Jembatan Saka Harang Mantuil Runtuh, Dewan Kelurahan Pertanyakan Pengawasan Proyek dan Kondisi Struktur

Runtuhnya jembatan Saka Harang yang menjadi akses penting masyarakat Kelurahan Mantuil, Kota Banjarmasin. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Runtuhnya jembatan Saka Harang yang menjadi akses penting masyarakat Kelurahan Mantuil, Kota Banjarmasin, menyisakan persoalan yang lebih besar dari sekadar terputusnya akses warga. Di tengah aktivitas proyek pelebaran jalan di kawasan sekitar, muncul pertanyaan mengenai pengawasan pekerjaan, kondisi struktur jembatan, hingga beban kendaraan proyek yang melintas.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Dewan Kelurahan Mantuil, Hamdani, mengatakan jembatan tersebut runtuh sekitar pukul 13.30 WITA. Berdasarkan informasi dan pantauannya di lapangan, keruntuhan diduga berkaitan dengan aktivitas proyek pelebaran jalan yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Hamdani menduga kendaraan pengangkut material proyek dengan kapasitas besar turut memberikan tekanan terhadap jembatan yang usianya diperkirakan sudah lebih dari 20 tahun.

“Kejadiannya sekitar jam tiga. Jembatan jatuh karena ada proyek pelebaran pekerjaan di wilayah Kimasan. Kami menduga kendaraan membawa material dengan kapasitas besar sehingga terjadi tekanan dan akhirnya jembatan runtuh,” ujar Hamdani kepada wartawan koranbanjar.com, satu hari setelah jembatan ini runtuh, Senin (31/8/3026) di Banjarmasin.

Namun, Hamdani tidak menyebut dugaan tersebut sebagai kesimpulan akhir. Menurutnya, penyebab pasti keruntuhan perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis terhadap struktur jembatan.

Keruntuhan jembatan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana pengawasan dilakukan terhadap aktivitas proyek di sekitar jembatan.

Terutama terkait mobilisasi kendaraan pengangkut material yang diduga melintasi atau menggunakan akses tersebut.

Persoalannya, jika kendaraan dengan muatan besar memang melintas di atas jembatan, maka perlu dipastikan apakah kapasitas kendaraan tersebut sesuai dengan kemampuan struktur jembatan.

Sebaliknya, apabila kondisi jembatan memang telah mengalami penurunan kekuatan akibat usia maupun persoalan struktur, pertanyaan berikutnya adalah apakah kondisi tersebut sebelumnya telah diketahui dan diperiksa oleh pihak yang berwenang.

Hamdani mengatakan usia jembatan tersebut diperkirakan sudah lebih dari satu dekade. Kondisi bagian bawah jembatan juga menjadi salah satu hal yang menurutnya perlu diperhatikan.

Ia menyebut bagian tertentu dari jembatan sebelumnya pernah mendapat penanganan atau penambahan lapisan.

“Untuk penanganannya pernah ada penambahan, baik dari pemerintah kota maupun perusahaan. Perusahaan di sekitar sini juga cukup peduli terhadap kondisi masyarakat,” kata Hamdani.

Dampak keruntuhan jembatan kini dirasakan masyarakat dalam skala cukup besar. Hamdani menyebut sedikitnya 13 RT terdampak. Jumlah warga yang merasakan dampaknya diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 orang.

Tidak hanya warga Mantuil, akses tersebut juga digunakan masyarakat dari wilayah lain. Bahkan, terdapat sekitar lima desa di Kabupaten Banjar yang ikut terdampak karena menggunakan jalur tersebut.

Terputusnya akses membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari mobilitas menuju tempat kerja, sekolah hingga kegiatan ekonomi.

Kondisi tersebut juga memaksa masyarakat mencari berbagai alternatif agar tetap dapat beraktivitas.

Warga bahkan berinisiatif menyediakan lokasi parkir di sekitar akses yang terputus. Penjagaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Hamdani mengatakan tidak ada pungutan resmi dalam aktivitas tersebut. Jika terdapat pemberian dari masyarakat, sifatnya sukarela.

“Mereka warga di sini. Jadi secara swadaya membantu menjaga kendaraan masyarakat. Tidak diminta biaya, kalau ada sifatnya sukarela,” ujarnya.

Sementara itu, proses pembangunan atau perbaikan jembatan baru masih berlangsung. Berdasarkan informasi yang diterima Hamdani, progres pekerjaan saat ini baru mencapai sekitar 40 persen. Selain struktur utama, masih terdapat sejumlah fasilitas pendukung yang perlu diselesaikan, termasuk penerangan.

Situasi tersebut membuat warga masih harus bersabar menghadapi terganggunya akses utama mereka.

Hamdani berharap pemerintah, pelaksana pekerjaan dan konsultan tidak hanya mengejar target penyelesaian, tetapi juga memastikan kualitas serta keamanan jembatan sebelum kembali dibuka untuk masyarakat.

Menurut dia, keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama karena jembatan tersebut digunakan ribuan warga dan masyarakat dari wilayah sekitar.

Keruntuhan jembatan Mantuil pada akhirnya menyisakan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban berbasis data.

Apakah keruntuhan disebabkan oleh faktor usia dan kondisi struktur? Apakah ada pengaruh beban kendaraan proyek? Apakah sebelumnya sudah dilakukan pemeriksaan terhadap kemampuan struktur jembatan? Dan bagaimana pengawasan terhadap kendaraan proyek yang menggunakan akses tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab berdasarkan dugaan maupun pengamatan masyarakat.

Diperlukan pemeriksaan teknis dari instansi berwenang dan keterangan pihak terkait untuk memastikan penyebab sebenarnya.

Karena itu, Hamdani berharap persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah.

Bagi masyarakat Mantuil, persoalannya bukan semata-mata kapan jembatan kembali berdiri. Lebih penting lagi, jembatan yang dibangun nantinya harus benar-benar aman, layak dan mampu melayani kebutuhan mobilitas ribuan warga.

Sebab, ketika sebuah jembatan yang menjadi akses vital masyarakat runtuh, yang dipertaruhkan bukan hanya konstruksi beton dan baja, tetapi juga keselamatan serta aktivitas masyarakat yang menggantungkan hidup pada akses tersebut. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *