Banjar  

Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Pastikan Nol Kasus Hantavirus

Kepala Bidang P2P Dinkes Kabupaten Banjar, Hj. Mariana, SKM. (Sumber Foto: Dinkes Kabupaten Banjar/koranbanjar.com)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar memastikan hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus Hantavirus.

BANJAR,koranbanjar.com – Penegasan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran di tengah masyarakat Kabupaten Banjar.

Penegasan itu dikemukakan kendati surat edaran kewaspadaan sudah diterbitkan sejak akhir 2025 sebagai bentuk antisipasi dini sesuai arahan Kemenkes.

Kepala Bidang P2P Dinkes Kabupaten Banjar, Hj. Mariana, SKM, menyatakan bahwa meski surat edaran kewaspadaan sudah diterbitkan namun secara fakta lapangan, kasus tersebut nihil di Kabupaten Banjar.

Hantavirus memiliki risiko pandemi yang sangat rendah karena penularannya spesifik dari hewan (tikus) ke manusia, bukan antarmanusia seperti COVID-19.

Ditularkan melalui kontak dengan tikus (urine, air liur, atau kotoran). Virus dapat terhirup manusia jika kotoran tikus yang kering tersapu dan terbang ke udara.

“Untuk kasus nyatanya di wilayah kita sebenarnya memang tidak ada. Alhamdulillah, belum ada kasusnya sama sekali,” ungkap Mariana pada Senin (11/5/2026).

Ia menambahkan bahwa gejala Hantavirus memang cukup umum dan mirip dengan penyakit lain seperti tifus, malaria, atau demam biasa.

Oleh karena itu, tenaga medis akan lebih fokus pada riwayat kontak pasien.

Risiko menjadi pandemi pun dinilai sangat kecil karena pola penularannya yang spesifik dari hewan ke manusia.

Surat edaran kewaspadaan sudah diterbitkan sejak akhir 2025. (Sumber Foto: Dinkes Kabupaten Banjar/koranbanjar.com)

Pihak Puskesmas telah diinstruksikan untuk memberikan edukasi mengenai pola hidup bersih untuk menghindari kontak dengan hewan pengerat.

“Antisipasi tetap perlu, tapi tidak perlu khawatir berlebihan seperti saat pandemi COVID-19,” jelasnya

Papar Mariana, mungkin orang-orang akan bertanya apakah ada kasus di tempat kita.

Padahal, sebagai perbandingan, untuk kasus leptospirosis yang sama-sama disebabkan oleh tikus saja, dalam setahun itu sangat jarang terjadi kasus.

Upaya koordinasi antara dinas terkait dan keterbukaan informasi seperti ini sangat krusial, terutama di wilayah yang sedang fokus pada penguatan sektor pangan dan infrastruktur.

“Dengan lingkungan yang bersih dan sanitasi yang terjaga di area pemukiman maupun pertanian, risiko penyakit yang dibawa oleh hewan pengerat tentu dapat ditekan seminimal mungkin,” tutupnya.

Bagi masyarakat yang ingin memantau perkembangan terkini, pihak Dinkes mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi valid.

Melalui akun Instagram resmi @p2p_dinkesbanjar agar tidak termakan isu hoaks yang meresahkan. (kan/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *