Melalui Forum MAF, Kementan Ungkap Jurus Baru Swasembada Pangan, PM AAS Bidik Produktivitas

Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 32 Tahun 2026. (Sumber Foto: tim Ekspos SMKPPN Banjarbaru/koranbanjar.com)

Bagaimana Indonesia bisa mencapai swasembada pangan sekaligus mempertahankannya secara berkelanjutan?

BANJARBARU, koranbanjar.com Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan salah satu jawabannya melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang mengintegrasikan teknologi presisi, mekanisasi, efisiensi sumber daya, dan pengelolaan usaha tani.

Strategi tersebut menjadi pembahasan utama dalam Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 32 Tahun 2026.

Digelar secara daring melalui Zoom oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) melalui SMK-PP Negeri Banjarbaru, Sabtu (8/8/2026).

Mengangkat tema “PM-AAS Strategi Kementerian Pertanian untuk Swasembada Pangan Berkelanjutan.”

Forum ini mengajak generasi muda pertanian memahami arah transformasi pertanian Indonesia.

Sekaligus pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mengadopsi dan mengoptimalkan teknologi di lapangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, transformasi menuju pertanian modern membutuhkan SDM yang mampu menguasai inovasi dan teknologi.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi pertanian menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat pencapaian swasembada pangan nasional.

“Pemanfaatan teknologi pertanian harus terus diperkuat agar mampu meningkatkan produktivitas dan mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional,” ujar Amran.

Sejalan dengan itu, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti mengatakan teknologi tidak akan memberikan hasil optimal tanpa dukungan SDM pertanian yang kompeten.

“Ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada manusia yang mengoperasikan dan memanfaatkannya. SDM pertanian harus adaptif, kreatif, dan mampu menerapkan teknologi secara efektif,” ujar Idha.

Menurutnya, penguatan kompetensi SDM menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan sektor pertanian yang semakin mengandalkan teknologi dan mekanisasi.

Kepala Pusat Pendidikan, Muhammad Amin, menjelaskan bahwa pemerintah terus mengembangkan berbagai strategi untuk memastikan swasembada pangan tidak hanya tercapai, tetapi juga dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Salah satu pendekatan yang didorong adalah PM-AAS. Sistem tersebut dirancang untuk mengoptimalkan proses produksi melalui pemanfaatan teknologi, mekanisasi, presisi, dan efisiensi sumber daya.

“Dengan adanya program PM AAS ini, tentu kami berharap produktivitas pertanian dapat meningkat. Paling tidak ada kelipatan dua kali dari produktivitas sebelumnya dengan adanya penerapan PM AAS,” ujar Amin dalam closing statement MAF.

Amin menambahkan, pendidikan vokasi pertanian memiliki peran penting dalam mendukung implementasi PM-AAS.

Lembaga pendidikan dituntut tidak hanya mencetak lulusan yang memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan mengoperasikan dan menerapkan teknologi pertanian modern.

MAF ini juga untuk penguatan pendidikan vokasi pertanian dalam mendukung implementasi PM-AAS.

“Fokus kita saat ini adalah bagaimana seluruh program dapat terintegrasi dalam rangka menyukseskan program swasembada pangan berkelanjutan,” pungkasnya.

Kepala SMK-PP Negeri Banjarbaru, Angga Tri, A.P., mengatakan MAF menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan perkembangan teknologi pertanian kepada generasi muda, petani, penyuluh, dan masyarakat.

“MAF merupakan wahana untuk memberikan pengetahuan dan wawasan, terutama mengenai teknologi terbaru yang dapat diterapkan oleh masyarakat, petani, dan penyuluh sehingga dapat mengadopsi teknologi dari Kementerian Pertanian,” jelas Angga.

Selain teknologi, forum tersebut juga menjadi sarana diseminasi program-program Kementerian Pertanian agar dapat dipahami dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat pertanian.

“MAF ini memberikan diseminasi terkait program-program pemerintah dan Kementerian Pertanian yang dapat digunakan seluruh masyarakat, terutama petani dan mereka yang bergelut di dunia pertanian,” pungkasnya.

MAF Volume 7 Edisi 32 menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi.

Wage Ratna Rohaeni dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Padi (BRMP Padi), Subang, Jawa Barat, serta Tarsono dari Kelompok Tani Rukun Tani Sentosa, Desa Bilas, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Wage Ratna Rohaeni membawakan materi “Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System atau PM-AAS”.

Ia menjelaskan PM-AAS sebagai sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang menitikberatkan pada efisiensi, mekanisasi, presisi, dan pengelolaan berbasis korporasi.

Dalam pemaparannya, Wage membahas berbagai hasil penelitian dan kajian PM-AAS, termasuk persiapan tanam, penerapan teknologi, mekanisasi, efisiensi sumber daya, hingga hasil yang diperoleh dari penerapan sistem pertanian modern.

Sementara itu, Tarsono memberikan perspektif dari sisi praktik lapangan. Pengalaman penerapan PM-AAS di Kelompok Tani Rukun Tani Sentosa menjadi contoh bagaimana konsep pertanian modern dapat diadaptasikan sesuai kondisi wilayah.

Ia membagikan pengalaman terkait metode penerapan, penanganan budidaya, efisiensi sumber daya, mekanisasi, intensifikasi produksi, serta penerapan PM-AAS berbasis kondisi spesifik lokasi.

Forum tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh hadirnya teknologi.

Tetapi juga oleh kemampuan SDM dalam mengadopsi, mengoperasikan, dan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan di lapangan.

Melalui MAF, BPPSDMP terus mendorong penguatan kapasitas generasi muda pertanian agar mampu menjadi bagian dari transformasi menuju pertanian yang lebih modern, produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Dengan sinergi teknologi, pendidikan vokasi, penyuluhan, dan pengalaman petani, penerapan PM-AAS diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat produktivitas pertanian.

Sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan. (Tim Ekspos SMKPPN Banjarbaru/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *