Antisipasi Dampak El Nino, Komisi IV DPR RI Tinjau Kesiapan Balai Veteriner Banjarbaru

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik pada Masa Persidangan V Tahun 2025-2026 ke Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (3/7/2026). (Sumber Foto: Saukani/koranbanjar com)

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik pada Masa Persidangan V Tahun 2025-2026 ke Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (3/7/2026).

BANJARVARU,koranbanjar.com – Kunjungan ini difokuskan pada penguatan mitigasi dampak fenomena iklim El Nino guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, S.E., meninjau kesiapan balai dalam menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi dapat mengganggu sektor pertanian dan peternakan.

Siti Hediati Soeharto memberikan apresiasi tinggi terhadap Balai Veteriner Banjarbaru yang telah mendedikasikan diri selama 48 tahun.

Ia menekankan bahwa peran balai sebagai laboratorium rujukan regional di Kalimantan sangat vital, terutama dalam hal deteksi dini penyakit hewan dan penguatan biosekuriti.

“Berdasarkan prakiraan BMKG, sejumlah wilayah termasuk Kalimantan Selatan berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal. Ini risiko serius bagi produktivitas pertanian dan peternakan,” ujar Siti Hediati.

Ia menambahkan, Kalimantan Selatan memiliki posisi strategis sebagai daerah penyangga pangan nasional serta penopang kebutuhan pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Oleh karena itu, Komisi IV berkomitmen penuh memberikan dukungan kebijakan maupun anggaran untuk mempercanggih teknologi laboratorium agar pencegahan dini wabah penyakit hewan dapat dilakukan lebih optimal.

“Apapun yang berhubungan dengan kesejahteraan peternak dan nelayan adalah tugas dan tanggung jawab kami di Komisi IV,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Balai Veteriner Banjarbaru, drh. Aris Sutomo, M.Sc., menyoroti bahwa kesiapan pakan menjadi prioritas utama di tengah ancaman El Nino. Menurutnya, kekurangan pasokan air akibat cuaca ekstrem dapat mengancam kelangsungan hidup ternak.

“Pengaruh El Nino terhadap ternak sangat besar karena kebutuhan akan pakan dan air. Kami terus melakukan antisipasi dini agar tidak terjadi kerugian besar bagi masyarakat di kemudian hari,” ungkap Aris.

Selain ketersediaan pakan, upaya pencegahan penyakit tetap menjadi fokus utama pemerintah.

Khususnya terhadap penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Pemerintah telah melakukan pengadaan vaksin dalam jumlah besar sebagai langkah preventif.

Sebagai strategi jangka panjang, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) terus mendorong program Integrasi Sapi-Sawit (Siska).

Program ini dinilai efektif dalam meningkatkan populasi ternak sekaligus menjadi solusi adaptif dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Saat ini, Ditjen PKH memastikan bahwa ketahanan pakan nasional masih dalam kondisi aman.

Stabilitas ini terjaga berkat kondisi curah hujan yang terpantau masih mencukupi, serta pengembangan varietas rumput yang memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu panas dan kondisi minim air, seperti rumput bed.

Kunjungan kerja ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif bagi Komisi IV DPR RI untuk memastikan seluruh program dan anggaran yang dialokasikan dapat menjawab kebutuhan di lapangan.

Sehingga pasokan pangan asal hewan tetap terjaga dan stabilitas harga pangan nasional tetap stabil di tengah tantangan perubahan iklim. (kan/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *