Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir. P.M Noor yang terletak di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar menjadi salah satu sumber energi listrik satu-satunya di Kalimantan Selatan. Di balik pasokan listrik yang digunakan masyarakat, terdapat proses teknis panjang mulai dari pembangkitan hingga distribusi.
BANJARBARU.koranbanjar.com – Proses teknis panjang tersebut disampaikan Junior Pemeliharaan Listrik PLTA Ir. P.M Noor, Ofi, menjelaskan bahwa pembangkit ini memiliki tiga unit utama yang masing-masing terdiri dari turbin dan generator. pada hari ke-dua Media Gathering Rabu 8/4/2026.
“Di sini ada tiga turbin yang menjadi komponen utama dari unit 1, 2, dan 3. Setiap unit memiliki turbin dan generator,” ujarnya.
Lanjutnya, secara kapasitas maksimal, masing-masing generator mampu menghasilkan daya hingga 10 megawatt (MW), sehingga total kapasitas terpasang mencapai 30 MW, namun, dalam operasional saat ini, pembangkit menyesuaikan dengan kebutuhan sistem dan operasional.
“Untuk sekarang beroperasi pada 5 MW kali 3 generatir atau total 15 MW, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi operasi harian,” jelas Ofi.
Proses pembangkitan listrik sendiri dimulai dari perputaran turbin yang digerakkan oleh aliran air. Yang kemudian putaran tersebut menggerakkan generator yang berada di atasnya.
“Turbin berputar, generator ikut berputar. Dari situ terjadi pembangkitan listrik karena adanya perputaran, penghantar, dan medan magnet,” paparnya
Listrik yang dihasilkan generator kemudian disalurkan ke transformator sebelum masuk ke jaringan transmisi.
Sementara itu ditempat yang sama, Team Leader Operation PLTA Ir. P.M Noor, Widiyanto, menjelaskan alur distribusi listrik hingga sampai ke masyarakat dan dipergunakan di rumah-rumah.
“Dari generator, listrik keluar dengan tegangan sekitar 11 kilovolt (kV), lalu dinaikkan melalui trafo step-up menjadi 70 kilovolt (kV) untuk ditransmisikan,” ujarnya.
Setelah itu, listrik dikirim ke gardu induk dan kembali diturunkan tegangannya menjadi 20 kilovolt (kV) untuk distribusi ke wilayah.
Dari 20 kV, kemudian diturunkan lagi melalui trafo distribusi menjadi 380 volt dan 220 volt yang digunakan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, tegangan listrik 380 volt 3 phase umumnya seperti industri pabrik besar dan lainnya, sementara untuk tegangan 220 volt 1 phase digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Secara sederhananya, dari pembangkit 11 kV, naik ke 70 kV, lalu turun ke 20 kV, kemudian menjadi 380 dan 220 volt sebelum sampai ke pengguna,” tutupnya. (kan/dya)













