‎Sampah Menumpuk di Akses Masuk Perumnas Lingkar Basirih, Sungai Tercemar dan Warga Mengeluh

Sampah meluber ke jalan serta mengeluarkan bau busuk menyengat, Selasa (10/2/2026). (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Tumpukan sampah yang meluber di jalur masuk Komplek Perumnas Lingkar Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, tak hanya mengganggu pengguna jalan, tetapi juga mencemari sungai di kawasan tersebut. Air lindi (limbah) berwarna gelap dari timbunan sampah dilaporkan mengalir ke sungai yang kini berubah hitam pekat dan nyaris tak mengalir, kondisi yang disebut warga telah berlangsung sekitar lima tahun terakhir.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Tumpukan sampah di jalur masuk Komplek Perumnas Lingkar Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, menjadi sorotan warga.

‎Selain menimbulkan bau menyengat dan mengganggu pengguna jalan, air lindi (limbah) dari timbunan sampah tersebut dilaporkan mencemari sungai di kawasan setempat.

‎Pantauan koranbanjar.com di lokasi, Selasa (10/2/2026), sampah terlihat menggunung di tepi jalan yang merupakan akses strategis menuju pusat Kota Banjarmasin.

‎Genangan air berwarna gelap bercampur limbah sampah tampak meluber hingga ke badan jalan. Kondisi ini diperparah saat hujan turun, sehingga air menggenang dan menimbulkan aroma tidak sedap.

‎Sejumlah pengendara mengaku terganggu saat melintas di jalur tersebut. Pengendara roda dua bahkan berisiko terkena percikan air limbah yang menggenang di atas aspal.

‎Ketua RT 13 Perumnas Lingkar Basirih, Muhadi, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung kurang lebih lima tahun terakhir.

‎Menurutnya, pengangkutan sampah memang dilakukan setiap hari, namun volume yang diangkut dinilai belum maksimal.

‎“Pengangkutan ada setiap hari, tetapi masih banyak sampah yang tertinggal sehingga terus menumpuk dan meluber ke jalan. Saluran air juga tertutup,” ujar Muhadi saat ditemui di lokasi.

‎Ia menyebutkan sekitar 80 persen warga komplek mengeluhkan situasi tersebut. Selain mengganggu kenyamanan, warga juga khawatir dampak pencemaran terhadap lingkungan dan kesehatan.

‎Ketua RT 13 Perumnas Lingkar Basirih, Muhadi. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Air lindi (limbah) yang berasal dari tumpukan sampah dilaporkan mengalir ke sungai di dalam kawasan perumahan. Sungai yang sebelumnya jernih dan dimanfaatkan warga untuk aktivitas sehari-hari kini berubah warna menjadi hitam pekat dan tampak tidak lagi mengalir lancar.

‎Warga berharap Pemerintah Kota Banjarmasin, khususnya instansi terkait pengelolaan lingkungan hidup dan persampahan, dapat mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

‎Mereka mendorong peningkatan kapasitas dan efektivitas pengangkutan sampah agar tidak terjadi penumpukan berkepanjangan.

‎Muhadi menambahkan, warga berencana melakukan audiensi dengan pihak kelurahan dan instansi terkait guna mencari solusi bersama atas permasalahan tersebut.

‎Lurah Basirih Selatan, Solhan, mengatakan pihak kelurahan telah berulang kali mengusulkan pembangunan tempat pembuangan sampah (TPS) di lahan fasilitas umum (fasum) yang lokasinya tidak jauh dari Komplek Perumnas Lingkar Basirih.

‎“Usulan pembangunan TPS di lahan fasum sudah kami sampaikan sejak tahun 2021, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin. Alasannya karena efisiensi anggaran,” ujar Solhan.

‎Ia mengakui, keluhan warga terkait kondisi sampah di jalan masuk komplek tersebut sudah lama diterimanya, bahkan tidak jarang warga datang langsung ke kantor kelurahan untuk menyampaikan keberatan.

‎Menurut Solhan, tumpukan sampah yang meluber hingga ke badan jalan sangat mengganggu kenyamanan warga dan pengguna jalan yang melintas. Kondisi semakin diperparah dengan adanya air lindi dari sampah yang menimbulkan bau menyengat.

‎“Pengguna jalan sering menutup hidung saat melintas karena baunya. Ini jelas mengganggu kenyamanan dan kesehatan,” katanya.

‎Selain mencemari jalan, air lindi (limbah) dari tumpukan sampah juga mengalir ke sungai di kawasan Komplek Perumnas Lingkar Basirih. Akibatnya, air sungai berubah warna menjadi hitam pekat, berbau, dan terlihat sangat kotor.

‎Solhan menegaskan bahwa lokasi pembuangan sampah di jalan masuk komplek tersebut sebenarnya merupakan tempat pembuangan tidak resmi dan ilegal. Namun, keterbatasan lokasi TPS resmi membuat warga tidak memiliki alternatif lain.

‎“Hampir di wilayah Banjarmasin Selatan, khususnya Basirih Selatan, Mantuil, dan sekitarnya, sudah tidak ada lagi tempat pembuangan sampah resmi yang disiapkan pemerintah. Akhirnya, satu-satunya lokasi yang tersisa ya di jalan masuk Komplek Perumnas Lingkar Basirih,” jelasnya.

‎Ia menyebut persoalan ini sebagai pekerjaan rumah (PR) serius yang harus segera ditangani karena berdampak langsung terhadap lingkungan, kesehatan, serta kenyamanan warga, termasuk pemilik lahan yang terdampak tumpukan sampah. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *