Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Selatan dari Fraksi Partai NasDem, Ahmad Sarwani, mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III segera mengambil langkah konkret menyikapi penurunan debit air. Sebab, hal ini diduga menjadi penyebab kematian ikan massal di sejumlah keramba budidaya di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.
BANJAR, koranbanjar com – Dalam beberapa hari terakhir, berton-ton ikan, baik yang siap panen maupun masih dalam masa pembesaran, dilaporkan mati. Peristiwa tersebut diperkirakan mengakibatkan kerugian hingga ratusan juta rupiah dan berdampak terhadap ratusan pembudidaya ikan yang menggantungkan mata pencaharian dari usaha budidaya di sepanjang aliran irigasi Riam Kanan.
Ahmad Sarwani mengatakan, penurunan debit air telah memberikan dampak serius terhadap sektor perikanan budidaya. Karena itu, menurutnya, seluruh pemangku kepentingan harus segera mengambil langkah nyata agar kerugian masyarakat tidak semakin besar.
“Pembudidaya ikan di sepanjang aliran irigasi terkena dampak dari penurunan debit air Riam Kanan,” kata Sarwani, Senin (13/7/1026).
Menurutnya, hal ini menimbulkan kerugian besar bagi para peternak ikan. Ratusan pembudidaya menggantungkan hidupnya dari hasil panen tersebut.
Ia menegaskan, musibah tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan membutuhkan penanganan serius dari seluruh pihak terkait.
“Dengan adanya musibah ini perlu dilakukan upaya konkret dari semua stakeholder untuk mengatasinya,” katanya.
Sarwani juga menyayangkan belum adanya tanggapan resmi dari BWS Kalimantan III, padahal Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar telah mengirimkan surat permohonan penjelasan terkait penyebab penurunan debit air.
“Balai Wilayah Sungai Kalimantan III hendaknya dapat memberi reaksi atas keluhan yang dialami warga,” ucapnya.
Lanjut dijelaskan Sarwani, Kendati sudah dilayangkan surat, belum ada tanggapan resmi dari pihak balai.
“Ini sangat disayangkan karena kalau terus berlarut-larut akan berdampak fatal bagi para pembudidaya kita,” tegasnya.
Fenomena kematian ikan massal terjadi di sejumlah kawasan keramba budidaya, di antaranya Desa Sungai Asam, Desa Sungai Arfat, dan Desa Mali-Mali, Kecamatan Karang Intan.
Para pembudidaya menduga menurunnya debit aliran sungai menyebabkan kualitas air memburuk dan kadar oksigen terlarut berkurang sehingga memicu kematian ikan secara massal.
Selain mengalami kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, para pembudidaya berharap pemerintah segera memberikan bantuan dan menghadirkan solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Sebelumnya, DKPP Kabupaten Banjar telah mengirimkan surat bernomor 500.5.3/384/DKPP tertanggal 5 Juli 2026 kepada Kepala BWS Kalimantan III.
Dalam surat tersebut, DKPP meminta penjelasan mengenai penyebab penurunan debit Sungai Martapura, mengusulkan agar sebagian aliran irigasi dialihkan ke sungai untuk menambah debit air, serta meminta penjelasan mengenai langkah mitigasi yang akan dilakukan guna menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor perikanan budidaya.
Kepala DKPP Kabupaten Banjar, Sipliansyah Hartani, dalam surat tersebut juga berharap BWS Kalimantan III segera memberikan tanggapan dan tindak lanjut agar dampak terhadap sektor perikanan dapat diminimalkan.
Sarwani berharap Pemerintah Kabupaten Banjar meningkatkan koordinasi dengan BWS Kalimantan III agar persoalan teknis di lapangan dapat segera diatasi.
Menurutnya, pengelolaan irigasi ke depan harus dilakukan lebih baik sehingga tidak lagi menimbulkan persoalan serupa setiap tahun.
Selain itu, ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Banjar segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mencari solusi terbaik dalam menjaga ketersediaan air sekaligus melindungi keberlangsungan usaha para pembudidaya ikan di Karang Intan. (kan/dya)













