Dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja putri di Desa Cindai Alus, Tim Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
BANJAR,koranbanjar.com – Program yang berlangsung selama tiga bulan, mulai Mei hingga Juli 2026, ini berfokus pada edukasi penatalaksanaan dismenore (nyeri haid) di Posyandu Remaja setempat.
Desa Cindai Alus memiliki populasi sebanyak 7.449 jiwa dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani.
Tingkat pendidikan formal masyarakat yang sebagian besar masih tergolong menengah ke bawah berimplikasi pada terbatasnya literasi kesehatan reproduksi di keluarga.
Sebelum program ini dilaksanakan, akses informasi resmi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja masih sangat terbatas.
Sebagian besar remaja putri memperoleh pemahaman mengenai menstruasi dan penanganan nyeri haid dari teman sebaya atau media sosial yang tidak selalu benar secara medis.
Kondisi ini berisiko memicu kesalahan penanganan, termasuk penggunaan obat-obatan analgesik tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, kesibukan orang tua bertani serta kurangnya program edukasi terstruktur membuat pemahaman remaja kurang optimal.
Melihat permasalahan tersebut, tim pengabdian masyarakat merancang program edukasi terstruktur yang terintegrasi dengan kegiatan Posyandu Remaja.
Didukung penuh oleh bidan desa dan kader setempat.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 remaja putri, di mana mayoritas peserta berada pada kelompok usia 10–13 tahun (54%), diikuti usia 14–16 tahun (32%), dan usia 17–18 tahun (14%).
Intervensi dilakukan menggunakan media buku saku visual dan ringkas agar materi lebih menarik serta mudah dipahami oleh remaja.
Proses evaluasi dilakukan secara terukur menggunakan kuesioner pretest (20 pertanyaan) sebelum pemberian materi, sertapostest yang dilaksanakan pada pertemuan Posyandu Remaja bulan berikutnya.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang sangat signifikan pada peserta:
Sebelum Edukasi (Pre Test): Sebanyak 50% peserta (25 anak) berada pada kategori pengetahuan kurang, 34% (17 anak) kategori cukup, dan hanya 16% (8 anak) yang berpengetahuan baik.
Sesudah Edukasi (Post Test): Proporsi pengetahuan baik meningkat pesat menjadi 68% (34 anak), kategori cukup sebesar 32% (16 anak), dan tidak ada lagi remaja (0%) yang berada pada kategori pengetahuan kurang.
Pascaedukasi, para remaja putri kini dapat membedakan nyeri haid yang tergolong normal (fisiologis) dengan kondisi yang memerlukan rujukan ke tenaga kesehatan.
Selain itu, mereka dibekali keterampilan penanganan mandiri secara non-farmakologis, serta penggunaan aromaterapi untuk meredakan kram perut.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti berkat sinergi yang kuat antara tim pelaksana, perangkat desa, bidan, dan kader Posyandu Remaja.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dan penyebarluasan informasi, luaran kegiatan ini dipublikasikan pada jurnal ilmiah
Healthcare, media massa elektronik, serta siaran dokumentasi di kanal YouTube PPM Poltekkes Kemenkes Banjarmasin. Ke depannya, media edukasi buku saku ini direncanakan akan dikembangkan ke dalam format digital (ebook) agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. (dya)













