Jurnalis Juga Buruh yang Perlu Kehidupan Layak

Aku mengenalnya pertama kali sebagai jurnalis senior dan kompetitor dalam mencari berita di lapangan pada tahun 2000an, bahkan kompetitor bagi media cetak menaungi kami yang berbeda.

Di sisi lain dia juga bertempat tinggal masih sekampung dengan diriku di Martapura Kabupaten Banjar.

Nama lengkapnya adalah Denny Setiawan dengan kesehariannya di kampung dipanggil Iwan sedangkan kolega kerja biasa memanggilnya Denny.

Sisi yang lain lagi kami juga pernah satu kampus dan almamater ketika mengaji ilmu pendidikan bidang administrasi di perguruan tinggi swasta ternama di Kalimantan Selatan.

Di tengah perjalanan langkah mempertemukan kami semula bernaung media cetak berbeda menjadi rekan kerja dengan satu nama di perusahaan media cetak.

Berikutnya, kami tetap bergelut di dunia jurnalistik namun tidak lagi di media cetak terkemuka tetapi sudah resign dan memilih buka perusahaan sendiri dengan tetap profesi jurnalis dalam satu wadah media online di tahun 2019an.

Kendati langkah selanjutnya kami masing masing mempunyai media online sendiri, tetapi interaksi tetap terjalin dengan baik.

Namun, bukan tentang perbedaan atau persamaan maupun sisi totalitas dan loyalitas pada profesi jurnalis.

Tetapi, ulet dan tak kenal menyerah menapak garis langkah tak hanya menggeluti jalan profesi jurnalis.

Ia juga berupaya di jalan lain tidak hanya menjadi buruh sebagai jurnalis dengan menjalani beragam usaha sampingan.

Seperti usaha travel, papan bunga, hingga konsultan media, dan konsultan politik serta usaha lainnya. Terbaru, jualan kavling tanah.

Dunia hanya sementara, akhirat selamanya sehingga dia membekali diri di antaranya setiap tahun jembatani berbuka puasa bersama anak yatim dan duafa.

Malah, cita-cita memiliki yayasan anak yatim dan penghafal Al Qur’an mulai dijalaninya bertahap.

Hal yang diyakininya bahwa setiap manusia punya cobaan yang diberikan Allah SWT sesuai kemampuan umat, dan semua manusia mempunyai rejeki masing-masing yang tidak akan pernah tertukar.

Jurnalis juga buruh yang mempunyai keinginan untuk mewujudkan kehidupan layak, tentunya dengan jalan tidak menodai profesi.

Selamat Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026.

(Iday Ranban)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *