Seiring waktu, banyak zuriat dari para tokoh Kesultanan Banjar yang masih eksis sampai sekarang. Bila kita telusuri sejarah, maka apa yang terjadi di masa lalu, masih berjalin berkelindan (ungkapan kiasan yang berarti dua hal atau lebih yang saling berkaitan erat, menyatu atau terikat menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, red) dengan masa kini. Di berbagai level banyak tokoh sekarang yang masih keturunan dari para tokoh masa lalu, satu di antaranya adalah Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman yang memerintah di Kesultanan Banjar pada tahun 1787-1825.
BANJAR, koranbanjar.com – Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman saudara seayah dengan Sultan Adam al-Watsiq Billah yang memerintah pada 1825-1857, menjelang meletusnya Perang Banjar Barito (1859-1906).
Berdasarkan data dari Kesultanan Banjar yang dikirim ke redaksi Koranbanjar.com, Selasa (14/04/2026), ketika huru-hara di wilayah Kesultanan Banjar mulai terasa akibat campur tangan Belanda, Pangeran Singasari meninggalkan keraton di Martapura, lalu membangun kehidupan di daerah Kelua-Banua Lawas. Beliau sangat dihormati dan dikenal sebagai tokoh anti-Belanda.
Menurut peneliti Belanda, Karel A. Steenbrink, Pangeran Singasari membangun kekuatan di daerah Balangan dan Tabalong, dan ikut pula dalam sejumlah perlawanan secara gerilya melawan Belanda.
Ketika Pangeran Antasari terdesak di Martapura, dan Pangeran Hidayatulah sebagai panglima besar Perang Banjar telah pula tertangkap dan dibuang Belanda ke Cianjur tahun 1862, Pangeran Antasari memindahkan perlawanannya di daerah Tabalong. Dikabarkan beliau sempat pula bertemu dengan Pangeran Singasari.
Selanjutnya Pangeran Antasari memindahkan basis perlawanannya di daerah Muara Teweh dan Puruk Cahu. Di sinilah beliau berjuang sampai meninggal karena sakit tahun 1862. Diteruskan oleh putranya Pangeran (Sultan) Muhammad Seman, yang akhirnya gugur tertembak pasukan marsose Belanda tahun 1905.
Perlawanan diteruskan oleh putrinya Ratu Zalekha, sampai tertangkap tahun 1906 dan dibuang ke Bogor, yang menandai berakhirnya Perang Banjar – Barito.
Sambil melakukan perlawanan terhadap Belanda, Pangeran Singasari membangun kehidupan di Hulu Sungai, khususnya Kelua-Tabalong. Beliau kawin dengan Putri Halimah, memiliki beberapa anak yaitu Pangeran Muhammad Amin, Puteri Suasa, Puteri Salamah, Putri Anisah, Puteri Anjung, Pangeran Muhammad Jidi (tinggal di Kotabaru), Putri Habibah (tinggal Makkah), Pangeran Abubakar, dan Gusti Buntat, tinggal di Tanjung.
Pangeran Abubakar aktif berjuang bersama keturunan Muhammad Seman, yaitu Gusti Berakit, dibantu Gusti Buasan, Gusti Tisa, Gusti Mahmud, Utuh Kalambuai dan lain-lain.
Pangeran Singasari meninggal tahun 1311 H (1893 M), dan dimakamkan di samping Masjid Pusaka Pasar Arba Banua Lawas Kabupaten Tabalong. Berdekatan dengan makam tokoh pejuang asal Tabalong, Penghulu Abdul Rasyid yang makamnya ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
Di atas kubur Pangeran Singasari terdapat batu nisan tua dan cukup besar, yang masih dapat disaksikan sekarang.
Ada sejumlah tokoh yang merupakan keturunan dari Pangeran Singasari. Di antaranya H (Gt) Syarkawi Gubernur Kalimantan Selatan 1957-1959, beliau mengganti gubernur Kalimantan Tumenggung Ario Milono (1953-1957). Gubernur Kalimantan sebelumnya Dr Mas Moerdjani (1950-1953).
Pada awal kemerdekaan dan masa revolusi (1945-1950) Gubernur Kalimantan pertama Ir Pangeran Mohammad Noor, berkantor di Yogyakarta.
Kakek Syarkawi bernama Ahmad Dahlan, seorang kyai pimpinan wilayah di Barabai, dan datunya bernama Demang Yudha Negara, kepala wilayah Labuan Amas Barabai zaman Hindia Belanda.
Sedangkan anggah (kakek dari datu) bernama Kiai Martapati, patih di Kandangan pada masa Kesultanan Banjar. Puteri Suasa kawin dengan Pangeran Ngantung, beranak Gusti Abdullah, beranak Gusti Suasa, dan beranak Syarkawi (mantan Gubernur). Jadi, Putri Suasa adalah salah seorang putri Pangeran Singasari.
