Mereka yang Berhasil Melawan Diri Sendiri

Ratusan perserta fun run Bulan K3 Adaro. (Foto: Adaro/Koranbanjar.com)

Kumandang subuh berbunyi. Memecah dinginnya pagi di Tanjung yang baru saja reda dari hujan sekelebat, Sabtu (14/2/2026). Asholatu khairum minan naum diserukan dua kali. Menegaskan bahwa salat lebih baik daripada tidur.

TABALONG, koranbanjar.com – Kaum muslim bergegas mencari sumber suara adzan terdekat. Termasuk para peserta fun run Bulan K3 Adaro. Meski waktu start lari berdekatan dengan solat subuh, ibadah tetap yang utama. Sepatu lari ditanggalkan. Solat subuh ditunaikan.

Selepas subuh suasana berubah cepat. Lapangan Tanjung Expo Center yang sebelumnya tenang mulai riuh. Dipenuhi oleh antusiasme ratusan peserta. Tercatat peserta fun run dari Adaro sendiri sebanyak 549 peserta terdaftar. Ini belum terhitung peserta lainnya baik dari mitra kerja, komunitas, dan kalangan umum yang turut meramaikan.

Sebelum memulai langkah, pemanasan dilakukan, sambutan manajemen Adaro disampaikan. Setelahnya, para peserta mulai sibuk menyiapkan jam tangan atau ponselnya masing-masing. Mengatur agar aktivitas lari pada pagi itu terekam dan tersimpan sebagai kenangan.

Waktu start akhirnya menyesuaikan. Tepat pukul enam, sekitar tiga puluh menit dari jadwal awal, Wakil Bupati Tabalong Habib Muhammad Taufani Alkaf mengangkat bendera melepas para peserta. Confetti popper meletus. Suasana pecah meriah.

Pelari 21K melesat lebih dulu. Di belakangnya 10K, lalu gelombang 5K bergerak seperti arus yang baru dibuka bendungannya.

Jalan menuju perempatan Nan Sarunai pagi itu penuh. Sebagian jalur disesaki deru langkah ratusan peserta. Kilatan lampu kamera dari para juru foto bergantian memotret peserta yang sudah siap dengan gaya andalannya.

Tahun 2026 ini, untuk pertama kali half marathon hadir di fun run Bulan K3 Adaro. Setelah sebelumnya hanya jarak 10K dan 5K. Seluruh peserta wajib mengantongi surat keterangan sehat dari dokter untuk memastikan peserta dalam kondisi fit.

Peserta jarak 5K akan berputar arah di perempatan Nan Sarunai dan kembali ke Tanjung Expo. Peserta 10K akan masuk lebih dalam menuju Gedung Rektorat STIT Syekh Muhammad Nafis, berputar arah kemudian kembali ke Tanjung Expo.

Cerita berbeda datang dari peserta lari jarak 21K. Bagi peserta half marathon, selain jarak tempuh yang lebih jauh, peserta juga harus menghadapi track naik dan turun. Naik turunan sepanjang Nan Sarunai mungkin belum jadi masalah, mengingat masih track awal. Namun, jalan naik dekat perempatan pasar Plambon jadi tantangan tersendiri.

Napas terengah-engah yang mulai terdengar, langkah mengecil, dan para peserta yang harus berlari melawan dirinya sendiri.

Water station jadi oase. Relawan menyodorkan air, minuman isotonik, potongan semangka, hingga spons air dingin. Beberapa pelari berhenti sebentar, menempelkan spons di leher, lalu melanjutkan dengan langkah lebih pelan.

Di titik-titik tertentu, ada yang mulai pincang. Kram datang tanpa permisi. Sebagian duduk di tepi jalan, sebagian dipapah. Tim medis sigap. Cooling spray disemprotkan, otot ditekan perlahan, bahkan ada yang harus dievakuasi kembali ke Tanjung Expo untuk penanganan lebih lanjut.

Namun mayoritas tetap memilih melanjutkan. Karena di half marathon, lawannya bukan jarak. Melainkan keputusan untuk lanjut atau henti. Rute memutar hingga Tanta, Sulingan, Masjid Agung, Tugu Obor, Masjid Hajjah Noor Fauziah Haji Supian lalu kembali. Matahari sudah naik ketika pelari mulai kembali berdatangan.

Tidak semua berlari saat mencapai garis finis. Banyak yang hanya berjalan cepat. Tapi wajah mereka memancarkan perasaan yang sama, lega.

Sepatu yang sebelumnya ditanggalkan untuk menunaikan solat, kini mencapai garis finis. Sepatu itu kini telah dipenuhi keringat perjuangan dan cerita kebersamaan.

Di garis finis, senyum mereka terpancar, sumrigah. Akhirnya mereka berhasil melawan dirinya sendiri. (bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *