Sektor perkebunan dan peternakan di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang strategis bagi ketahanan pangan daerah tengah menghadapi tantangan serius, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang sangat terbatas.
BANJARBARU, koranbanjar.com – Untuk mengatasi kendala fiskal ini, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel mengambil langkah berani dengan mengubah paradigmanya, dari sekadar regulator menjadi fasilitator dan sales investasi.
Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi yang akrab disapa Mamik mengakui bahwa anggaran yang dialokasikan untuk dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya pada tahun 2025 hanya berkisar Rp31 miliar.
Jumlah ini dinilai jauh dari cukup untuk menunjang pengembangan komoditas vital seperti sawit, karet, kopi, sapi, dan unggas secara maksimal.
“Dengan support anggaran yang ada, saya kira anggarannya sangat terbatas. Oleh karena itu kami berusaha bagaimana menutupi keterbatasan anggaran melalui peran mitra kerja baik dari CSR produktif maupun investasi,” tegas Mamik saat sosialisasi program prioritas 2026-2029 di Aula Disbunnak Kalsel, Banjarbaru, Kamis (11/12/2025).
Mamik secara lugas menyatakan bahwa Disbunnak Kalsel tidak akan bergantung pada APBD. Ia mengubah narasi peran dinasnya.
“Peran kami hanya menstimulus, membina dan mengawasi. Yang membesarkan adalah investasi.” ujarnya.
Inovasi pendanaan yang ditempuh Disbunnak Kalsel untuk merealisasikan 5 program prioritas ambisiusnya adalah pola investasi dengan mengemas 5 program unggulan sebagai produk investasi yang menarik bagi pemodal swasta.
Keterlibatan mitra, aktif mencari modal dan bantuan melalui kemitraan strategis. Mengoptimalkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) perusahaan untuk kegiatan yang menghasilkan keuntungan dan bersifat berkelanjutan.
“Mayoritas untuk membangun perkebunan dan peternakan adalah dari sumber dana tadi. Kalau dari APBD mohon maaf sangat minim,” sebutnya.
Mamik mengungkapkan bahwa 5 program prioritas yang akan direalisasikan 2026-2029 telah dirancang dengan daya tarik komersial agar menarik modal swasta.
Program-program tersebut adalah P2SBPTKP (Pengembangan Peternakan Sapi Berkelanjutan Terintegrasi Perkebunan, Pertambangan).
Bangsibun Bakaret, korporasi karet dengan Integrasi komoditas lain.
Siti Hawa Lari ,pengembangan Itik Alabio
Bangkoding, pengembangan korporasi komoditas perkebunan selain sawit dan karet (Kopi dan Kelapa Genjah).
Program revitalisasi lahan dengan Kelapa Genjah yang terintegrasi dengan peternakan untuk tujuan ekspor.
Semua program ini kini dipromosikan melalui DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu).
“Kami bersama Gubernur dan Bappeda, InsyaAllah dengan program prioritas ini yang kami jual untuk para investor terutama melalui DPMPTSP. Nanti bisa dicek berapa investasi Disbunnak Kalsel,” lanjut Mamik.
Ia menambahkan bahwa mayoritas masyarakat pasti tertarik dengan investasi yang menguntungkan.
Dengan strategi ini, Disbunnak Kalsel membuktikan komitmennya untuk tetap mendorong pembangunan sektor vital daerah secara efektif dan efisien, meskipun menghadapi keterbatasan fiskal yang signifikan. (yon/bay)













