Usai Dilantik, Pengurus JMSI Kalsel 2025-2030 Bidik Media Siber Profesional dan Mandiri

Pengurus JMSI Kalsel periode 2025-2030. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Pelantikan pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Selatan periode 2025–2030 menjadi momentum penting bagi penguatan industri media digital di Banua. Tidak sekadar seremoni organisasi, kepengurusan baru menegaskan komitmennya untuk mendorong lahirnya perusahaan pers yang profesional, berintegritas, mandiri secara ekonomi, serta mampu beradaptasi menghadapi pesatnya perkembangan teknologi digital.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Selatan resmi melantik dan mengukuhkan jajaran pengurus periode 2025–2030 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan, Senin (8/6/2026).

Ketua JMSI Kalsel, Anshari Yannoor, mengatakan pelantikan kepengurusan baru menjadi titik awal penguatan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang kini dihadapi industri media siber.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menuntut perusahaan pers untuk terus berbenah agar tetap relevan, kredibel, dan mampu bersaing di tengah ketatnya kompetisi media digital.

“Pelantikan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ini merupakan komitmen bersama untuk memperkuat organisasi agar semakin profesional, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Anshari.

Ia menjelaskan, salah satu fokus utama JMSI Kalsel dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan standar perusahaan pers melalui pendampingan verifikasi media di Dewan Pers.

Saat ini, sebanyak 70 perusahaan media online tergabung sebagai anggota JMSI Kalsel. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen telah dinyatakan terverifikasi oleh Dewan Pers.

“Kami ingin seluruh anggota JMSI memiliki standar yang jelas dan memenuhi regulasi yang berlaku. Untuk media yang belum terverifikasi, akan kami dorong dan dampingi agar dapat mengikuti proses verifikasi dengan baik,” katanya.

Anshari menambahkan, JMSI secara nasional juga memiliki kelompok kerja khusus yang membantu proses verifikasi perusahaan pers sehingga dapat menjadi pendamping bagi media anggota yang ingin meningkatkan legalitas dan profesionalitasnya.

Selain fokus pada aspek kelembagaan, JMSI Kalsel juga bertekad meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan media siber.

Upaya tersebut dinilai penting mengingat tantangan industri pers saat ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kompetensi jurnalis dan pengelola media.

Untuk itu, kepengurusan baru telah menyiapkan sejumlah program strategis yang menjadi prioritas organisasi selama periode 2025–2030.

Program tersebut meliputi percepatan transformasi dan adaptasi teknologi media, peningkatan kapasitas jurnalis dan pemilik media, serta penguatan literasi media bagi masyarakat.

“Kami ingin jurnalis dan pemilik media memiliki kemampuan yang semakin baik dalam menghadapi perkembangan teknologi. Di sisi lain, masyarakat juga perlu dibekali literasi media agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi,” jelasnya.

Menurut Anshari, peningkatan literasi media menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung terciptanya ekosistem informasi yang sehat sekaligus meminimalkan penyebaran hoaks di ruang digital.

Sementara itu, Pembina JMSI Kalsel, Afrizaldi, mengingatkan bahwa industri media saat ini sedang menghadapi perubahan besar akibat transformasi digital yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, ia menilai perusahaan pers harus mampu berinovasi dan menyesuaikan model bisnis agar tetap bertahan di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.

“Media harus mampu mengembangkan model bisnis yang adaptif agar tetap eksis dan terus berkembang. Kemandirian ekonomi media menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga profesionalisme perusahaan pers,” tegas Afrizaldi.

Ia juga mendorong pengurus JMSI Kalsel untuk aktif menjalin komunikasi dengan para senior dan tokoh pers sebagai sumber pengalaman dan referensi dalam menjalankan organisasi.

Menurutnya, kolaborasi dan pertukaran pengalaman akan menjadi modal penting dalam menyusun program kerja yang relevan dengan kebutuhan industri media saat ini.

Afrizaldi berharap kepengurusan baru JMSI Kalsel mampu menghadirkan berbagai program nyata yang tidak hanya bermanfaat bagi anggota organisasi, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan dunia pers di Kalimantan Selatan.

“JMSI Kalsel harus menjadi organisasi yang tidak hanya besar dari sisi jumlah anggota, tetapi juga mampu menghadirkan program-program konkret yang berdampak bagi perusahaan pers dan masyarakat,” pungkasnya.

Dengan semangat kepengurusan baru, JMSI Kalsel optimistis dapat menjadi motor penggerak penguatan media siber di Banua, sekaligus mendukung terciptanya industri pers yang profesional, sehat, dan mampu menjawab tantangan era digital yang terus berkembang. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *