Hampir dua dekade warga Desa Handil Bujur, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, hidup tanpa akses air bersih dari PDAM. Sekitar 1.100 jiwa atau 400 kepala keluarga terpaksa membeli air per jeriken atau mengandalkan air sungai yang disaring secara sederhana. Pemerintah desa mengkhawatirkan kondisi ini berdampak pada kesehatan masyarakat, termasuk potensi meningkatnya risiko stunting pada anak.
BANJAR, koranbanjar.com – Persoalan air bersih di Desa Handil Bujur bukan hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga ancaman kesehatan jangka panjang. Kepala Desa Handil Bujur, Ahmadi, menegaskan hingga 2026 desanya belum teraliri layanan PDAM.
“Kurang lebih sudah 20 tahun warga kami belum menikmati air bersih dari PDAM. Sebagian membeli air, sebagian lagi menggunakan air sungai,” ujar Ahmadi saat diwawancarai, Senin (23/2/2026) lalu di Kantor Desa Handil Bujur, Kecamatan Aluh-Aluh.
Menurutnya, sekitar 1.100 penduduk dengan 400 kepala keluarga menggantungkan kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga dengan cara membeli air seharga sekitar Rp2.500 per jeriken.
Bagi warga yang tidak mampu, pilihan lainnya adalah memanfaatkan air sungai yang disaring menggunakan alat sederhana maupun bahan kimia tertentu.
Namun demikian, Ahmadi menilai penyaringan tersebut tidak dapat menjamin kualitas air benar-benar aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Ia khawatir kondisi tersebut dapat memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak.
“Air bersih sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan gizi. Jika kualitas air tidak terjamin, tentu dapat berdampak pada tumbuh kembang anak,” katanya.
Ia menambahkan, risiko stunting bukan hanya dipengaruhi asupan makanan, tetapi juga sanitasi dan kualitas air yang digunakan sehari-hari. Oleh sebab itu, akses air bersih menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.
Ahmadi mengungkapkan, jaringan pipa sebenarnya sudah masuk sekitar 300 meter ke wilayah desanya sejak tujuh hingga delapan tahun lalu. Namun, air tidak pernah mengalir hingga ke permukiman warga.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Banjar bersama PDAM segera merealisasikan pembangunan dan pengoperasian jaringan pipa secara menyeluruh pada 2026 atau paling lambat 2027.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Kami berharap ada solusi nyata demi kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT Air Minum Intan Banjar, Syaiful Anwar melalui perwakilannya Kepala Cabang (Kacab) II, Alimuddin ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya segara akan membicarakan dengan tim.
“Setelahnya kami konsultasikan ke pimpinan (direksi). Kebetulan di Desa Handil Bujur belum terpasang pipa jaringannya. Terima kasih banyak informasinya,” tutur Alimuddin. (yon/bay)













