Kondisi Memprihatinkan Masjid Agung Miftahul Ihsan Banjarmasin, Tak Terawat hingga Kerap Terjadi Pencurian

Kondisi terkini Masjid Agung Miftahul Ihsan Banjarmasin. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Kondisi Masjid Agung Miftahul Ihsan Banjarmasin dilaporkan semakin memprihatinkan. Masjid milik Pemerintah Kota Banjarmasin yang juga menjadi salah satu ikon Kota Seribu Sungai itu disebut tidak terawat, minim pengelolaan, hingga kerap mengalami pencurian fasilitas.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Informasi tersebut disampaikan sumber terpercaya kepada koranbanjar.com yang meminta identitasnya dirahasiakan. Menurutnya, kondisi memalukan itu telah berlangsung sejak tahun 2023 hingga sekarang.

“Sejak tahun 2023 mulai muncul persoalan serius dalam pengelolaan masjid. Kebersihan tidak maksimal, banyak sarana dan fasilitas rusak, serta penataan yang terkesan asal-asalan,” ungkap sumber tersebut.

Seiring berjalannya waktu, lanjut dia, persoalan kian bertambah dengan terjadinya sejumlah kehilangan fasilitas masjid. Beberapa barang yang dilaporkan hilang di antaranya satu unit AC berdiri, dua unit kamera pengawas (CCTV), hingga uang dalam celengan masjid.

Tak hanya itu, sejak sekitar tiga tahun terakhir, sejumlah pihak yang selama ini berkontribusi langsung terhadap aktivitas masjid juga tidak lagi menerima infak maupun insentif bulanan.

Mereka meliputi pendakwah, khatib, marbot, petugas kebersihan, penjaga malam, hingga petugas penata sandal jemaah saat salat Jumat.

“Sudah hampir tiga tahun mereka tidak mendapatkan kompensasi apa pun, baik berupa infak maupun insentif. Mereka hanya mengandalkan kepedulian jemaah yang datang, itupun jumlahnya tidak seperti dulu,” bebernya.

Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya aktivitas di Masjid Agung Miftahul Ihsan. Sumber menyebutkan, sejak tiga tahun terakhir hampir tidak ada lagi penyewaan ruang induk masjid untuk kegiatan keagamaan maupun acara lainnya.

“Masjid ini sekarang sepi, seperti anak kehilangan induknya. Tidak terarah dan pengelolaannya kacau,” katanya.

Lebih memprihatinkan lagi, disebutkan terjadi konflik internal di tubuh pengurus pengelola masjid. Akibatnya, tidak lagi dilaksanakan rapat-rapat pengurus, baik untuk pembahasan program, laporan pertanggungjawaban, maupun transparansi keuangan masjid.

“Tidak pernah lagi ada rapat soal anggaran, pemasukan masjid, baik dari celengan, dana hibah, maupun sumbangan jemaah atau masyarakat,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, sumber meminta Pemerintah Kota Banjarmasin turun tangan dengan melakukan audit menyeluruh terhadap pengelolaan Masjid Agung Miftahul Ihsan.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Masjid Agung Miftahul Ihsan ini? Kami mohon Pemko Banjarmasin segera melakukan audit agar masjid kembali terkelola dengan baik,” pintanya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan koranbanjar.com di lapangan, terdapat sekitar 20 buah celengan yang tersebar di berbagai sudut masjid. Namun, hanya sebagian kecil yang tampak terisi, itupun dengan jumlah yang relatif sedikit.

“Sekarang hanya beberapa celengan yang terisi, banyak yang kosong, tidak seperti dulu,” ujar salah satu jemaah yang mengaku juga membantu kebersihan masjid, usai ditemui wartawan.

Hingga berita ini diterbitkan, koranbanjar.com masih berupaya meminta klarifikasi dan konfirmasi dari Pengurus Pengelola Masjid Agung Miftahul Ihsan Banjarmasin terkait kondisi tersebut. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *