Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi potensi ancaman bencana selama musim kemarau.
BANJAR,koranbanjar.com – BPBD berencana mengusulkan penetapan status siaga bencana untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan kepada Bupati Banjar pada 15 Juli 2026 mendatang.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, menjelaskan bahwa meski saat ini kondisi di lapangan masih relatif terkendali, pihaknya tidak ingin kecolongan.
Ia mencatat bahwa sejumlah titik panas (hotspot) dan insiden kebakaran lahan kecil telah terdeteksi, namun masih dapat ditangani berkat koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Status siaga akan kita ajukan kepada Bupati pada 15 Juli 2026. Bersamaan dengan itu, nantinya akan dilakukan aktivasi posko siaga bencana di tiga titik,” ujar Wasis usai Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Selatan di Gedung Idham Chalid, Senin (6/7/2026).
Meskipun penetapan status siaga baru akan dilakukan pertengahan Juli, langkah mitigasi sudah berjalan di lapangan.
BPBD terus mengintensifkan patroli rutin dan memberikan bantuan air bersih bagi masyarakat di wilayah yang mulai mengalami kekeringan.
Salah satu aksi nyata telah dilakukan di Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul, di mana BPBD menyalurkan bantuan tiga tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga setempat.
Dalam upaya penanganan, BPBD menetapkan enam kecamatan yang menjadi prioritas kewaspadaan selama musim kemarau tahun ini.
Yakni, Kecamatan Martapura Barat, Astambul, Cintapuri Darussalam, Gambut, Martapura Timur, dan Kecamatan Pengaron.
Wasis menegaskan bahwa ancaman kekeringan dan karhutla merupakan dua hal yang saat ini menjadi perhatian serius.
Ia pun mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan bencana.
“Harapan kita tentu sama-sama menjaga dan mencegah agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kami minta masyarakat tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan atau aktivitas lain yang berpotensi memicu api,” pungkasnya. (kan/dya)













