Seorang mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM), berinisial MRF, 19 tahun, yang sedang menempuh semester III Program Studi S-1 Pendidikan Khusus, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), diduga mengalami perundungan dan kekerasan di lingkungan kampus. Akibat dugaan kejadian itu dia mengalami depresi.
BANJARBARU, koranbanjar.com – Dugaan tersebut mencuat setelah MRF mengalami perubahan perilaku hingga mengalami kondisi psikologis yang membuatnya harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Kabupaten Banjar.
MRF yang merupakan warga Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, sebelumnya disebut sebagai sosok pendiam dan penurut.
Kondisi tersebut membuat pihak keluarga awalnya tidak mengetahui adanya persoalan yang diduga dialaminya di lingkungan kampus.
Ibu korban, YN, mengatakan perubahan perilaku MRF mulai terlihat sekitar satu minggu sebelum akhirnya kondisinya memburuk.
Menurut YN, saat itu ia melihat anaknya mulai menunjukkan kecemasan. Raut wajah MRf juga tampak berbeda dan seperti kebingungan ketika diajak berbicara.
“Waktu ditanya ada apa, apakah ada masalah atau tugas kuliah yang sulit, dia hanya bilang tidak ada apa-apa,” ujar YN, Rabu (30/9/2026).
Kondisi MRF kemudian semakin mengkhawatirkan. Tiga hari sebelum mendapatkan perawatan di RSJ Sambang Lihum, MRF disebut berteriak histeris dan memukul-mukul dirinya sendiri. Ia juga terlihat seperti sedang ketakutan.
Melihat kondisi tersebut, YN kemudian membawa anaknya untuk mendapatkan pemeriksaan dari psikiater. Setelah mendapatkan obat dan dibawa pulang, kondisi MRF sempat membaik.
Namun, sehari kemudian kondisi tersebut kembali terjadi. MRF kembali berteriak-teriak histeris dan menunjukkan perilaku seperti orang yang sedang mengalami ketakutan.
Pihak keluarga akhirnya membawa MRF ke RSJ Sambang Lihum untuk mendapatkan penanganan dan perawatan lebih lanjut.
YN mengatakan MRF merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Ia menggambarkan anaknya sebagai pribadi yang pendiam, penurut, dan tidak banyak bercerita mengenai persoalan yang dihadapinya.
Hal senada disampaikan DW, tante MRF. Menurutnya, MRF memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tidak banyak berbicara kepada orang lain.
DW mengungkapkan, sebelum kondisi MRF memburuk, keponakannya sempat menyampaikan kepada keluarga bahwa dirinya pernah dipukuli oleh teman satu kampus.
“Dia pernah bilang kalau dirinya dipukuli oleh teman satu kampus,” kata DW.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar kecurigaan keluarga bahwa MRF diduga mengalami perundungan dan kekerasan di lingkungan kampus.
Namun, pihak keluarga belum mengetahui secara utuh kronologi maupun pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
DW menduga sikap MRF yang cenderung pendiam membuat persoalan yang dialaminya tidak segera diketahui keluarga. Ia menduga MRF memilih memendam persoalan tersebut hingga kondisi psikologisnya semakin terganggu.
Atas dugaan tersebut, pihak keluarga kemudian melaporkan persoalan itu kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKPT) ULM Banjarbaru.
Dalam mediasi bersama tim Satgas PPKPT ULM, pihak keluarga memperoleh informasi bahwa dugaan perundungan dan kekerasan tersebut akan dilakukan pendalaman serta identifikasi.
Selain proses pendalaman, pihak Satgas PPKPT ULM juga disebut akan memberikan pendampingan kepada MRF selama menjalani masa pemulihan kondisi psikologisnya.
Pihak keluarga berharap proses pendalaman dapat mengungkap secara jelas apa yang sebenarnya terjadi terhadap MRF, termasuk memastikan hak korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan selama proses pemulihan. (kan/sir)













