Mengusung tema dalam upaya pencegahan bullying di sekolah, tim PIK-R SMPN 7 Banjarmasin menampilkan sebuah kabaret atau seni pertunjukan hiburan yang menggabungkan musik, tari, komedi, dan sandiwara yang dipadukan dengan madihin, dalam lomba Jambore Ajang Kreativitas 2026, yang diselenggarakan selama dua hari di Banjarmasin pada Sabtu dan Senin (11 dan 13 April 2026).
BANJARMASIN, Koranbanjar.com – Dari sekitar 20 peserta yang ikut mulai dari tingkat SMP dan SMA sederajat hingga Perguruan Tinggi, tim PIK-R SMPN 7 Banjarmasin berhasil meraih juara pertama.
Diawali dengan madihin, pertunjukan pentas seni yang ditampilkan oleh sekelompok pelajar SMPN 7 Banjarmasin ini, mampu memukau para penonton hingga dewan juri yang berada di dalam Aula Khatib Dayyan.
Dalam narasinya, mereka ingin menyampaikan sebuah pesan moral tentang betapa berbahayanya perbuatan atau aksi bullying di lingkungan sekolah jika terus dibiarkan. Setelah pesan moral itu tersampaikan tim PIK-R SMPN 7 Banjarmasin melanjutkan penampilan pentas seni dramanya.
Mengusung tema dalam upaya pencegahan bullying di sekolah yang mereka beri judul “Drama Of Caper (cari perhatian) berujung dilabrak”. Yang diperankan Devit sebagai Justin & Pak Guru, Siti Bukit Silva sebagai Alexa, dan Ayda sebagai Baby, serta Evita sebagai Lili.

Dalam adegan sandiwaranya mereka menceritakan awal mula terjadinya aksi bullying, hingga berujung hampir terjadi aksi mengakhiri hidup dengan cara yang tidak wajar atau bunuh diri, akibat menjadi kotban aksi bully.
Aksi tersebut berawal saat Lili tertarik kepada Justin, hingga terjadi tukaran nomor handphone. Mengetahui hal itu, Alexa yang merupakan kekasih dari Justin dalam alur cerita drama tersebut langsung marah dan tidak terima dengan kejadian tersebut. Alexa pun lantas mengajak temanya Baby untuk melabrak Lili, hingga terjadi aksi bullying bahkan kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Lili yang menjadi korban aksi bully di sekolah merasa sangat terpukul, hingga akhirnya nekat ingin mengakhiir hidup atau bunuh diri.
Penampilan pertunjukan pentas seni sebuah drama yang ditampilkan oleh sekelompok pelajar SMPN 7 Banjarmasin ini, mampu memikat penonton dan dewan juri. Hasilnya mereka berhasil meraih juara pertama, setelah bersaing sekitar 20 peserta yang ikut mulai dari tingkat SMP dan SMA sederajat hingga Perguruan Tinggi.
Dieo Oktaviani salah satu guru di SMPN 7 Banjarmasin yang juga sebagai pembina tim PIK-R SMPN 7 Banjarmasin mengaku tidak menyangka, bahwasanya anak didiknya yang menjadi perserta meraih juara satu.
“Sangat tidak menyangka sampai masuk final dan hingga meraih juara satu, ada saingan dari SMA dan SMK bahkan Perguruan Tinggi dari ULM dan UIN serta Universitas Sari Mulia. Nah kemudian setelah melakukan evaluasi pada penampilan pertama masuk 10 besar atau masuk final serta masuk nominasi. Padahal targetnya sebenarnya juara harapan saja, akan tetapi hasilnya justru juara pertama,” katanya.
Bahkan menurut Dieo sapaan akrabnya, dalam ajang lomba tersebut dirinya dan seluruh tim hanya 10 hari saja dalam melakukan persiapan.
“Perisiapan lomba 10 hari, latihan setiap hari lalu hari minggu tidak latihan, hanya pas pulang sekolah satu kali, sisanya pakai jam terakhir sekolah, tiga jam dalam satu hari latihan,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai tema dan ide sekenario inspirasinya datang darimana, Dieo mengaku karena melihat setiap hari adanya aksi perundungan.
“aksi perundungan banyak macamnya ada yang tidak langsung, ada fisik, ada verbal, serta ciber juga, semisal ada pemberian nama gelar dan menyebut nama orang tua sudah masuk aksi bully namun tanpa disadari,” tutupnya.
Rencananya dengan meraih juara satu ini pihaknya diwacanakan akan maju ke ajang yang lebih tinggi, yakni tingkat provinsi, namun hal tersebut masih sebuah wacana. Meski demikian pihaknya atau para pendamping peserta diminta untuk membuat profil sekolah dan PIK-R nya.
(rth)













