Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Banjar membantah bahwa bantuan pemerintah pusat berupa alsintan traktor (TR) roda 4 disebut mubazir atau sia-sia. Pasalnya, sebab alsintan tak dapat digunakan untuk wilayah Martapura Barat dan Martapura Timur karena intensitas air pascabanjir yang masih tinggi.
BANJAR, koranbanjar,com – Menurut Kepala Dinas (Distan) Kabupaten Banjar Warsita melalui Kabid Sarana Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan, Nurul Chatimah, pemberitaan dari pernyataan petani di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, yang menyebutkan bantuan pemerintah pusat berupa 140 unit alsintan tidak dapat digunakan atau mubazir, itu tidak benar.
Nurul Chatimah memaparkan, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk Kabupaten Banjar tersebut dalam rangka program Swasembada Pangan Presiden Prabowo, alat-alat ini langsung dikirim oleh pemerintah pusat.
“Untuk unit TR roda 4 ini telah disesuaikan dengan kondisi lahan rawa di wilayah kita Kabupaten Banjar karena dilengkapi dengan roda apung,” ujarnya.
Selain Traktor roda 4 bantuan yang disalurkan Kementerian Pertanian RI untuk wilayah Kabupaten Banjar meliputi berbagai jenis alat teknis, yaitu Traktor Roda 2, Combine Harvester (alat panen), Crawler Alat tanam dan Pompa air. Selain mesin, petani juga mendapatkan sarana produksi lain seperti benih dan dolomit.
Ia juga menjelaskan, saat ini banyak lahan di Kabupaten Banjar, khususnya Martapura Barat dan Martapura Timur yang masih terendam pascabanjir dan kondisi air yang masih tinggi, alat tersebut belum bisa digunakan.
“Diperkirakan, petani baru bisa mulai mengolah lahan pada bulan Mei atau Juni, menyesuaikan dengan persiapan musim tanam,” papar Nurul.
Namun di beberapa wilayah kecamatan lain seperti Beruntung Baru, Gambut, Tatah Makmur, Sungai Tabuk sudah memakai unit TR 4 dan efektif.
Lanjutnya, mekanisme penyaluran bantuan dilakukan melalui dua jalur utama sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) yaitu Brigade Pangan yang dibentuk untuk mengelola minimal 150 hektar lahan.
“Pada tahap pertama, bantuan disalurkan untuk 40 Brigade Pangan. Bantuan alsintan traktor roda 4 diberikan secara langsung karena merupakan hak Brigade Pangan yang tercantum dalam juknis,” katanya
Kemudian Gapoktan dan Poktan (Gabungan Kelompok Tani), harus mengajukan proposal usulan ke Dinas Pertanian terlebih dulu dan wajib melalui proses verifikasi lapangan oleh dinas untuk mengecek keaktifan kelompok dan ketersediaan lahan.
BACA JUGA : Sebanyak 140 Unit Alsintan Bajak Sawah Kabupaten Banjar Diduga Mubazir, Nilainya Ratusan Juta per Unit
“Karena memang untuk alokasi kegiatan optimalisasi lahan (Opla) ini, Kabupaten Banjar ditarget 15.000 hektare awalnya. Meskipun realisasinya kan tidak sebesar itu, dan untuk cetak sawah kita ditarget 2.300 hektare,” jelasnya.
Dinas Pertanian juga selalu melakukan monitoring dan mengevaluasi (monev) jika alat terbukti tidak dimanfaatkan atau tidak sesuai dengan kondisi lapangan di suatu kelompok, maka alat tersebut akan ditarik dan direlokasi ke kelompok tani lain yang lebih membutuhkan.
“Jadi tidak ada dari Dinas Pertanian ini. Maksudnya memaksa petani harus memakai, karena sudah sesuai dengan juknis dan SOP nya,” tambahnya.
Distan menegaskan bahwa alat bantuan ini diberikan secara gratis tanpa pungutan biaya apa pun dan dilarang keras untuk diperjualbelikan.
Setiap kelompok penerima diberikan pelatihan untuk para operator, baik oleh pihak penyedia maupun dari UPTD Mektan. Optimalisasi ini menjadi prioritas, karena keunggulan utama TR4 adalah kemampuannya mempercepat proses pengolahan lahan yang digarap petani dapat cakupan luasan yang besar dibandingkan alat konvensional.
Alsintan ini sangat bermanfaat untuk modernisasi pertanian di Kabupaten Banjar mengingat antara SDM petani dan luas lahan pertanian tidak seimbang.
Sebelumnya menurut salah seorang Tokoh Petani di wilayah trans Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, dia sangat menyayangkan bantuan pemerintah pusat melalui Dinas Pertanian, berupa alsintan untuk membajak sawah yang diduga tidak dapat digunakan atau tidak cocok untuk lahan pertanian di wilayah Kabupaten Banjar.
Dia tidak berani mengambil resiko menerima bantuan alsintan untuk membajak sawah dari Dinas Pertanian Kabupaten Banjar. Karena memiliki beban yang sangat berat, memiliki roda besar.
Menurutnya kalau diturunkan di lahan persawahan di wilayahnya sudah dipastikan alat itu amblas, karena banyak lahan gambut, bukan lahan keras. (kan/sir)














