Kondisi jalan rusak parah di Desa Kuin Kecil, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, kembali menuai keluhan. Salah satu guru pengajar di SDN Kuin Kecil, Hariyadi menyebutkan, kerusakan jalan tersebut telah berlangsung hampir 10 tahun tanpa perbaikan permanen dari pemerintah daerah.
BANJAR, koranbanjar.com – Menurut Hariyadi, jalan desa yang menjadi akses utama masyarakat itu dipenuhi lubang, tergenang air, dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Panjang ruas jalan rusak diperkirakan mencapai sekitar 3 kilometer, membentang hingga perbatasan Desa Kuin Besar.
“Kondisi jalan ini sudah sangat lama, kurang lebih 10 tahun. Tapi sampai sekarang belum ada perbaikan maksimal dan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Banjar, khususnya DPRD dan dinas terkait,” ujar Hariyad di sela aktivasinya sebagai seorang pengajar di SDN Kuin Kecil, Selasa (3/2/2026).
Hariyadi mengungkapkan, dampak jalan rusak tersebut sudah memakan banyak korban. Ia mengaku sering menyaksikan langsung warga terjatuh akibat jalan berlubang dan licin.
“Banyak warga jatuh, motor rusak, bahkan ada yang membawa tabung gas terbalik dan jatuh hingga gas berserakan di jalan,” tuturnya.
Keluhan juga datang dari para guru yang mengajar di Desa Kuin Kecil. Guru-guru tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Martapura, Kurau, hingga Kota Banjarmasin, dan harus melintasi jalan rusak itu setiap hari untuk mengajar.
Di Desa Kuin Kecil sendiri terdapat beberapa lembaga pendidikan, di antaranya SD Kuin Kecil, SMP, PAUD, serta SMA Mawar Putih.
“Hampir semua guru mengeluh. Motor mereka sering rusak, bahkan ada yang setiap minggu harus ke bengkel karena jalan ini,” ungkapnya.
Selain berdampak pada sektor pendidikan dan keselamatan, kerusakan jalan tersebut juga dinilai menghambat perekonomian desa. Para pedagang dari luar daerah kerap mengurungkan niat masuk ke Desa Kuin Kecil karena khawatir melewati jalan rusak.
“Pedagang dari luar harus berpikir seribu kali untuk masuk ke desa ini. Ini jelas menghambat perputaran ekonomi,” kata Hariyadi.
Para petani dan pekerja kebun juga merasakan dampak serius. Saat membawa hasil panen, mereka sering mengalami kecelakaan akibat kondisi jalan yang tidak layak.
“Sering jatuh saat membawa hasil kebun atau pertanian, ini sangat merugikan dan melemahkan ekonomi warga,” ucapnya.
Padahal, lanjutnya, jalan tersebut merupakan jalan poros utama yang menghubungkan dan dilalui masyarakat dari Desa Kuin Kecil, Desa Kuin Besar, Desa Terapu, dan Desa Podok.
“Jalan ini menjadi akses vital aktivitas warga, termasuk distribusi barang dan jasa,” tambahnya.

Atas kondisi tersebut, Hariyadi berharap adanya tindakan nyata dan signifikan dari Pemerintah Kabupaten Banjar, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) serta para wakil rakyat di DPRD Kabupaten Banjar, terutama dari daerah pemilihan (dapil) Kecamatan Aluh-Aluh.
“Kami sangat berharap ada perhatian serius, bukan setengah-setengah. Dibutuhkan perbaikan permanen agar jalan ini tidak lagi berlubang, tidak memakan korban, dan tidak menjadi hambatan bagi guru dan masyarakat,” tegas Hariyadi yang juga anggota Laung Kuning ini.
Ia juga meminta adanya kolaborasi dan sinergi antara DPRD dan Dinas PUPRP untuk segera melakukan rehabilitasi jalan secara menyeluruh.
“Kalau dibiarkan terus, desa ini tidak akan pernah maju. Jalan adalah urat nadi ekonomi dan pendidikan,” pungkasnya.
Sementara Kepala Desa Kuin Kecil, Imran ketika dikonfirmasi, mengungkapkan bahwa dirinya menyiasati Rp50 juta setiap tahun dari Dana Desa untuk penanggulangan jalan rusak. Sementara total Dana Desa yang diterima Desa Kuin Kecil per tahun sangat minim berkisar hanya Rp300 juta.
“Saat ini penanganannya dilakukan dengan cara tambal sulam untuk menutupi lubang-lubang besar di beberapa titik. Namun, perbaikan tersebut tidak bertahan lama, paling hanya sekitar satu tahun. Batu penimbun kembali terkikis oleh air pasang, lalu lubang muncul lagi,” ujar Imran.
Ia menjelaskan, kerusakan jalan poros tersebut dipicu oleh kondisi alam. Setiap malam, air pasang merendam jalan, sementara pada siang hari sering diguyur hujan.
Kondisi ini diperparah dengan cuaca ekstrem yang belakangan melanda wilayah Kalimantan Selatan.
“Kerusakan jalan ini disebabkan air pasang dan hujan. Apalagi sekarang musim hujan cukup ekstrem,” jelasnya.
Menurut Imran, hingga saat ini jalan poros di Desa Kuin Kecil belum pernah mendapatkan penanganan signifikan berupa rehabilitasi permanen. Jalan tersebut bahkan belum pernah diaspal.
“Belum pernah diaspal dan kondisinya sudah sekitar sepuluh tahun. Namun, tingkat kerusakan yang semakin parah itu terjadi pada tahun 2024 dan 2025,” tutupnya. (yon/bay)













