Sosok Nurlita Tadzlila Wijayanti sejak usia dini sudah akrab dengan warna dan coretan. Perempuan berusia 22 tahun ini mengenang masa taman kanak-kanak sebagai titik awal ketertarikannya pada seni lukis saat mencampur warna terasa seperti sebuah eksperimen kecil yang menyenangkan.
BANJARBARU, Saukani
Melukis menjadi aktivitas yang terus hadir dalam hidup perempuan lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unlam Banjarbaru hingga kini.
Namun, bagi Tadzlila, melukis bukanlah jalan hidup yang dibingkai oleh tuntutan profesional. Ia memilih menempatkan seni sebagai ruang yang bebas dari paksaan.
“Saya tidak ingin hobi berubah menjadi tekanan, melukis adalah bentuk self-healing dilakukan dengan santai, mengikuti irama perasaan dan suasana hati,” ucapnya.
Perjalanan berkesenian Tadzlila tak lepas dari peran besar kedua orang tuanya, semenjak kecil sudah diperkenalkan pada beragam aktivitas seni mulai dari teater, puisi, pantun, menari, hingga melukis.
Dari semua itu, melukis menjadi medium yang paling ia rasakan kedekatannya, dukungan keluarga terhadap kegiatan positif menjadi fondasi penting dalam proses tumbuhnya sebagai perupa muda.
Inspirasi karya-karya Tadzlila datang dari banyak arah mulai pengalaman pribadi, imajinasi, serta pengamatan terhadap karya seniman profesional. Baginya, pengalaman personal adalah dorongan paling jujur dalam menciptakan karya.
Perasaan yang dialami lelah, rindu, kehilangan, atau kegembiraan sering kali menemukan bentuknya di atas kanvas.
Proses kreatifnya pun berjalan tanpa target waktu yang kaku, ide biasanya muncul secara spontan, lalu diterjemahkan ke dalam sketsa awal.
Penyelesaian sebuah lukisan bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bergantung pada mood yang Tadzlila rasakan. Ia percaya, karya yang baik lahir dari kondisi batin yang siap, bukan dari paksaan.
Dalam seni pencarian gaya, Tadzlila masih mengeksplorasi bentuk dan medium, karya-karyanya cenderung abstrak, menggunakan beragam media seperti cat akrilik, cat air, hingga gouache, namun eksplorasi ini menjadi bagian dari proses menemukan identitas visualnya sendiri.
Melalui lukisannya, Tadzlila tidak berusaha menyampaikan pesan yang tunggal. Ia justru memberi ruang bagi imajinasi penikmat karya.
Salah satu karyanya yang dipamerkan dalam Banjarmasin Art Week 2024 menggambarkan perasaan dua insan yang telah berpisah, namun masih menyimpan memori satu sama lain.
Menurutnya, sebuah lukisan memiliki makna yang bisa berbeda bagi setiap orang yang melihatnya.
Sebagai seniman muda, tantangan terbesar yang ia rasakan adalah keterbatasan ruang pamer, meski media digital memudahkan promosi karya, risiko penjiplakan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Tadzlila.

Oleh karena itu, ia menilai ruang pamer fisik tetap penting sebagai medium apresiasi yang lebih aman dan bermakna.
Tadzlila mengakui pernah berada di fase ragu dan ingin berhenti melukis, saat itu terjadi, ia memilih tidak memaksakan diri, mengalihkan perhatian pada aktivitas lain menjadi cara untuk menyegarkan pikiran dan perasaan, hingga ide baru kembali muncul dengan sendirinya.
Meski aktif berkarya, Tadzlila tidak serta-merta melabeli dirinya sebagai pelukis. Ia melukis untuk kesenangan pribadi, lingkungan sekitar pun merespons positif, memberikan dukungan dan fasilitas agar aktivitas seninya terus berkembang.
Ke depan, Tadzlila memiliki mimpi untuk mempelajari teknik sfumato, teknik legendaris yang dipopulerkan Leonardo da Vinci dan Giorgione, ia juga optimistis terhadap masa depan seni lukis di kalangan generasi muda, terutama dengan hadirnya perpaduan antara seni tradisional dan digital.
Pengalaman paling berkesan sejauh ini adalah saat karyanya dipamerkan secara langsung dalam Banjarmasin Art Week 2024, meski hanya satu karya dan satu kali keikutsertaan, momen tersebut menjadi tonggak penting ruang pertemuan antara karya, seniman, dan publik.
Bagi Tadzlila, melukis adalah ruang pulang, tempat untuk menyembuhkan diri, meluapkan lelah, dan menyegarkan batin di tengah kesibukan hidup.
“Saya berpesan kepada anak muda yang ingin menekuni seni lukis, untuk percaya diri, konsisten mengembangkan diri, dan tidak takut pada penilaian orang lain,” katanya
Nurlita Tadzlila Wijayanti juga menegaskan pentingnya menjaga orisinalitas tidak menjiplak karya orang lain dan tidak menggunakan AI dalam proses penciptaan seni. (*)




