Proyek jembatan berkonsep kembar di Jalan Tembus Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, menuai sorotan. Meski anggaran sekitar Rp13 miliar telah digelontorkan, pembangunan baru terealisasi satu sisi, sementara kemacetan di kawasan tersebut masih terjadi setiap hari.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Pantauan media ini, Senin (6/4/2026) di lapangan menunjukkan arus lalu lintas di kawasan Tembus Mantuil, khususnya di sekitar Laksana Intan, masih padat pada jam-jam sibuk.
Kendaraan roda dua dan roda empat tampak antre memadati akses yang menjadi penghubung vital menuju sejumlah titik, seperti kawasan Rumah Sakit Sultan Suriansyah, hingga jalur ke kota.
Ironisnya, proyek yang digadang-gadang mampu mengurai kemacetan itu belum sepenuhnya berfungsi. Dari rencana pembangunan dua jembatan (kembar), hingga kini baru satu jembatan permanen yang rampung sejak 2023. Sementara satu sisi lainnya masih berupa jembatan kayu berbahan ulin.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas penggunaan anggaran. Pasalnya, dana pembangunan fisik jembatan mencapai sekitar Rp13 miliar dari total pagu anggaran Rp15 miliar yang dialokasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Kartika Estaurina membenarkan bahwa pembangunan jembatan kembar belum sepenuhnya terealisasi. Ia menyebut, saat ini pihaknya masih mengandalkan jembatan kayu dengan perawatan rutin untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.
“Setiap tahun dilakukan penguatan, termasuk penggantian material kayu agar tetap layak digunakan dan meminimalkan risiko,” ujarnya saat dimintai keterangan di kantornya, Jalan Hasan Basri Banjarmasin.
Namun demikian, Kartika belum dapat memastikan kapan pembangunan jembatan kedua akan dilanjutkan. Ia menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran serta banyaknya program prioritas lain menjadi kendala utama.
Menurutnya, pemerintah kota saat ini lebih memfokuskan anggaran pada peningkatan dan perbaikan jalan yang dinilai lebih mendesak berdasarkan aspirasi masyarakat dan usulan dari hasil reses anggota DPRD Kota Banjarmasin.
“Total kebutuhan anggaran dari aspirasi masyarakat dan pokok-pokok pikiran DPRD bisa mencapai sekitar dua ratus miliar rupiah, tu yang menjadi prioritas saat ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, proyek jembatan kembar di Tembus Mantuil masih berada dalam tahap pengusulan dan belum mendapatkan kepastian alokasi anggaran untuk tahun 2026.
Di sisi lain, warga dan pengguna jalan tetap harus menghadapi kondisi lalu lintas yang padat setiap hari. Keterbatasan kapasitas jalan akibat belum rampungnya jembatan kembar dinilai menjadi salah satu penyebab utama kemacetan di kawasan tersebut.
Sejumlah pengendara mengaku berharap pemerintah dapat segera memberikan kejelasan terkait kelanjutan proyek tersebut. Pasalnya, keberadaan dua jembatan dinilai sangat penting untuk meningkatkan kelancaran arus lalu lintas dan menunjang aktivitas ekonomi masyarakat.
Hingga kini, proyek jembatan kembar yang sempat menjadi harapan solusi kemacetan itu justru terkesan berjalan di tempat.
Rencananya, jembatan ini memiliki lebar 8 meter, sehingga lebar 2 buah jembatan dan jalur jalan raya mencapai 16 meter.
Sementara, anggaran pembangunan jembatan mencapai Rp13 miliar dan anggaran pembebasan lahan Rp31 miliar.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin saat itu, Afrizaldi mengatakan pembangunan Jembatan Mantuil sebagai pilot project penanganan kemacetan di Kota Banjarmasin. Melalui pembangunan jembatan ini diharapkan dapat mengantisipasi kemacetan sejak dini.
Menurutnya selama ini, pembangunan kompleks perumahan atau kawasan pemukiman di Kota Banjarmasin tidak pernah memperhitungkan kemacetan. (yon/bay)












