Sebanyak 28 peserta Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Angkatan 1 asal Kabupaten Kotawaringin Timur mengikuti kegiatan kunjungan dan praktik lapangan di Kota Palangka Raya, Kamis (01/10/2026).
PALANGKA RAYA koranbanjar.com – Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Kunjungan lapangan dipusatkan di Kelompok Tani (Poktan) Sumber Rezeki yang berlokasi di Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman teoritis peserta melalui pengalaman langsung mengolah limbah perkebunan kelapa sawit dan peternakan menjadi sumber hara tanaman yang bernilai ekonomis.
Dalam kegiatan ini, para peserta mendapatkan bimbingan teknis langsung dari praktisi sekaligus produsen pupuk organik setempat, Fikri Nugroho.
Pada sesi pertama, Fikri menyampaikan materi serta memandu praktik pembuatan pupuk kompos padat berbasis kombinasi kotoran hewan dan limbah kelapa sawit.
Peserta mempraktikkan formulasi awal pengomposan dengan komposisi terukur, yaitu 40% janjangan kosong kelapa sawit (TKKS/jangkos) cacah, 25% kotoran ayam, 20% kotoran kambing, 10% solid sawit (decanter solid), dan 5% abu boiler.
Kombinasi tersebut memadukan bahan kaya karbon dan serat (TKKS) dengan bahan kaya nitrogen serta mineral (kotoran hewan, solid, dan abu boiler) untuk menghasilkan kompos pembenah tanah berkualitas tinggi.
Para peserta diajarkan tahapan sistematis pengomposan, mulai dari pencacahan bahan, pencampuran merata, pengaturan kelembapan ideal, pembalikan tumpukan secara berkala untuk aerasi, hingga identifikasi parameter pematangan kompos seperti perubahan suhu, warna gelap, dan aroma tanah.
Selain pupuk padat, rangkaian praktik dilanjutkan dengan pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai bioaktivator pembuat kompos. Fikri membimbing peserta memproduksi larutan MOL kapasitas 20 liter menggunakan bahan baku lokal terjangkau, seperti bonggol pisang (1 kg), rebung bambu (500 g), toge (500 g), jagung manis (500 g), air kelapa (5 liter), molase (500 ml), dan probiotik (100 ml).
Seluruh bahan padat dicincang halus, dicampur bersama air kelapa, molase, dan probiotik, lalu ditambah air hingga volume 20 liter untuk difermentasi selama 7–14 hari. Larutan MOL ini berfungsi mempercepat proses dekomposisi bahan organik secara alami tanpa bergantung pada bioaktivator komersial.
Melalui integrasi materi teori dan praktik lapangan di Poktan Sumber Rezeki, sinergi BPDP dan BBPP Binuang diharapkan mampu membekali 28 peserta Angkatan 1 asal Kotawaringin Timur dengan keterampilan praktis pembuatan kompos dan MOL.
Keterampilan ini siap diterapkan di daerah asal demi mendukung efisiensi biaya pemupukan dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat.
(KA/rth)













