‎Suntikan Modal Rp300 Miliar PAM Bandarmasih; Perbaikan Layanan atau Sekadar Tambal Sulam Pipa?

Pengamat pelayanan publik, Noorhalis Majid. (Foto: Koranbanjar.com)

Di tengah ambisi Pemerintah Kota Banjarmasin membenahi infrastruktur vital, kinerja PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda) kembali menjadi sorotan tajam.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Meski telah mendapat guyuran dana segar mencapai Rp300 miliar untuk tahun anggaran ini, kualitas layanan perusahaan daerah tersebut dinilai belum beranjak dari masalah klasik, distribusi yang tidak merata dan gangguan aliran yang berulang.

‎​Pengamat pelayanan publik yang juga aktif menyuarakan isu-isu sosial, Noorhalis Majid, menyebut kondisi PAM Bandarmasih saat ini mengalami kemunduran atau babulik bawayahan.

‎Menurutnya, moto “Kada Bawayahan” yang dulu menjadi kebanggaan kini perlahan luntur akibat ketimpangan distribusi.

‎​Keluhan warga di wilayah pinggiran, seperti kawasan Mantuil, menjadi bukti nyata adanya disparitas layanan. Di saat kawasan perumahan elit menikmati aliran air yang deras dan jernih, warga di daerah marginal justru harus bersabar dengan aliran yang kecil, bahkan sering macet.

‎​”Kualitas layanan bukan tambah bagus, justru babulik bawayahan, bahkan bapalihan (terkotak-kotak). Artinya, tidak semua daerah mendapat layanan yang sama baiknya,” ungkap Noorhalis yang juga pernah menjabat Ketua Ombudsman Kalsel.

‎​Ia menekankan bahwa problem utama memang terletak pada infrastruktur pipa yang sudah tua.

‎Namun, dengan dana fantastis sebesar Rp300 miliar, publik mempertanyakan apakah anggaran tersebut benar-benar dialokasikan untuk peremajaan pipa secara menyeluruh guna mewujudkan visi air minum yang steril, atau hanya sekadar pemeliharaan rutin yang bersifat sementara.

Krisis Transparansi dan Integritas Manajemen

‎​Sorotan terhadap PAM Bandarmasih tidak hanya berhenti pada persoalan teknis. Isu tata kelola perusahaan (good corporate governance) turut mencuat.

‎Rentetan kabar miring mengenai dugaan praktik kolusi dalam pemilihan direksi, penempatan dewan pengawas yang sarat kepentingan politik, hingga isu staf titipan yang tidak kompeten, dinilai menjadi akar penyebab lambannya inovasi.

‎​”Sangat disayangkan bila berita seputar PDAM lebih banyak tentang hal buruk, seperti dugaan Operasi Tangkap Tangan (OTT) hingga penempatan SDM yang tidak kompeten. Ini mengurangi kepercayaan publik,” tegas tokoh Ambin Demokrasi ini.

‎​Menuntut Transparansi dan Akuntabilitas

‎​Sesuai dengan prinsip pelayanan publik, PAM Bandarmasih dituntut untuk lebih transparan dalam penggunaan dana investasi yang bersumber dari uang rakyat.

Selain itu, masyarakat mendesak adanya kompensasi nyata saat terjadi gangguan layanan.

‎​Pelayanan alternatif seperti penyediaan mobil tangki atau tandon air darurat seharusnya menjadi standar prosedur operasional ketika terjadi perbaikan pipa, bukan sekadar memberikan pengumuman permohonan maaf di media sosial.

‎​Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menanti realisasi dari investasi ratusan miliar tersebut.

‎Apakah PAM Bandarmasih mampu mengembalikan kejayaannya sebagai pelopor pelayanan publik yang visioner, atau tetap terjebak dalam pusaran masalah manajerial dan pipa bocor yang tak kunjung usai.

Plh Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Menanggapi sorotan tersebut yang kini menjadi polemik, Plh Dirut PAM Bandarmasih, Zulbadi, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara alokasi dana operasional dan dana investasi dalam total anggaran yang ramai diperbincangkan tersebut.

‎​”Perlu kami luruskan, realisasi anggaran itu digunakan untuk dua pos utama, operasional dan investasi. Dana operasional terserap untuk proses pengolahan air bersih, sementara untuk investasi fisik, seperti penggantian pipa bocor dan perbaikan pompa, nilainya berkisar Rp100 hingga Rp150 miliar per tahun,” terang Zulbadi.

‎​Ia menambahkan, meskipun dana investasi tidak mencapai Rp300 miliar dalam setahun, pihaknya tetap berkomitmen melakukan perbaikan.

‎Zulbadi mengeklaim bahwa sejak program peremajaan dimulai, tingkat kebocoran air (Non-Revenue Water) berhasil ditekan tipis dari 28,78 persen menjadi 28,48 persen.

Janji Peremajaan Besar-besaran di Tahun 2026.

‎​Terkait distribusi yang masih macet di wilayah Mantuil, Zulbadi berjanji akan segera menurunkan tim teknis untuk melakukan investigasi lapangan. Ia mensinyalir adanya kendala tak terduga pada jaringan pipa distribusi di kawasan tersebut.

‎​Sebagai langkah konkret ke depan, PAM Bandarmasih menjanjikan peremajaan pipa secara besar-besaran pada tahun 2026 ini. Fokus utama perbaikan akan menyasar wilayah Barat dan Selatan, mulai dari jalur utama Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Sutoyo S.

‎​”Tujuannya agar seluruh warga Banjarmasin mendapatkan hak akses air bersih secara merata. Kelancaran air bersih bukan hanya soal pelayanan, tapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kesehatan lingkungan,” tutupnya. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *