Banjar  

Mayoritas Petani dan Buruh, Warga Handil Bujur Terpaksa Sisihkan Penghasilan untuk Beli Air Bersih

Potret ibu-ibu warga Desa Handil Bujur Banjar. (Foto: Tim/Koranbanjar.com)

Ketiadaan layanan air bersih dari PDAM membuat ratusan keluarga di Desa Handil Bujur, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, harus mengeluarkan biaya tambahan setiap hari untuk membeli air. Bagi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh, kondisi ini menjadi beban ekonomi yang terus berulang selama hampir 20 tahun terakhir.

BANJAR, koranbanjar.com – Sekitar 400 kepala keluarga di Desa Handil Bujur hingga kini belum menikmati distribusi air bersih dari PDAM. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membeli air bersih dengan harga sekitar Rp2.500 per jeriken.

Kepala Desa Handil Bujur, Ahmadi, mengatakan mayoritas penduduk di wilayahnya bekerja sebagai petani dan buruh harian. Dengan penghasilan yang tidak menentu, pengeluaran rutin untuk membeli air menjadi beban tambahan yang cukup berat.

“Air bersih itu kebutuhan pokok. Tapi warga kami harus mengeluarkan biaya setiap hari hanya untuk mendapatkan air layak konsumsi,” ujarnya.

Menurutnya, tidak semua warga mampu membeli air secara rutin. Sebagian masyarakat akhirnya tetap menggunakan air sungai untuk kebutuhan mandi, mencuci, bahkan memasak, meskipun telah disaring terlebih dahulu.

Kondisi ini telah berlangsung hampir dua dekade. Ironisnya, jaringan pipa PDAM sebenarnya sudah terpasang hingga masuk sekitar 300 meter ke wilayah desa. Namun sejak pemasangan tujuh hingga delapan tahun lalu, air tidak pernah mengalir.

Ahmadi mengaku telah beberapa kali mengusulkan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Banjar.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, kendala utama adalah keterbatasan anggaran untuk melanjutkan pembangunan jaringan pipa.

Ia berharap pada tahun 2026 atau 2027 mendatang, pembangunan dapat dilanjutkan hingga benar-benar menjangkau permukiman warga.

“Kalau air sudah mengalir, beban masyarakat tentu jauh berkurang. Mereka bisa mengalokasikan penghasilan untuk kebutuhan lain yang lebih penting,” katanya.

Hingga kini, warga Desa Handil Bujur masih harus mengandalkan jeriken sebagai solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT Air Minum Intan Banjar, Syaiful Anwar melalui perwakilannya Kepala Cabang (Kacab) II, Alimuddin ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya segara akan membicarakan dengan tim.

“Setelahnya kami konsultasikan ke pimpinan (direksi). Kebetulan di Desa Handil Bujur belum terpasang pipa jaringannya. Terima kasih banyak informasinya,” tutur Alimuddin. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *