis data sehingga terkadang menimbulkan kerancuan di masyarakat.
“SIKOPDES tidak membedakan koperasi Merah Putih dengan koperasi lainnya. Datanya jadi satu, dia menyebut koperasi. Itulah makanya kadang sering rancu,” jelasnya.
Dandim menambahkan, program KDMP masih terus dievaluasi dalam proses pelaksanaannya.
Pemerintah terbuka terhadap masukan dari masyarakat maupun awak media untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan di lapangan.
“Dalam pembangunan tidak mungkin tidak ada perbedaan persepsi. Ada kekurangan kita perbaiki. Saya juga terbuka sekali kalau ada masukan dari rekan-rekan,” katanya.
Menurut Prabujaya, kolaborasi dengan media sangat penting untuk memastikan informasi mengenai KDMP sampai kepada masyarakat secara benar.
“Kita tidak bisa menjadi Superman, tetapi saya akan lebih baik kalau bisa menjadi super team. Dibantu wartawan, saya malah senang karena teman-teman punya informasi dari berbagai lini dan berbagai sisi,” ungkapnya.
Ia pun meminta media turut membantu menyampaikan informasi yang akurat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh kabar yang keliru.
“Saya juga minta tolong, sampaikan informasi yang benar. Karena kadang-kadang disinformasi di zaman sekarang ini sangat mudah berjalan,” pungkasnya. (kan/dya)













