Kisah tentang seorang pemuda yang dikenal gemar melakukan maksiat justru berakhir dengan kabar mengejutkan. Setelah meninggal dunia, pemuda tersebut dikisahkan terlihat berada di tempat yang mulia dan mendapatkan kenikmatan di dalam surga.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Kisah tersebut disampaikan Guru Iskandar dalam sebuah tausiah pada acara memperingati berdirinya Majelis Taklim Bahasyim ke 29 tahun di Jalan Tembus Mantuil Banjarmasin, Minggu (7/9/2026)
Lanjut, Guru Iskandar menceritakan, pemuda itu sepanjang tahun dikenal sering melakukan maksiat kepada Allah SWT. Namun, ada satu kebiasaan yang menjadi sisi berbeda dalam kehidupannya.
Setiap kali bulan Ramadan tiba, pemuda tersebut meninggalkan kebiasaan buruknya dan memperbanyak kegiatan keagamaan.
“Setiap datang bulan Ramadan, dia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Siang dan malam waktunya digunakan untuk menghadiri majelis ilmu,” tutur Guru Iskandar.
Tidak hanya menghadiri majelis ilmu, pemuda itu juga mengisi waktunya dengan membaca Al-Qur’an, menghadiri undangan keagamaan serta berbagai kegiatan yang mendekatkannya kepada Allah SWT. Namun, setelah Ramadan berakhir, kebiasaan buruknya kembali dilakukan.
Kondisi tersebut berlangsung selama beberapa tahun. Maksiat seolah menjadi kebiasaan dalam kehidupannya, sementara Ramadan menjadi momentum baginya untuk berhenti, bertaubat dan memperbanyak amal ibadah. Hingga suatu ketika, pemuda tersebut meninggal dunia.
Masyarakat yang mengetahui perjalanan hidupnya tentu mengenalnya sebagai seseorang yang banyak melakukan maksiat. Tidak banyak yang menyangka bagaimana akhir kehidupannya di hadapan Allah SWT.
Namun, setelah beberapa waktu pemuda itu wafat, seorang saleh dikisahkan bermimpi melihat pemuda tersebut berada di dalam surga.
Ia berada di tempat yang mulia dan mendapatkan berbagai kenikmatan dari Allah SWT.
Orang saleh itu pun merasa heran. Dalam mimpinya ia bertanya kepada pemuda tersebut mengenai sebab dirinya mendapatkan kemuliaan tersebut.
Pemuda itu kemudian menjelaskan bahwa salah satu sebab yang menjadi keberkahan baginya adalah kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW serta kebiasaannya menghadiri majelis yang di dalamnya dibacakan maulid dan salawat kepada Rasulullah SAW.
“Bukan hanya di bulan Ramadan saya berada di majelis ilmu. Setiap bulan saya hadir di majelis, membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW,” demikian kisah yang disampaikan Guru Iskandar.
Menurut Guru Iskandar, kisah tersebut bukan untuk dijadikan alasan bagi seseorang melakukan maksiat dengan anggapan akan tetap mendapatkan ampunan Allah SWT.
Sebaliknya, kisah itu mengandung pelajaran bahwa manusia tidak boleh meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun serta tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.
Terlebih, majelis ilmu dan majelis yang mengingatkan manusia kepada Allah serta Rasulullah SAW dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat iman dan memperbaiki diri.
Guru Iskandar kemudian mengutip pelajaran dari para ulama tentang seseorang yang tidak boleh terlalu mengandalkan amal ibadahnya sendiri.
Sebab, salat, puasa dan berbagai amal kebaikan yang dilakukan manusia tetap merupakan karunia Allah SWT.
“Jangan kita memegang amal kita. Jangan kita merasa karena salat kita, karena puasa kita, kemudian kita pasti mendapatkan surga,” jelasnya.
Menurutnya, seorang hamba hendaknya tetap beramal sekaligus menggantungkan harapan kepada rahmat Allah SWT.
Dalam konteks itulah, kecintaan kepada Rasulullah SAW juga diharapkan menjadi bagian dari bekal seorang Muslim dalam menjalani kehidupan.
Guru Iskandar mengajak jamaah untuk bertanya kepada diri sendiri, berapa banyak waktu dan usia yang telah dihabiskan selama hidup.
Jangan sampai usia yang diberikan Allah SWT berlalu tanpa bekal amal, ilmu, taubat dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Semoga kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW menjadi modal untuk bisa bertemu dengan beliau dan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala,” pesannya.
Kisah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang.
Karena itu, pintu taubat tidak boleh ditutup selama seseorang masih hidup. Sebaliknya, setiap kesempatan untuk memperbaiki diri, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, bersalawat dan melakukan amal kebaikan hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebab, manusia tidak pernah tahu amal mana yang kelak menjadi sebab datangnya rahmat Allah SWT. (yon/bay)









