Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, sebagian murid SDN Basirih 10 lebih dulu menghadapi ujian yang sesungguhnya. Mereka harus menerobos jalan berlumpur dan genangan air pasang hingga membuat seragam sekolah basah kuyup. Pemandangan ini bukan terjadi sekali dua kali, melainkan hampir setiap hari selama bertahun-tahun.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Akses menuju SDN Basirih 10 di kawasan Simpang Jelai, Kelurahan Mantuil, menjadi gambaran nyata masih adanya kesenjangan infrastruktur pendidikan di daerah pinggiran.
Jalan yang menghubungkan permukiman warga dengan sekolah tersebut kerap terendam air pasang. Kondisi itu menyebabkan para siswa harus berjalan perlahan agar tidak terjatuh.
Majdi, warga yang tinggal di sekitar lokasi, mengatakan dirinya sering melihat anak-anak sekolah datang dengan pakaian yang sudah basah.
“Kadang baru berangkat sekolah saja seragam mereka sudah kena air. Kalau jatuh, seluruh badan bisa basah,” katanya, Selasa (2/6/2026) saat dimintai keterangan yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan jalan rusak ekstrem ini.
Tidak hanya pakaian, buku pelajaran dan perlengkapan sekolah juga kerap terkena air.
Meski demikian, para siswa tetap berangkat sekolah dengan semangat. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah menganggap kondisi tersebut sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Warga berharap perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada pembangunan gedung sekolah, tetapi juga akses menuju sekolah yang menjadi kebutuhan dasar para pelajar. (yon/bay)













