Kerusakan jalan penghubung Desa Pindahan Baru dan Desa Sungai Musang, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bukan sekadar persoalan infrastruktur. Akses darat yang rusak sepanjang sekitar 1,5 kilometer itu disebut menghambat distribusi hasil pertanian, perikanan, dan aktivitas pasar desa.
BANJAR, koranbanjar.com – Kepala Desa Sungai Musang, Masrani, mengatakan kondisi jalan yang berlubang dan kerap terendam membuat pedagang enggan masuk ke wilayahnya.
“Pasar di desa kami jadi sepi. Pedagang berpikir ulang karena jalannya sangat rusak,” ujarnya, Senin (23/2/2026) di Banjarmasin.
Menurutnya, mayoritas warga menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian dan perikanan.
Hambatan distribusi berpotensi menurunkan harga jual karena keterlambatan pengiriman serta risiko kerusakan komoditas segar.
Jika diasumsikan puluhan petani dan nelayan mengirim hasil produksi setiap hari, maka gangguan akses dapat berdampak pada perputaran uang harian desa.
Meski belum ada angka pasti kerugian, pemerintah desa menilai efeknya terasa langsung terhadap pendapatan warga.
Selain itu, biaya operasional warga meningkat. Penggunaan kelotok sebagai alternatif transportasi saat jalan terendam memerlukan tambahan biaya bahan bakar dan waktu tempuh lebih lama.
Desa Sungai Musang menjadi lokasi sejumlah fasilitas pendidikan dari tingkat TK hingga SMA. Guru dari luar desa harus menyesuaikan moda transportasi ketika akses darat tidak memungkinkan.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan ketimpangan pembangunan infrastruktur antar wilayah, terutama pada desa yang berada di wilayah perairan.
“Semua jenjang sekolah ada di sini, tetapi aksesnya sangat tidak layak,” sebut Masrani.
Pemerintah desa mencatat pada 2022–2023 dilakukan pendalaman sungai oleh Dinas PUPRP Kabupaten Banjar.
Pada 2024, dibangun siring jalan sepanjang 710 meter dengan isian batu setebal 25 sentimeter sebelum proyek terhenti karena keterbatasan anggaran.
Rencana kelanjutan pada 2025 belum terealisasi hingga awal 2026. Warga kini menunggu kepastian anggaran dan jadwal pekerjaan lanjutan.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah membuka informasi secara transparan terkait alokasi anggaran, skema pembiayaan lanjutan, serta target waktu penyelesaian proyek.
“Yang kami harapkan kejelasan dan solusi permanen. Jangan setengah-setengah,” harapnya.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPRP) Kabupaten Banjar akhirnya angkat bicara terkait kondisi memprihatinkan ruas jalan penghubung Desa Pindahan Baru dan Desa Sungai Musang yang selama ini dikeluhkan warga.
Melalui Kabid Bina Marga, Jimmy, pihaknya memastikan bahwa pada tahun anggaran 2026 rehabilitasi jalan tersebut akan kembali dilanjutkan. Ia menyebut, ruas penghubung antar desa itu memang masuk dalam daftar prioritas penanganan lanjutan.
“Insya Allah tahun ini ada penanganan lanjutan jalan penghubung antara Desa Sungai Musang ke Desa Pindahan Baru,” ujarnya.
Jimmy menjelaskan, pengerjaan sebelumnya telah dilakukan secara bertahap, namun belum mampu menjangkau seluruh titik kerusakan.
Ia pun meminta masyarakat untuk bersabar dan turut mengawasi jalannya pekerjaan agar kualitas pembangunan benar-benar maksimal.
Dengan adanya komitmen ini, warga berharap janji tersebut benar-benar terealisasi, bukan sekadar wacana tahunan.
Sebab, bagi masyarakat Pindahan Baru dan Sungai Musang, jalan bukan hanya soal aspal dan beton, tetapi tentang keselamatan, roda ekonomi, dan hak atas akses yang layak. (yon/bay)













