Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Banjarbaru mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan kenaikan harga minyak goreng di pasaran, sekaligus memastikan ketersediaan stok masih dalam kondisi aman dan stabil. Rabu (29/4/2026).
BANJARBARU,koranbanjar,com – Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Banjarbaru, Rosida Ridha, mengatakan kenaikan harga minyak goreng dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global.
Dari sisi lokal, kenaikan ini dipicu gangguan distribusi serta meningkatnya biaya logistik atau biaya angkut akibat kenaikan harga BBM.
“Selain itu, distribusi yang didominasi pihak swasta juga membuat pengendalian harga menjadi lebih sulit,” ujarnya.
Ia menambahkan, faktor global juga turut berperan, terutama akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia secara signifikan, yang secara tidak langsung berdampak pada struktur biaya industri minyak goreng.
“Kenaikan harga minyak dunia hampir dua kali lipat, ini tentu berpengaruh terhadap harga di dalam negeri. Selain itu, harga plastik sebagai bahan kemasan juga ikut naik,” jelasnya.
Terkait minyak goreng bersubsidi Minyakita, Rosida mengakui sempat terjadi penurunan pasokan di pasar dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi tersebut kini telah kembali normal.
“Memang sempat berkurang minggu lalu, tetapi sekarang distribusi sudah kembali ditambah dan stok di pasar sudah normal,” ungkap Rosida.
Ia juga memastikan secara keseluruhan, ketersediaan minyak goreng di Banjarbaru masih mencukupi, baik untuk produk subsidi maupun kemasan premium.
“Stok di Bulog aman, sehingga kebutuhan masyarakat untuk minyak goreng kemasan premium maupun subsidi masih terpenuhi,” imbuhnya.
Selain minyak goreng, Roshida turut menyoroti kondisi harga LPG.
Ia menyebutkan kenaikan terjadi pada LPG non-subsidi, seperti tabung 12 kilogram dan 5,5 kilogram.
“Untuk LPG non-subsidi memang mengalami kenaikan harga. Namun, untuk LPG 3 kilogram bersubsidi, harganya tetap sesuai HET jika dibeli di pangkalan resmi,” jelasnya.
Meski demikian, Harga di pangkalan resmi tetap stabil sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), Ia mengakui tantangan muncul di tingkat pengecer yang sering kali menjual di atas harga pangkalan atau harga resmi.
Dinamika antara stok yang dinyatakan aman dengan sulitnya mencari kemasan 1 liter di pasar mengindikasikan adanya kendala dalam alur distribusi ke tingkat retail bawah.
Situasi ini memerlukan pengawasan lebih lanjut agar kenaikan harga plastik dan biaya logistik tidak memicu spekulasi harga minyak goreng dan bahan pokok lainnya yang lebih liar di tingkat pedagang pasar. (kan/dya)