Perkawinan Syarkawi dengan Hj Masmulia, melahirkan anak-anak yaitu Kohinor (Martapura), H Husin Syarkawi (Surabaya), H Etna Setiatin (Surabaya), Taberi Yudha Negara (Barabai), Hj Retnani Faudah (Banyuwangi), Sjachrial Syarkawi (Sydney Australia), Hidayat Syarkawi (Jakarta), H Syachsam Syarkawi (Banjarmasin) dan Sjahrizal Syarkawi (Banjarbaru).
Syachsam Syarkawi yang pernah menjadi perwakilan Provinsi Kalsel di Jakarta, didaulat sebagai Pangeran oleh Kesultanan Banjar pada milad 2021 lalu.
Dari Pangeran Singasari juga melahirkan keturunan di antaranya H Gt Syamsir Alam, pernah menjadi Bupati Kotabaru dan Sekda Provinsi Kalimantan Selatan. Ketika Pangeran Syachsam Syarkawi meninggal 2025 lalu, beliau dimakamkan di Kompleks Makam Sultan Adam Martapura, bersebelahan dengan makam H Gt Syamsir Alam.
Kemudian zuriat Pangeran Singasari juga ada Pangeran Khairul Saleh, Bupati Banjar 2005-2015 dan sekarang anggota DPR RI. Kemudian dapat pula disebut Dr H Mirhan AM MA, akademisi IAIN Antasari dan mantan Ketua KPU Kalsel, dan masih banyak lagi.
Jika ditelusuri silsilahnya, Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman bin Sultan Tamjidillah I bin Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah I bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah. Salah seorang dari putra Pangeran Singasari yaitu Pangeran Abu Bakar, berputra Pangeran Umar, berputra Pangeran Jumri, berputra Pangeran Khairul Saleh (Sultan Banjar). Perkawinan Khairul Saleh dengan Raudhatul Jannah berputra Pangeran Dhea Hidayat dan Putri Dhea Karima.
RUMPUN KELUARGA
Dari para sultan atau pangeran lain juga banyak melahirkan para tokoh. Sultan Tamjidullah (I) berputra 15 orang, yaitu Sultan Sulaiman Mu’tamadillah, Pangeran Ismail Ratu Anom Mangkubumi Sukma Dilaga, Pangeran Nata, Pangeran Muhammad, Ratu Ishak, Ratu Galih, Ratu Siti Air Mas, Ratu Masuhud, Ratu Muhidin, Ratu Panjang, Ratu Antasari, Ratu Kasim, Ratu Antakusuma, Gusti Halimah dan Gusti Daud.
Sultan Sulaiman semasa hidupnya pernah mengawini lima orang istri, yaitu Nyai Ratna Atau Ratu Intan Sari berkedudukan sebagai Permaisuri, kemudian Nyai Cina, Nyai Argi, Nyai Unangan dan Nyai Kumala Sari. Berputra 20 orang, yaitu Sultan Adam al-Watsik Billah, Pangeran Mangkubumi Nata Kusuma, Pangeran Dipati, Pangeran Tahmid, Pangeran Singasari, Pangeran Hamim, Pangeran Tasin, Pangeran Wahid, Pangeran Kusuma Wijaya, Pangeran Kasir, Pangeran Perbatasari, Pangeran Ahmad, Pangeran Ahmid, Pangeran Muhammad, Raden Marta, Raden Kartasari, Raden Haji Musa, Raden Sungging Anom, Raden Mashud dan Raden Ummi. Pangeran Ahmid (Banjarmasin), berketurunan Gusti Sulaiman, yang berputra di antaranya Drs H Gusti Mahfuzh Ak, dan Prof Dr Ir H Gusti Muhammad Hatta MS.
Pangeran Achmid atau lengkapnya Achmid bin Sultan Sulaiman adalah salahseorang anggota Majelis Pengadilan Perdata dan Kopral (Regtbank van Burgelijke en Lijffstafelijke Regtspleging di Keresidenan Borneo. Ia juga merupakan salahsatu anggota Komisi Kerajaan pasca pembubaran Kesultanan Banjar.
Gubernur Kalsel 1995-2000, yaitu H Gt Hasan Aman, juga ada keterkaitan zuriat dengan Pangeran Achmid yang makamnya ada di Sungai Baru. Putra H Gt Hasan Aman, yaitu Gt Farid Hasan Aman, saat ini menjadi anggota DPD-RI.
Sultan Adam al-Watsik Billah berputra/putri Ratu Anom Mangkubumi Kencana dan sejumlah putra-putri, yaitu Ratu Sari Husin Dharma Kusuma, Ratu Surip (Syarif) Kusuma Negara, Ratu Surip Abdullah Nata Kusuma, Pangeran Nuh Datu Anom Mangkubumi Kencana, Pangeran Prabu Anom, Pangeran Surya Mataram, Ratu Jantra Kusuma, Pangeran Nasanuddin, Ratu Idjah, Pangeran Ismail dan Sultan Muda Abdurrahman.
Sultan Muda Abdurrahman berputra Pangeran Tamjidullah (II) dan Pangeran Hidayatullah (II). Pangeran Hidayatullah II saat dibuang oleh Belanda ke Cianjur tahun 1862, menurut Gusti Mayur (1974: 122-3) diikuti oleh lebih dari 60 orang anggota keluarga, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa. Di antara mereka adalah Sultan Hidayatullah sendiri, Ratu Mas Bandara, Putri Bintang, Nyai Umpai, Nyai Semarang, Nyai Jumedah, Rattena Wandari, Nyai Ampit, Nyai Putih, Nyai Rahamah, Gusti Syarif Banun, Ratu Syarif Kusuma, Nyai Siti Esah, Nyai Deri, Pangeran Abdurrahman, Gusti Muhammad Saleh, Ratu Siti (ibu Hidayatullah), dan lain-lain.
Ratu Anom Mangkubumi Kencana berputra Pangeran Ahmad, Pangeran Ali (Muhammad Ali) berputra Pangeran Mohammad Noor, Pangeran Ahmad juga berputra Pangeran Ismail, berputra H Gusti Muhammad Said (Amuntai). H Gusti Muhammad Said berputra H Gusti Hormansyah, Hj Gusti Noosehan Djohansyah, Gusti Ratna Sari dan Gusti Anwar. Hj Gusti Noorsehan Djohansyah berputri diantaranya Prof Dr Hj Marliani Djohansyah dan Hj Joerliani Djohansyah. H Gusti Hormansyah berputra 13 orang, yaitu H Gusti Muhammad Thamrin, Gusti Ahmad Arifin, Gusti Roosliyani, Gusti Effendi, Gusti Syafri Kusuma Jaya, Gusti Ahmad Farid Fadillah, Gusti Muhammad Suriansyah, Gusti Syarir Syah, Gusti Yusriansyah, Gusti Ernawati, Gusti Rusliansyah, Gusti Syamsul Bahrin, dan Gusti Rodiansyah. H Gusti Thamrin berputra di antaranya H Gt Iskandar Sukma Alamsyah dan lain-lain.
Pangeran Muhammad Ali bin Ratu Anom Mangkubumi Kencana bin Sultan Adam memiliki dua istri, dari istri pertama melahirkan Gusti Djohansyah, Gusti Moerad, Gusti Muhammad Noor dan Gusti Aminah. Dari istri kedua melahirkan Gusti Purnama, Gusti Hidayat, Gusti Kencana dan Gusti Basyuni. Gusti Muhammad Noor selanjutnya bergelar Pangeran Muhamamd Noor (belakangan menjadi pahlawan nasional).
Dari perkawinan dengan Gusti Aminah binti Gusti Muhammad Abi, Pangeran Muhammad Noor memiliki sejumlah putra yaitu Gusti Mansyuri Noor, Gusti Rizali Noor, Gusti Mazini Noor, Gusti Roesli Noor, Gusti Darmawan Noor, Gusti Didi Noor, Gusti Hidayat Noor, Gusti Arifin Noor, Gusti Suriansyah Noor dan Gusti Adi Darmansyah Noor.
Pangeran Dipati Mangkubumi bin Sultan Tahlillah (kalau penulis tidak keliru, red) berputra Pangeran Mangun Kusuma dan Citra Yudha. Pangeran Mangun Kusuma berputri Pangeran Haji Mahmud, Pangeran Mangku dan Pangeran Kusuma Negara, serta Ratu Mas yang bersuami Raja Bugis, dan berputra Ratu Intan, berputra Pangeran Daud. Pangeran Citra Yudha berputra Pangeran Haji Musa, berputra Pangeran Abdul Kadir, berputra Pangeran Barata Kusuma, berputra Pangeran Aminullah.
Tentu masih luas dan banyak lagi keturunan nasab Kesultanan Banjar yang belum termuat. Mungkin terdapat kekeliruan karena keterbatasan pengetahuan penulis dan perbedaan versi.
Mohon saran dan koreksi para pihak yang mengetahuinya. Intinya semua penting disatukan, dirawat dan dipelihara dengan semangat kekeluargaan. Ketokohan para leluhur semoga memotivasi kita yang hidup sekarang untuk meneruskan perjuangan dan semangat pengabdian mereka sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. (Humas Kesultanan Banjar/koranbanjar.com)













