Kemarau Panjang, Ahmad Sarwani Soroti Pendangkalan Sungai Martapura

Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Ahmad Sarwani. (Sumber Foto: Saukani/koranbanjar com)

Kondisi aliran Sungai Martapura yang mengalami penurunan debit air akibat kemarau panjang mendapat perhatian dari Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Ahmad Sarwani.

BANJAR,koranbanjar.com – Selain debit air yang terus menurun, pendangkalan di sejumlah titik Sungai Martapura juga dinilai perlu segera mendapat perhatian pemerintah.

Terlebih, sungai tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat Kabupaten Banjar.

Sarwani mengatakan, kondisi terkini aliran Sungai Martapura cukup memprihatinkan dalam beberapa pekan terakhir akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.

“Pertama, melihat kondisi terakhir aliran Sungai Martapura yang sangat memprihatinkan di minggu-minggu terakhir ini akibat cuaca kemarau yang lumayan panjang,” ujarnya, Senin (31/8/2026) di Martapura.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kepedulian seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan maupun melakukan aktivitas lain yang berpotensi merusak lingkungan dan kualitas aliran Sungai Martapura.

“Sehingga kita berharap ada perhatian dari semua lapisan masyarakat untuk terus memelihara kondisi air sungai ini. Terutama jangan membuang sampah sembarangan atau hal-hal lain yang bisa merusak lingkungan sepanjang aliran Sungai Martapura,” ujarnya.

Di sisi lain, menurunnya debit air sungai saat musim kemarau dinilai menjadi momentum bagi instansi terkait, khususnya Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, untuk melakukan survei langsung terhadap kondisi sungai.

Menurut politisi fraksi NasDem ini, saat debit air menyusut, titik-titik yang mengalami pendangkalan maupun wilayah yang rawan dapat lebih mudah terlihat secara kasat mata.

“Dengan debit air yang sangat menurun ini juga menjadi kesempatan besar bagi balai sungai untuk mensurvei atau melihat secara langsung kondisi riil di lapangan. Wilayah mana yang memang seharusnya menjadi titik berat untuk dilakukan pengerukan,” jelasnya.

Ia mendorong BWS Kalimantan III berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun wilayah yang dilintasi aliran Sungai Martapura untuk mengidentifikasi titik-titik yang membutuhkan penanganan.

Hal tersebut dinilai penting sebagai bahan kajian dalam penyusunan perencanaan program pembenahan dan revitalisasi aliran Sungai Martapura.

Sarwani menyebut, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengantisipasi potensi banjir saat musim penghujan.

Sebab, pendangkalan sungai dapat mengurangi kapasitas tampung dan memperbesar risiko luapan ketika debit air meningkat.

“Biasanya kalau musim hujan itu potensi banjir dan sungai meluap. Nah, makanya saat kemarau inilah mungkin titik-titik yang rawan atau yang mengalami pendangkalan akan lebih terlihat secara kasat mata,” katanya.

Ia berharap pemerintah, khususnya pemerintah pusat melalui instansi terkait, dapat segera mengambil langkah konkret untuk melakukan pembenahan dan revitalisasi aliran Sungai Martapura secara bertahap.

“Perlu segera dilakukan revitalisasi, mengingat aliran Sungai Martapura juga menjadi bahan baku bagi warga Kabupaten Banjar,” pungkasnya. (kan/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *