Banjar  

‎Setiap Hari Warga Jatuh, Jalan Rusak Pindahan Baru–Sungai Musang Lumpuhkan Aktivitas dan Pendidikan

Kondisi jalan penghubung Desa Pindahan Baru dan Desa Sungai Musang, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Kerusakan parah jalan penghubung Desa Pindahan Baru dan Desa Sungai Musang, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, memicu insiden hampir setiap hari.

BANJAR, koranbanjar.com – Kepala Desa Sungai Musang, Masrani, menyebut sedikitnya tiga orang warga terjatuh setiap hari akibat kondisi jalan yang berlubang, berlumpur, dan kerap terendam air pasang.

‎“Setiap hari bisa sampai tiga orang jatuh saat melintasi jalan itu,” ujar Masrani saat diwawancarai di Banjarmasin, Senin (23/2/2026).

‎Menurutnya, jalan sepanjang sekitar 1,5 kilometer tersebut mengalami kerusakan berat. Permukaan jalan dipenuhi lubang, genangan air, dan menjadi tidak dapat dilalui ketika pasang air sungai disertai hujan.

‎Dalam kondisi tertentu, warga terpaksa beralih menggunakan kelotok (perahu motor kecil) untuk beraktivitas keluar-masuk desa.

‎Dampak kerusakan jalan tidak hanya menimbulkan korban luka, tetapi juga menghambat roda perekonomian dan pelayanan publik. Para pedagang enggan masuk ke wilayah Sungai Musang karena akses yang dinilai berisiko dan tidak layak.

‎“Di sini ada pasar, tetapi sepi pedagang. Mereka berpikir berkali-kali untuk berdagang karena kondisi jalannya sangat rusak ekstrem,” kata Masrani.

‎Petani dan nelayan juga menghadapi kendala serupa. Distribusi hasil pertanian menjadi terhambat, baik bagi warga setempat maupun dari luar desa. Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.

‎Sektor pendidikan turut terdampak. Di Desa Sungai Musang terdapat sejumlah fasilitas pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA. Sejumlah tenaga pengajar yang berasal dari Sungai Tabuk, Martapura, Kurau, serta desa setempat, terpaksa menggunakan jalur sungai untuk mencapai sekolah.

‎“Ini cukup memprihatinkan bagi dunia pendidikan. Para guru harus menggunakan kelotok untuk mengajar karena jalan tidak layak dilalui,” ujarnya.

‎Masrani juga mengungkapkan kekhawatiran terkait rencana pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di desa tersebut. Menurutnya, distribusi logistik akan menjadi persoalan baru jika akses jalan tidak segera diperbaiki.

‎Terkait progres penanganan, Masrani menjelaskan bahwa pada 2022–2023, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP) Kabupaten Banjar melakukan pendalaman sungai di wilayah tersebut.

‎Pada 2024, Dinas PUPRP Kabupaten Banjar kembali membangun siring jalan sepanjang 710 meter dengan isian batu setebal 25 sentimeter. Namun, proyek tersebut terhenti karena keterbatasan anggaran.

‎Pemerintah daerah, lanjutnya, sempat berjanji akan melanjutkan pembangunan pada 2025. Tetapi, hingga Februari 2026, proyek tersebut belum terealisasi.

‎“Kami sangat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan jalan ini secara maksimal dan permanen, agar tidak lagi terendam air dan layak dilalui oleh lebih dari seribu warga kami,” harapnya.

‎Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas PUPRP Kabupaten Banjar terkait kelanjutan proyek perbaikan jalan tersebut. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *