Sebanyak 140 Unit Alsintan Bajak Sawah Kabupaten Banjar Diduga Mubazir, Nilainya Ratusan Juta per Unit

Tokoh Petani di Sungai Batang, Hutomo.
Tokoh Petani di Sungai Batang, Hutomo.

Bantuan pemerintah pusat berupa ratusan unit alat mesin pertanian (alsintan) membajak sawah yang diberikan untuk Kabupaten Banjar diduga kuat mubazir. Pasalnya, ratusan unit alsintan tersebut tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian di Kabupaten Banjar.

BANJAR, koranbanjar.com – Bantuan pemerintah pusat berupa alat mesin pertanian untuk para petani di Kabupaten Banjar diduga mubazir atau sia-sia. Padahal, satu unit alsintan itu bernilai ratusan juta rupiah. Hal itu terjadi karena tidak adanya survei atau koordinasi terlebih dulu dengan penerima bantuan dalam hal ini petani.

Menurut salah seorang Tokoh Petani di wilayah trans Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Hutomo kepada koranbanjar.com, pada Minggu (19/04/2026), dia sangat menyayangkan bantuan pemerintah pusat melalui Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, berupa alsintan untuk membajak sawah yang diduga tidak dapat digunakan atau tidak cocok untuk lahan pertanian di wilayah Kabupaten Banjar.

“Kami tidak berani mengambil resiko menerima bantuan alsintan untuk membajak sawah dari Dinas Pertanian Kabupaten Banjar. Karena alsintan yang ingin diberikan memilik beban yang sangat berat, memiliki roda besar. Kalau diturunkan di lahan persawahan di wilayah kita ini, sudah dipastikan alat itu amblas. Karena lahan di wilayah kita ini kan banyak lahan gambut, bukan lahan keras,” ungkap Hutomo.

Kalau para petani berani mencoba menggunakan alsintan tersebut, para petani bukan mendapatkan kemudahan bertani, tetapi akan mengalami sebaliknya.

“Jangan-jangan petani akan sering kesulitan mengatasi alsintan yang amblas di sawah. Kalau amblas, kita butuh biaya yang banyak untuk mengangkat alat pertanian itu. Itu belum termasuk biaya pemeliharaan dan biaya operasional seperti membeli solar dan lain-lain,” paparnya.

Dia juga sangat menyayangkan, mengapa sebelum memberikan bantuan itu Pemerintah Pusat tidak melakukan survei atau berkoordinasi dulu dengan para petani di Kabupaten Banjar.

“Mestinya, pihak pemerintah pusat bertanya dulu dengan para petani kita di sini, apakah alsintan yang akan diberikan cocok dengan medan atau lahan persawahan di tempat kita. Jangan langsung memberikan bantuan tanpa mengetahui secara pasti cocok atau tidak cocok alsintan itu di tempat kita sini,” kata dia.

Kalau bantuan sudah terlanjur disalurkan dan ternyata tidak cocok dengan lahan pertanian di sini, lanjut dia, akhirnya ratusan unit alsintan itu kan tidak dapat digunakan.

“Banyak sekali bantuan alsintan itu yang disalurkan untuk petani kita di Kabupaten Banjar melalui Dinas Pertanian, bahkan sebagian sudah dibagikan, namun tidak dapat digunakan. Kalau tidak salah, jumlahnya mencapai 140 unit. Dan harganya tidak murah, satu unit itu mencapai ratusan juta rupiah. Sayangkan kan jadi mubazir,” jelasnya.

Hutomo mengaku juga sempat mendapat tawaran untuk menerima bantuan alsintan itu dari Dinas Pertanian, namun dia tidak bisa menerima begitu saja, karena menyangkut tanggung jawab. “Saya juga diminta untuk menerima bantuan itu, tapi saya sampaikan terlebih dulu dengan pihak Dinas Pertanian, bahwa saya tidak mesti harus menggunakan. Sampai sekarang tidak dapat saya gunakan untuk lahan pertanian di wilayah kita. Saya bicara begini apa adanya, karena memang demikian faktanya,” pungkasnya.(sir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *