Harapan ribuan warga Kelurahan Mantuil, Banjarmasin Selatan, untuk kembali mendapatkan akses normal masih harus menunggu. Jembatan Saka Harang yang menjadi jalur penting masyarakat hingga kini masih dalam proses perbaikan, dengan progres pekerjaan disebut baru mencapai sekitar 40 persen.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Dewan Kelurahan Mantuil, Hamdani, mengatakan informasi mengenai progres tersebut diperolehnya dari pihak yang berkaitan dengan penanganan jembatan.
Menurut Hamdani, selain pekerjaan struktur utama, masih terdapat sejumlah pekerjaan dan fasilitas pendukung yang harus diselesaikan sebelum jembatan dapat kembali digunakan secara normal.
“Informasi yang kami dapat, progresnya baru sekitar 40 persen. Masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan, termasuk fasilitas pendukung dan penerangan,” ujar Hamdani kepada wartawan koranbanjar.com, Senin (31/8/2026) di Banjarmasin.
Kondisi ini menjadi perhatian karena jembatan tersebut merupakan salah satu akses penting bagi masyarakat Mantuil dan wilayah sekitarnya.
Keruntuhan jembatan tidak hanya mengganggu aktivitas warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Hamdani menyebut sedikitnya 13 RT terdampak akibat terputusnya akses tersebut. Jumlah masyarakat yang merasakan dampaknya diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 jiwa.
Tidak hanya itu, akses jembatan juga digunakan masyarakat dari wilayah Kabupaten Banjar.
Menurut Hamdani, terdapat sekitar lima desa di Kabupaten Banjar yang turut menggunakan jalur tersebut.
“Yang terdampak ada 13 RT. Masyarakatnya sekitar 3.000 sampai 4.000 orang. Belum lagi ada lima desa di Kabupaten Banjar yang juga menggunakan akses ini,” katanya.
Artinya, persoalan keruntuhan jembatan tidak hanya berdampak pada satu lingkungan, tetapi menyentuh konektivitas masyarakat lintas wilayah.
Terputusnya jembatan membuat masyarakat harus mencari alternatif untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Mobilitas warga menuju tempat kerja, sekolah maupun aktivitas ekonomi ikut terdampak.
Bagi masyarakat yang biasanya menggunakan jembatan sebagai jalur utama, keruntuhan tersebut membuat perjalanan menjadi lebih sulit karena harus menyesuaikan dengan kondisi akses yang tersedia.
Situasi tersebut juga mendorong warga melakukan berbagai upaya secara mandiri. Salah satunya dengan menyediakan lokasi parkir sementara bagi kendaraan yang tidak dapat melintasi akses jembatan.
Hamdani mengatakan pengelolaan parkir tersebut dilakukan secara swadaya oleh warga setempat.
“Mereka warga di sini, secara swadaya membantu menjaga kendaraan. Tidak diminta biaya. Kalau ada, sifatnya sukarela,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat kini menunggu kepastian kapan jembatan dapat kembali difungsikan.
Hamdani berharap proses pekerjaan dapat dipercepat, mengingat akses tersebut digunakan ribuan warga setiap hari.
Namun, ia juga mengingatkan agar percepatan pembangunan tidak mengorbankan kualitas pekerjaan.
Menurutnya, jembatan yang dibangun kembali harus benar-benar aman dan mampu melayani kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
“Yang penting bisa segera rampung, tetapi hasil pekerjaan dan keselamatan masyarakat juga harus diperhatikan,” katanya.
Progres sekitar 40 persen menunjukkan masih terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum jembatan dapat kembali digunakan.
Karena itu, selain persoalan waktu penyelesaian, masyarakat juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai target rampung, tahapan pekerjaan, serta standar keamanan jembatan.
Terlebih, keruntuhan jembatan sebelumnya juga menyisakan pertanyaan mengenai kondisi struktur dan faktor yang menyebabkan keruntuhan.
Hamdani sebelumnya menyinggung adanya aktivitas proyek pelebaran jalan di sekitar kawasan serta dugaan kendaraan pengangkut material berkapasitas besar yang memberikan tekanan terhadap jembatan.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab keruntuhan tanpa pemeriksaan teknis dari pihak berwenang. Kini, perhatian masyarakat tertuju pada pembangunan kembali jembatan.
Bagi warga Mantuil dan masyarakat dari lima desa di Kabupaten Banjar yang turut menggunakan akses tersebut, jembatan bukan sekadar bangunan fisik. Ia menjadi jalur penting yang menentukan kelancaran aktivitas sehari-hari ribuan orang.
Karena itu, harapan warga sederhana: pekerjaan segera selesai, tetapi yang lebih penting, jembatan yang kembali dibuka nantinya benar-benar aman, kuat dan layak digunakan. (yon/bay)













