Jembatan Saka Harang Mantuil Runtuh; Warga Bergerak Sendiri, Parkir Swadaya Jadi Solusi Darurat

Runtuhnya Jembatan Saka Harang Mantuil membuat aktivitas ribuan warga terganggu. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Runtuhnya Jembatan Saka Harang di kawasan Mantuil, Banjarmasin Selatan, membuat aktivitas ribuan warga terganggu. Di tengah akses utama yang terputus, warga setempat memilih tidak hanya menunggu penyelesaian dari pemerintah, tetapi bergerak secara swadaya dengan menyediakan tempat parkir sementara bagi masyarakat yang kendaraannya tidak bisa melintas.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Dewan Kelurahan Mantuil, Hamdani, mengatakan inisiatif tersebut dilakukan warga sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak.

Menurutnya, kendaraan yang tidak dapat melewati akses jembatan terpaksa diarahkan untuk parkir di sisi kiri dan kanan jalan.

Warga kemudian secara bergantian membantu menjaga kendaraan yang ditinggalkan sementara oleh pemiliknya.

“Mereka warga di sini. Jadi secara swadaya, mereka membantu menjaga kendaraan masyarakat,” ujar Hamdani kepada wartawan koranbanjar.com, Senin (31/8/2026) di Banjarmasin.

Hamdani menegaskan, aktivitas parkir tersebut bukan dikelola untuk mencari keuntungan.

Warga yang membantu menjaga kendaraan tidak menetapkan tarif kepada masyarakat.

“Tidak diminta biaya. Kalau ada, sifatnya sukarela,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu bentuk gotong royong masyarakat setelah jembatan yang selama ini menjadi akses penting mereka tidak dapat digunakan.

Bagi warga, menyediakan tempat parkir menjadi solusi sementara agar kendaraan tetap dapat dititipkan dengan lebih aman ketika masyarakat harus melanjutkan perjalanan melalui jalur alternatif.

Keruntuhan jembatan tersebut berdampak cukup luas. Hamdani menyebut sedikitnya 13 RT terdampak dengan jumlah masyarakat yang diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 orang.

Tidak hanya warga Kelurahan Mantuil, akses tersebut juga digunakan masyarakat dari wilayah Kabupaten Banjar.

Menurut Hamdani, terdapat sekitar lima desa yang ikut menggunakan akses tersebut. Artinya, persoalan yang muncul bukan sekadar terganggunya akses warga di sekitar jembatan, tetapi juga menyangkut konektivitas masyarakat lintas wilayah.

Aktivitas masyarakat menuju tempat kerja, sekolah, maupun kegiatan ekonomi ikut terdampak akibat terputusnya jalur tersebut.

Meski membantu masyarakat dalam kondisi darurat, parkir swadaya yang dilakukan warga tentu tidak dapat menggantikan fungsi jembatan sebagai jalur penghubung utama.

Masyarakat tetap membutuhkan akses yang aman dan dapat digunakan kembali secara normal. Karena itu, perhatian warga kini juga tertuju pada proses perbaikan jembatan.

Hamdani mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya, progres pekerjaan jembatan saat ini baru sekitar 40 persen.

Masih terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum jembatan dapat kembali digunakan, termasuk sejumlah fasilitas pendukung.

Hamdani berharap proses perbaikan dapat segera diselesaikan tanpa mengabaikan kualitas konstruksi.

Menurutnya, jembatan tersebut nantinya akan kembali digunakan oleh ribuan warga sehingga faktor keselamatan harus menjadi perhatian utama.

“Yang penting bisa segera rampung, tetapi hasil pekerjaan dan keselamatan masyarakat juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Keruntuhan jembatan Mantuil akhirnya memunculkan gambaran lain di tengah persoalan infrastruktur.

Ketika akses utama terputus, warga tidak serta-merta berhenti beraktivitas. Mereka mencari cara sendiri agar mobilitas tetap berjalan, bahkan ikut menjaga kendaraan sesama warga tanpa menetapkan pungutan.

Namun, semangat gotong royong tersebut tetap membutuhkan dukungan penyelesaian dari pemerintah dan pihak terkait.

Sebab, parkir swadaya hanya menjadi solusi sementara. Yang dibutuhkan masyarakat pada akhirnya adalah jembatan yang kembali berdiri, aman, dan dapat digunakan tanpa menimbulkan persoalan baru. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *