Banjar  

Lebih Setengah Bulan Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar Tampung Warga Pengungsian Banjir

Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar dipenuhi warga terdampak banjir, Kamis (15/1/2026). (Sumber Foto: Saukani/koranbanjar.com)

Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar membuka aula sebagai lokasi pengungsian bagi warga terdampak banjir

BANKAR,koranbanjar.com – Aula dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian sejak 27 Desember 2025, atau sehari sebelum pelaksanaan 5 rajab dan sebelum ditetapkannya masa Tanggap Darurat.

Langkah tersebut diambil sebagai respons darurat atas meningkatnya debit air di sejumlah wilayah.

Dengan demikian hingga hari ini, Kamis (15/1/2026), sudah lebih setengah bulan atau 19 hari aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar dipergunakan warga terdampak banjir.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Tisnohadi Harimurti, menjelaskan bahwa pembukaan pengungsian dilakukan pada malam hari sekitar pukul 20.00 Wita setelah pihaknya menerima permintaan dari aparat setempat yaitu Pambakal Desa Bincau Martapura.

“Kami diminta memfungsikan aula sebagai tempat pengungsian, karena kondisi darurat, malam itu juga langsung kami buka setelah berkoordinasi dengan pimpinan dan instansi terkait,” ujarnya saat ditemui dan konfirmasi di ruang kerjanya pada Kamis (15/1/2026).

Tisnohadi menyampaikan sejak dibuka, jumlah pengungsi bersifat fluktuatif karena ada warga yang datang dan kembali ke rumah masing-masing, dan hingga saat ini, tercatat 142 jiwa masih bertahan di lokasi pengungsian.

“Dari jumlah tersebut terdiri atas 115 orang dewasa, 9 lansia, 9 anak usia 6–12 tahun, dan 9 balita,” jelas Tisnohadi.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Tisnohadi Harimurti, Kamis (15/1/2026). (Sumber Foto: Saukani/koranbanjar.com)

Para pengungsi tidak seluruhnya dari satu desa tetapi berasal dari beberapa desa di wilayah kecamatan Martapura.

Di antaranya Desa Bincau, Bincau Muara, Tunggul Irang, Labuan Tabu serta kawasan lain yang terdampak banjir, beberapa titik sepanjang wilayah yang terendam.

Terkait pemenuhan kebutuhan logistik, Tisnohadi menyebutkan bahwa sejak awal pengungsian, kebutuhan makan disuplai oleh dapur umum Pemkab Banjar, namun pada 27–30 Desember, bantuan datang dari posko dan dapur umum haul 5 Rajab, seiring belum ditetapkannya status tanggap darurat saat itu.

“Setelah status tanggap darurat ditetapkan oleh Bupati, suplai logistik kemudian ditangani oleh BPBD dan Dinas Sosial melalui dapur umum,” katanya.

Saat ini, kebutuhan makan pagi dan malam pengungsi disuplai oleh Dapur Umum Dinas Sosial, sementara makan siang berasal dari pihak lain yaitu MBG

Selain itu, Dinas Pendidikan juga sesekali menyediakan konsumsi tambahan seperti nasi goreng dan bakso.

Pengungsian di aula Dinas Pendidikan memiliki kapasitas hingga 200 orang, selama masa operasional, jumlah pengungsi terbanyak pernah mencapai 160 jiwa.

Tisnohadi menegaskan tidak ada batas waktu pengungsian selama status tanggap darurat masih berlaku, warga dipersilakan keluar masuk sesuai kondisi rumah masing-masing.

“Kami tidak membatasi, kalau warga merasa rumahnya sudah aman dan layak ditinggali, silakan kembali, namun tempat pengungsian tetap kami buka,” imbuhnya.

Dari sisi kesehatan, pengelola pengungsian juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Dari data yang dikumpulkan beberapa pengungsi diketahui memiliki kondisi kesehatan khusus, seperti penderita stroke dan ibu hamil.

“Petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan dan PMI rutin melakukan pemantauan secara periodik, kami juga memiliki contact person untuk penanganan cepat jika ada keluhan mendadak,” pungkasnya. (kan/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *