Opini  

Janji Bonus Lebih Besar Tak Terwujud, Atlet Banjarmasin Kecewa

Kontingen Porprov Kota Banjarmasin. (Foto: Dok. Pemko Banjarmasin/Koranbanjar.com)

Janji pemberian bonus yang lebih besar bagi atlet berprestasi Kota Banjarmasin pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dinilai tidak terwujud. Kondisi tersebut memicu kekecewaan di kalangan atlet yang telah berjuang mengharumkan nama daerah.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Pengamat kebijakan publik, Noorhalis Majid kepada koranbanjar.com, Rabu (28/1/2026) di Banjarmasin, menilai ketidaksesuaian antara janji dan realisasi bonus mencerminkan lemahnya komitmen dalam penghargaan terhadap prestasi olahraga.

“Sebelum bertanding, atlet dimotivasi dengan janji bonus yang lebih besar dari Porprov sebelumnya. Namun realisasinya justru menurun,” ujar Noorhalis.

Ia mengungkapkan, bonus atlet peraih medali emas pada Porprov kali ini sebesar Rp20 juta, lebih rendah dibandingkan Porprov empat tahun lalu yang mencapai Rp25 juta.

Padahal, atlet disebut telah menerima informasi bahwa bonus akan meningkat dan setidaknya setara dengan daerah tuan rumah.

Tak hanya lebih kecil, bonus tersebut juga tidak diterima atlet secara utuh. Setelah dipotong pajak dan pemotongan internal di masing-masing cabang olahraga (cabor), jumlah yang diterima atlet menjadi jauh berkurang.

“Perbedaan antara janji dan realisasi ini tentu mengecewakan. Atlet sudah mengerahkan kemampuan terbaiknya, tetapi hasil apresiasi tidak sesuai dengan yang disampaikan sebelumnya,” katanya.

Menurut Noorhalis, proses menjadi atlet berprestasi tidaklah instan. Atlet harus menjalani latihan bertahun-tahun dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya, bahkan sering kali dalam keterbatasan fasilitas dan dukungan.

“Prestasi itu lahir dari proses panjang. Ketika janji penghargaan tidak ditepati, hal ini bisa berdampak pada motivasi atlet ke depan,” tegasnya.

Ia menambahkan, bonus Porprov yang hanya diberikan empat tahun sekali memiliki makna penting bagi atlet, terutama mengingat masa aktif yang terbatas oleh usia dan kondisi fisik.

“Bonus tersebut seharusnya menjadi bentuk penghargaan sekaligus bekal masa depan atlet, baik untuk pendidikan maupun pekerjaan setelah tidak lagi aktif bertanding,” ucap tokoh kritis Ambin Demokrasi ini.

Noorhalis juga menyoroti kondisi atlet yang belum berhasil meraih prestasi. Menurutnya, mereka juga telah berjuang keras dan layak mendapatkan perhatian agar tetap termotivasi.

“Jika atlet yang berprestasi saja merasa kecewa, maka ini menjadi sinyal bahwa kebijakan pembinaan dan apresiasi perlu dievaluasi secara serius,” katanya.

Ia pun mendorong Pemerintah Kota Banjarmasin untuk bersikap terbuka dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan bonus atlet agar ke depan lebih transparan dan berkeadilan.

“Janji kepada atlet harus diwujudkan. Konsistensi kebijakan penting agar kepercayaan dan semangat atlet tetap terjaga,” pungkas mantan Ketua Ombudsman Kalsel ini. (nm/yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *