Mengasah Mental dan Kemampuan, Atlet Catur Disabilitas Rutin Ikuti Kejuaraan Umum

usai ikuti Catur Open di Festival Minggu Raya pada Sabtu (4/7/2026). (Sumber Foto: Saukani/koranbanjar.com)

Minimnya turnamen khusus bagi atlet disabilitas tidak menyurutkan semangat seorang atlet catur untuk terus berlatih. Demi menjaga jam terbang dan mengasah mental bertanding, atlet tersebut memilih untuk rutin mengikuti kompetisi catur kategori umum.

BANJARBARU,koranbanjar.com – Dalam sebuah perbincangan santai, atlet catur tunanetra Wahyu mengungkapkan bahwa frekuensi kejuaraan khusus disabilitas yang masih jarang menjadi tantangan tersendiri.

Ditemui usai ikuti Catur Open di Festival Minggu Raya pada Sabtu (4/7/2026).

“Latihan seminggu lima kali, tapi turnamennya jarang. Makanya, kalau ada kompetisi umum, saya ikut. Tujuannya bukan semata-mata mencari kemenangan, tapi untuk mengasah kemampuan dan melatih mental,” ujarnya.

Menurutnya, bergabung dalam kategori umum memberikan pengalaman yang berbeda.

Meskipun terdapat perbedaan teknis antara permainan catur tunanetra dengan non-disabilitas, khususnya dalam hal penggunaan papan catur yang dimodifikasi.

Ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak menjadi hambatan berarti dalam berkompetisi

Kisah Wahyu dalam dunia catur dimulai sejak tahun 2008-2009 saat ia masih duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB). Awalnya, ia mengaku catur bukanlah hobinya.

Ia lebih menyukai olahraga fisik seperti sepak bola. Namun, peran sekolah yang mengikutsertakannya dalam kejuaraan antar sekolah saat ia masih kecil menjadi titik awal perjalanannya di dunia catur.

“Dulu awalnya tidak hobi, tapi karena disuruh ikut lomba antar sekolah, akhirnya terjun. Sekarang, karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan dedikasi, mau tidak mau harus menyukainya,” tambahnya.

Saat ini, meski telah menetap di Banjarbaru, Wahyu tetap menunjukkan loyalitasnya kepada daerah asalnya, Tanah Bumbu.

Ia menjelaskan bahwa dalam berbagai kejuaraan provinsi, ia tetap membawa nama Tanah Bumbu sebagai bentuk pengabdian kepada tempat kelahirannya.

Sementara untuk ajang skala nasional seperti PEPARNAS (Pekan Paralimpik Nasional), ia tetap fokus memberikan performa terbaiknya bagi Banua.

Bagi sang atlet, menang atau kalah dalam sebuah turnamen adalah urusan nomor dua.

Baginya, konsistensi dalam berlatih dan keberanian untuk terus menguji kemampuan di tengah keterbatasan sarana kompetisi adalah kunci utama untuk terus berkembang sebagai atlet profesional. (kan/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *