Banjar  

Dampak Ekonomi Global Kenaikan Harga Minyak Goreng Meluas, DKUMPP Kabupaten Banjar Imbau Warga Jangan Panic Buying

Kepala Seksi Pengendalian Bahan Pokok Penting (Bapokting) DKUMPP Kabupaten Banjar, Elok Yuli Suriyanti. (Sumber Foto: Saukani/koranbanjar.com)

Berdasarkan pantauan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUMPP) Kabupaten Banjar. Harga minyak goreng kemasan di pasaran mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir, kenaikan terjadi pada sejumlah merk minyak goreng, sementara Minyakita disebut masih mengacu pada harga eceran tertinggi (HET). Selasa (5/5/2026).

BANJAR,koranbanjar,com – Melalui Kepala Seksi Pengendalian Bahan Pokok Penting (Bapokting) DKUMPP Kabupaten Banjar, Elok Yuli Suriyanti mengatakan, bahwa kenaikan harga minyak goreng kemasan diduga dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya kondisi ekonomi global.

Menurutnya, konflik yang terjadi di luar negeri turut berdampak pada ekonomi global, termasuk terhadap biaya bahan baku dan distribusi sejumlah komoditas.

“Karena minyak goreng dikemas menggunakan plastik, sementara bahan baku plastik berkaitan dengan Nafta. Jadi ketika harga bahan baku ikut terdampak, biaya kemasan juga bisa berpengaruh,” ujarnya.

Lanjutnya berdasarkan pantauan, harga minyak goreng kemasan sederhana saat ini berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per liter.

Sementara untuk Minyakita, harganya masih mengacu pada HET sebesar Rp15.700 per liter.

Elok juga menyebut, hampir seluruh minyak goreng kemasan bermerek mengalami penyesuaian harga. Beberapa di antaranya seperti Bimoli dan Tropical.

Dengan demikian. Untuk menjaga stabilitas harga, DKUMPP Banjar terus melakukan pemantauan secara berkala di sejumlah pasar.

Ia juga mengimbau pedagang agar tidak menaikkan harga secara berlebihan, selain itu masyarakat diminta tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar atau panic buying.

“Jangan membeli secara borongan atau menimbun, kasihan warga lain yang juga membutuhkan. Menimbun dalam jumlah kecil pun tetap berdampak,” imbau Elok Yuli Suriyanti.

Di tempat yang sama, Staf Seksi Bapokting DKUMPP Kabupaten Banjar, Abdurrahim mengatakan, bahwa stok sejumlah bahan pokok di pasar-pasar yang dipantau masih relatif aman.

Komoditas seperti gula, minyak goreng, tepung, sayuran, telur, hingga bahan pangan lainnya masih tersedia di pasaran.

Namun meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai potensi kenaikan harga akibat gangguan distribusi.

Karena menurut Abdurrahim, kebakaran gudang yang terjadi di kawasan Pasar Lima Banjarmasin turut menjadi perhatian.

Faktor risiko distribusi yang signifikan ke beberapa daerah yang terdampak, seperti Kabupaten Banjar.

“Mudah-mudahan distribusi dari luar daerah tetap lancar. Walaupun ada gudang yang terbakar, kami tetap optimistis stok di Kabupaten Banjar aman,” ucapnya.

DKUMPP Kabupaten Banjar juga mencatat selain kenaikan minyak goreng, juga terjadi perubahan harga pada komoditas sayuran.

Tomat misalnya, naik dari kisaran Rp15.000 menjadi sekitar Rp20.000 per kilogram dalam dua hari terakhir.

“Sayuran itu cukup dinamis. Kalau distribusi lancar dan stok banyak, harga bisa turun lagi,” jelasnya

Terkait bumbu dapur, kenaikan disebut tidak terlalu signifikan, untuk harga bawang merah terpantau berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram, tergantung kualitas.

Sementara bawang putih masih berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.

Sementara itu kenaikan harga minyak goreng mulai dirasakan langsung para pedagang.

Salah satu pedagang di Pasar Martapura, Muhammad Nasih mengatakan, harga minyak goreng curah maupun kemasan mengalami kenaikan sejak mencuatnya isu kenaikan harga BBM dan harga plastik.

“Awalnya sekitar Rp17.000, sekarang naik sampai Rp21.000 per liter. Kalau minyak goreng bermerek, dari sekitar Rp22.000 sekarang bisa Rp24.000,” ungkapnya.

Nasih menyebut stok minyak goreng saat ini cenderung menipis. Bahkan, beberapa jenis barang masih kosong dari distributor, sementara untuk pemakaian masyarakat banyak.

Ia berharap harga minyak goreng bisa kembali normal, karena kenaikan harga mulai berdampak pada daya beli masyarakat.

“Harapannya mudah-mudahan normal lagi. Pembelian mulai menurun, pelanggan juga banyak yang mengeluh,” tutupnya.

Upaya pemantauan berkala yang dilakukan Pemkab Banjar saat ini sangat menentukan agar kenaikan harga sayuran dan minyak goreng tidak memicu inflasi daerah yang lebih tinggi, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. (kan/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *