Runtuhnya jembatan Saka Harang yang menjadi akses penting masyarakat Kelurahan Mantuil, Kota Banjarmasin, tak hanya memutus akses lalu lintas warga. Dampaknya kini dirasakan sekitar 13 RT dengan jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 jiwa.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Ketua Dewan Kelurahan Mantuil, Hamdani, mengatakan jembatan tersebut runtuh pada sekitar pukul 03.00 WITA. Berdasarkan pantauannya, kejadian itu diduga berkaitan dengan aktivitas proyek pelebaran jalan di kawasan sekitar.
Hamdani menduga mobilisasi material proyek dengan menggunakan kendaraan berkapasitas besar turut memberikan tekanan terhadap kondisi jembatan yang sudah berusia lebih dari 10 tahun tersebut.
“Kejadiannya sekitar jam tiga. Jembatan jatuh karena ada proyek pelebaran pekerjaan di wilayah Kimasan. Kami menduga kendaraan membawa material dengan kapasitas besar sehingga terjadi tekanan dan akhirnya jembatan runtuh,” ujar Hamdani saat ditemui wartawan koranbanjar.com, Senin (31/8/2026) di rumahnya tak jauh dari lokasi jembatan runtuh.
Meski demikian, Hamdani menegaskan dugaan tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis. Ia tidak ingin menyimpulkan penyebab keruntuhan hanya berdasarkan pengamatan di lapangan.
Menurut dia, kondisi jembatan memang sudah cukup lama digunakan masyarakat. Usianya diperkirakan lebih dari satu dekade.
Selain persoalan usia, kondisi bagian bawah atau pondasi jembatan juga menjadi perhatian. Hamdani menyebut struktur bawah jembatan sebelumnya telah beberapa kali mendapat penanganan atau penambahan lapisan pada bagian tertentu.
Perbaikan tersebut, kata dia, pernah dilakukan melalui keterlibatan pemerintah maupun pihak perusahaan yang berada di sekitar kawasan.
“Untuk penanganannya pernah ada penambahan, baik dari pemerintah kota maupun perusahaan. Perusahaan di sekitar sini juga cukup peduli terhadap kondisi masyarakat,” katanya.
Keruntuhan jembatan kini membuat aktivitas masyarakat terganggu. Hamdani menyebut sedikitnya 13 RT terdampak langsung akibat terputusnya akses tersebut.
Jumlah masyarakat yang merasakan dampaknya diperkirakan mencapai 3.000 sampai 4.000 orang.
Tidak hanya warga Kelurahan Mantuil, akses tersebut juga digunakan masyarakat dari wilayah lain. Bahkan, menurut Hamdani, terdapat sekitar lima desa di Kabupaten Banjar yang turut menggunakan jalur tersebut.
Dampak paling terasa terjadi pada aktivitas warga sehari-hari, termasuk mobilitas menuju tempat kerja, sekolah, hingga aktivitas ekonomi.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan karena masyarakat harus mencari jalur alternatif untuk keluar-masuk kawasan.
Di tengah terputusnya akses jembatan, warga kemudian berinisiatif menyediakan lokasi parkir di sekitar sisi jalan bagi masyarakat yang kendaraannya tidak dapat melintasi akses tersebut.
Hamdani mengatakan penjagaan parkir dilakukan secara swadaya oleh warga setempat.
“Mereka warga di sini. Jadi secara keluarga, swadaya. Mereka membantu menjaga kendaraan masyarakat,” ujarnya.
Ia memastikan aktivitas tersebut bukan bentuk pungutan resmi. Jika ada masyarakat yang memberikan uang, sifatnya sukarela.
“Tidak diminta biaya. Kalau ada, sifatnya sukarela,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana warga berusaha mencari solusi sementara di tengah terganggunya akses utama mereka.
Sementara itu, proses penanganan jembatan disebut masih berjalan. Berdasarkan informasi yang diterima Hamdani, progres pekerjaan saat ini baru berada di kisaran 40 persen.
Namun, pekerjaan belum sepenuhnya selesai karena masih terdapat sejumlah bagian yang harus dikerjakan, termasuk fasilitas pendukung seperti penerangan.
Karena itu, Hamdani berharap pekerjaan tidak hanya mengejar percepatan penyelesaian, tetapi juga memastikan konstruksi jembatan benar-benar aman ketika kembali digunakan masyarakat.
“Yang paling penting pekerjaan ini bisa segera rampung, tetapi tetap harus memperhatikan hasil pekerjaan dan kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Hamdani juga berharap pemerintah, pelaksana pekerjaan dan konsultan dapat memperhatikan kondisi masyarakat yang selama ini menggantungkan aktivitasnya pada akses tersebut.
Menurut dia, penyelesaian jembatan bukan sekadar persoalan membangun kembali badan jembatan. Lebih dari itu, akses tersebut merupakan urat nadi mobilitas ribuan warga Mantuil dan masyarakat dari wilayah sekitarnya.
Dengan dampak yang menjangkau belasan RT dan ribuan warga, percepatan penanganan menjadi kebutuhan mendesak. Namun, percepatan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan kepastian bahwa struktur jembatan yang dibangun kembali aman dan mampu menanggung beban lalu lintas sesuai peruntukannya. (yon/bay)













