HAPAKAT (wadah diskusi merawat ke-Bakumpai-an) kembali menggelar diskusi terpumpun ke-bakumpai-an, Jumat (23/24/2026) sore di salah satu hotel di Banjarmasin.
BANJARMASIN, Koranbanjar.com – Diskusi terpumpun kali ini membahas keberadaan bahasa bakumpai bi ngaju sampai ngawa (dari hulu sampai hilir).
Tidak tanggung-tanggung diskusi ini menghadirkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Akademisi, Intelektual Bakumpai, hingga Politikus dari Kalimantan Tengah.
Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Armiati Rasyid mengatakan Bahasa Bakumpai sendiri telah resmi diakui sebagai bagian dari 718 bahasa daerah di Indonesia. Serta masuk 10 bahasa daerah di Kalimantan Selatan.
Sementara itu koordinator acara HAPAKAT, Rusdiansyah mengatakan penggunaan Bahasa Bakumpai di Batola tidak begitu aktif digunakan. Dari 17 kecamatan yang ada di Batola, hanya di 3 kecamatan yang mencakup 21 desa.
“Paling aktif bahasa bakumpai digunakan di Kecamatan Kuripan, hampir semua warga berbicara atau bertutur bahasa Bakumpai dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini sendiri Rusdiansyah berharap ke-Bakumpai-an terus terawat. Tidak hanya membahas tentang bahasa Bakumpai, tetapi banyak hal lainnya. Seperti kultur budaya kita orang Bakumpai.
“Ini PR untuk kita semua, masih banyak hal yang perlu kita bahasa. Semoga banyak pertemuan HAPAKAT yang bisa kita gelar lagi,” ujarnya.
Terkait tema yang dibahas, pakar linguistik dari Universitas Palangka Raya (Unpar) Iwan Fauzi menuturkan bahasa Bakumpai merupakan bahasa kreol. Bahasa yang lahir di Marabahan.
“Ini hipotesis saya, dulu itu di Marabahan itu bandar perdagangan, banyak pedagang dari hulu maupun hilir yang bertemu. Masing-masing menggunakan bahasanya dan lahirlah bahasa kreol yang saat ini kita kenal bahasa bakumpai,” ujarnya.
Berbeda dengan Rusdiansyah yang mengatakan bahasa Bakumpai di Batola yang semakin sedikit digunakan, H Johansyah, anggota DPRD Murung Raya yang lahir di Marabahan mengatakan, bahasa Bakumpai sangat eksis di Kabupaten Murung Raya.
“Bahasa Bakumpai digunakan hingga pelosok desa. Bahkan kami di lingkungan DPRD juga menggunakan bahasa bakumpai saat berbicara,” ujarnya.
Dirinya berharap bahasa Bakumpai tidak hanya kuat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, tetapi juga di Barito Kuala.
“Semoga bahasa Bakumpai terkenal hingga ke luar daerah,” harapnya.
(max/rth)




